Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Prometheus, Api, dan Kesunyian: Hikmah Humor dan Pencurian (15)

Alfi Saifullah by Alfi Saifullah
04/05/2026
in Cecurhatan
Prometheus, Api, dan Kesunyian: Hikmah Humor dan Pencurian (15)

Prometheus dan api

Di puncak Gunung Olympus, para dewa terlelap dalam kemewahan abadi—ambrosia mengalir, tawa bergaung, dan kekuasaan terasa begitu pasti. Sementara di sudut nan jauh, seorang Titan berdiri menatap dunia manusia dengan mata yang nanar. Mata yang tidak pernah benar-benar bisa beristirahat. Titan itu bertubuh tinggi, menjulang dengan rambutnya yang bergelombang bak ganasnya ombak samudera.

Titan itu adalah Prometheus. Putra Lapetus dan Clymene.

Tidak seperti dewa-dewa lain yang memandang manusia sebagai makhluk nan rapuh—hanya pantas tunduk. Prometheus sebaliknya. Ia melihat dengan kacamata berbeda—sebuah percikan kecil tentang harapan. Potensi. Juga masa depan manusia.

Di bawah sana, manusia hidup diselimuti kegelapan. Gelap gulita menutupi samudera raya. Kegelapan mendahului adanya cahaya fisik dan melambangkan kekacauan dan ketiadaan bentuk sebelum diatur oleh Tuhan. Manusia menggigil di malam hari, bersembunyi dari dingin, takut akan bayangan yang mereka sendiri tidak mengerti. Mereka memakan makanan mentah, berbicara dengan suara lirih, dan tak ubahnya mati tanpa pernah benar-benar hidup. Dunia mereka adalah dunia tanpa cahaya.

Sebagai pencipta atau pelindung manusia, Prometheus tidak tahan melihatnya.

“Kenapa kau harus peduli?” suara berat tiba-tiba datang dari belakangnya. Dingin, penuh kuasa.

Prometheus tidak perlu menoleh untuk tahu darimana suara itu berasal. Sosok dengan tubuh yang tinggi menjulang berdiri di belakang Promotheus. Ia tegap dan berotot, memancarkan kekuatan yang seolah tak terbatas. Kulitnya bercahaya seperti kilat, dengan janggut lebat dan rambut panjang berwarna keperakan, berkibar pelan seperti awan sebelum badai. Kedua bola matanya tajam, berwarna biru keemasan, menyimpan wibawa sekaligus ancaman bagi siapa pun yang berani menentangnya.

Dialah Zeus, maharaja Dewa di Olympus. Bukan hanya raja, dialah personifikasi hukum itu sendiri. Dalam keadaan tenang, suaranya dalam, bergetar, seperti gemuruh jatuh di langit—menenangkan, sekaligus membuat gentar. Ketika amarahnya bangkit, seluruh alam semesta seakan ikut bergetar.

“Aku tidak peduli,” jawab Prometheus pelan. “Aku hanya tidak bisa menutup mata akan kesengsaraan manusia.”

Zeus mendengus pelan. “Manusia tidak membutuhkan api. Mereka akan menjadi terlalu kuat. Terlalu berani. Mereka akan lupa siapa yang berkuasa.”

Prometheus tersenyum tipis. “Atau mungkin mereka akan belajar hidup?”

Hening sesaat. Angin berhembus pelan, membawa aroma awan dan petir yang menciutkan nyali.

“Jangan lakukan apa pun yang bodoh, Prometheus,” ujar Zeus sebelum akhirnya berlalu.

—0—

Dalam sejarahnya, beberapa Keputusan memang lahir dari keberanian. Melesat dari ketidakmampuan untuk diam. Dan malam itu, Prometheus harus memilih. Ia bergerak tanpa suara. Langkahnya ringan, seperti bayangan yang menyelinap di antara cahaya. Di pusat Olympus, api para dewa menyala abadi—terang, hangat, dan penuh kekuatan. Api itu bukan sekadar nyala. Ia adalah symbol pengetahuan, peradaban, dan harapan.

Prometheus berdiri di depannya. Untuk sesaat, ia ragu. Bukan karena takut. Tetapi karena ia tahu, setelah ini, tidak akan ada jalan kembali. Ia mengulurkan tangannya. Api itu menari-nari, seolah mengenali sesuatu dalam diri Prometheus. Dengan hati-hati, ia mengambil percikan kecil dan menyembunyikannya dalam batang fennel yang ia bawa.

Cahaya kecil itu berpendar, redup tetapi hidup. Dan untuk pertama kalinya, Prometheus merasa dunia berubah. Perjalanannya turun ke bumi terasa lebih panjang dari biasanya. Angin dingin menerpa wajahnya, seolah memperingatkan. Langit gelap tanpa bintang, dan di bawah sana, manusia masih terlelap dalam ketidaktahuan.

Ia mendarat di sebuah lembah kecil. Seorang anak sedang menangis, tubuhnya gemetar kedinginan. Di dekatnya, seorang ibu mencoba menghangatkan anak itu dengan pelukan yang sudah tidak cukup. Prometheus mendekat.

“Ambillah,” katanya pelan, suaranya hampir seperti bisikan angin.

Ia membuka batang fennel itu. Cahaya memancar. Kecil, tetapi cukup untuk mengusir gelap. Manusia-manusia itu mundur, takut. Mereka belum pernah melihat sesuatu seperti itu. Api kecil itu berdenyut, hidup, seolah memiliki jiwa.

“Jangan takut,” ujar Prometheus. “Ini adalah hadiah.”

Perlahan, seorang lelaki mendekat. Tangannya gemetar saat ia mencoba menyentuh cahaya itu. Hangat.

Matanya membesar.

“Ini… hidup,” bisiknya.

Prometheus tersenyum.

“Dengan ini, kalian bisa memasak, menghangatkan diri, membuat alat, dan melihat dunia dengan cara yang baru.”

Api itu kemudian menyebar. Dari satu tangan ke tangan lain. Dari satu rumah ke rumah berikutnya. Dalam waktu singkat, malam tidak lagi sepenuhnya gelap. Dan untuk pertama kalinya, manusia tertawa tanpa rasa takut.

Prometheus berdiri di kejauhan, memandang hasil dari satu keputusan sederhana. Ia tahu, ia telah melakukan sesuatu yang tidak akan pernah dimaafkan. Namun ia juga tahu, ia tidak akan pernah menyesal.

Sejurus kemudian. Tiba-tiba petir menyambar. Langit terbelah oleh amarah.

Zeus berdiri di puncak Olympus, matanya menyala seperti badai yang tak terbendung.

“Prometheus!”

Suara itu mengguncang langit dan bumi. Zeus tahu, Prometheus tidak melarikan diri. Hanya berdiri tegak. Wajah Zeus mengeras, urat-urat di lengannya menonjol seperti akar pohon tua yang mencengkeram bumi. Matanya menyala terang, memancarkan kilatan seperti petir yang hendak menyambar. Langit yang tadinya cerah berubah gelap gulita; awan berkumpul tebal, berputar-putar di atas kepalanya seperti pasukan yang menunggu perintah perang.

Tidak ada penyesalan di mata Prometheus, hanya ketenangan yang aneh.

“Kau mencuri dari para dewa,” kata Zeus, suaranya dingin seperti kematian.

“Aku memberi kepada manusia,” jawab Prometheus.

“Itu sama saja.”

“Tidak,” katanya tegas. “Itu berbeda!”

Hening. Tegang. Berat. Zeus melangkah mendekat. “Kau memilih manusia daripada kami.”

Prometheus menggeleng. “Aku memilih masa depan.”

Dan itu adalah kalimat terakhir sebelum hukuman dijatuhkan. Zeus melepaskan murkanya. Petir menyambar ke dada Prometheus dengan kekuatan yang menghancurkan. Gunungpun dapat terbelah, laut dapat bergolak, dan manusia hanya bisa gemetar menyaksikan kedahsyatan yang tak mampu mereka pahami. Pada saat itu, Zeus bukan lagi sekadar raja para dewa—ia adalah perwujudan dari kekuatan alam yang paling liar dan tak terkendali.

Prometheus dirantai di puncak Gunung Kaukasus yang sunyi. Ia dirantai pada sebuah tebing batu yang curam dan terpencil. Tangan dan kakinya dibelenggu dengan rantai yang tak bisa diputuskan, bahkan oleh kekuatan seorang Titan sekalipun. Angin di sana tidak pernah berhenti berhembus. Dingin menusuk setiap ruas kulit Prometheus.

Setiap hari, seekor elang datang. Mencabik perutnya, memakan hatinya perlahan-lahan. Dan setiap malam, luka itu sembuh, hanya untuk diulang kembali. Namun di antara siklus penderitaan itu, Prometheus sering menatap ke kejauhan—Ke dunia manusia. Di sana, ia melihat Api yang kini menyala di mana-mana. Manusia tidak lagi hidup dalam kegelapan. Mereka belajar, berkembang, dan perlahan mengubah dunia.

Prometheus tersenyum, meski tubuhnya tersiksa. Ia menjadi simbol perlawanan terhadap tirani dan pengorbanan demi kemajuan umat manusia. Karena pada akhirnya, rasa sakit itu tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan harapan bagi seluruh umat manusia.

Tags: Humor dan Hikmah Santri
Previous Post

Pendidikan Indonesia dan Tantangan terhadap Dunia Kerja

BERITA MENARIK LAINNYA

Pendidikan Indonesia dan Tantangan terhadap Dunia Kerja
Cecurhatan

Pendidikan Indonesia dan Tantangan terhadap Dunia Kerja

03/05/2026
Hukum atau Senjata?
Cecurhatan

Hukum atau Senjata?

02/05/2026
Perubahan Iklim dan Kita Terlambat Lagi
Cecurhatan

Perubahan Iklim dan Kita Terlambat Lagi

30/04/2026

Anyar Nabs

Prometheus, Api, dan Kesunyian: Hikmah Humor dan Pencurian (15)

Prometheus, Api, dan Kesunyian: Hikmah Humor dan Pencurian (15)

04/05/2026
Pendidikan Indonesia dan Tantangan terhadap Dunia Kerja

Pendidikan Indonesia dan Tantangan terhadap Dunia Kerja

03/05/2026
Hukum atau Senjata?

Hukum atau Senjata?

02/05/2026
May Day 2026: Aliansi Buruh Bojonegoro Desak Negara Hadir Lindungi para Pekerja

May Day 2026: Aliansi Buruh Bojonegoro Desak Negara Hadir Lindungi para Pekerja

01/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: