Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Kiai Abdul Jalil Mbatu: Plang Roboh dan Ilmu yang Tak Butuh Dibranding

Alfi Saifullah by Alfi Saifullah
09/07/2025
in Figur
Kiai Abdul Jalil Mbatu: Plang Roboh dan Ilmu yang Tak Butuh Dibranding

KH Muhammad Abdul Jalil Mbatu (1943 - 2018)

Tangan transparan ini semakin tak berkesempatan, terpenjara dalam ketakutan akan ditinggalkan, hanya keinginan sederhana untuk ditemukan. 

Memberi papan penunjuk bagi lembaga pendidikan seperti pondok pesantren, sekolah, atau Lembaga kursus, adalah hal yang lumrah. Hampir di setiap sudut jalan, kita bisa menjumpai plang bertuliskan: “50 meter lagi Pondok Pesantren Sabilul Huda” atau “Madrasah Ibtidaiyah Takmiliyah, 100 meter”, dan berbagai macam lainnya.

Meski lumrah, namun tidak berlaku bagi Abah Jalil—panggilan akrab KH. Muhammad Abdul Jalil, pengasuh Pondok Pesantren Manbaul Ulum (PPMU), Sidomulyo, Batu. Selama beliau memimpin pondok, belum pernah sekalipun saya mendapati adanya papan petunjuk menuju PPMU.

Tidak ada plang, tidak ada penanda. Seolah pondok ini hanya ingin diam. Tak ingin ditemukan kecuali bagi mereka yang benar-benar ingin belajar. Ada seuntai kisah tentang Abah Jalil dengan plang.

―0―

Jam dinding menunjukkan pukul 21.01 WIB. Sekitar tiga puluh detik kemudian, suara bel berbunyi—tanda bahwa pelajaran diniyah telah usai. Para guru menutup kitabnya. Para santri kembali ke kamar masing-masing, membawa sisa-sisa pelajaran yang mungkin belum sempat mereka hafal.

Lima belas menit kemudian, bel kembali berdentang: tanda dimulainya kegiatan syawir, sebuah tradisi belajar bersama ala pesantren. Saya sudah bersiap membawa beberapa kitab untuk dimusyawarahkan bersama teman-teman.

Baru saja kaki ini melangkah keluar dari kamar Al-Ikhlas menuju kelas, tiba-tiba Kang Jari sudah berdiri di hadapan saya—entah dari mana datangnya.
“Al, ditimbali Abah!” (al, kamu dipanggil Abah), katanya singkat.
“Iyo, Kang,” (Iya mas), jawab saya.

Kitab segera kami letakkan kembali ke lemari, lalu melangkah menuju kamar pribadi KH. Muhammad Abdul Jalil. Kamar itu terletak paling belakang di bagian ndalem beliau, tepat berseberangan dengan rumah Gus Abdul Aziz, sang menantu.

Kamar Abah sangat sederhana, bahkan boleh dibilang sempit—ukurannya hanya 1×2 meter. Amburadul, tapi penuh makna. Kitab-kitab bertumpuk di sana-sini, sementara baju, sorban, dan kopiah tergantung seadanya di tembok yang dipenuhi paku. Sepi. Dingin.

Saya pun mencium tangan beliau, lalu segera menyalakan kompor yang tak jauh dari pintu kamar, untuk membuatkan kopi favorit Abah—kopi klangenan. Satu sendok teh untuk satu gelas jumbo.

Setelah kopi siap, Abah mengajak kami kongkow, biasanya hingga lewat tengah malam. Sejurus kemudian Abah menyalakan Rokok Surya 16. Asap mengepul, melingkar dalam keheningan malam.

Melihat momen yang pas, saya memberanikan diri bertanya,
“Bah, menopo kok pondok mboten didamelaken plang, kados pondok-pondok sanes? Supados tiyang-tiyang ngertos bilih mriki pun wonten pondok?”

(Bah, kenapa pondok ini tidak dipasangi plang, seperti halnya pondok-pondok lainnya? Supaya orang tahu bahwa di sini ada pondok.)

Abah menghembuskan asap rokok, lalu menjawab dengan tenang,
“Ngene, Al. Mbiyen aku wis tau masang plang. Roboh. Tak pasang maneh, ambyuk maneh. Akhire tak aturno nang Abah, jare: ora usah dipasang plang. Mula aku yakin, yen nèk kéné pancèn panggoné ilmu, mesti bakal diparani wong-wong sing nggolek ilmu. Tapi nèk dudu panggoné ilmu, ya ora bakal ono wong teka. Mula, Al… aku ikhlas, dino iki, detik iki, pondok iki bubar, nèk pancèn kéné dudu panggoné ilmu.”

(Begini, Al. Dulu saya pernah memasang plang. Tapi roboh. Saya pasang lagi, roboh lagi. Akhirnya saya konsultasikan pada Abah Kiai Muhtadi, dan beliau bilang: tidak usah dipasang. Maka saya yakin, kalau di sini memang tempatnya ilmu, pasti akan didatangi orang-orang yang mencari ilmu. Tapi kalau bukan tempat ilmu, tidak akan ada yang datang. Maka Al, saya ikhlas—hari ini, detik ini—pondok ini bubar, jika memang tempat ini bukan tempatnya ilmu.)

―0―

Dari perkataan Abah Jalil tersebut terungkap jelas kepribadiannya, tidak mementingkan penampilan luar. Apalagi sibuk membenahi citra diri. Tidak. Yang ia rawat adalah esensi dan substansi seorang ulama: kualitas ilmu. Ia percaya betul, bila di suatu tempat mengalir ilmu, maka pencari ilmu akan datang dengan sendirinya—tanpa perlu plang atau slogan-slogan.

Abah Jalil menganut falsafah yang mungkin sederhana―tapi dalam. Untaian kebijaksanaan yang acapkali kita dengar: timba mencari sumur, bukan sumur yang mencari timba. Bagi Abah Jalil, ilmu tak ubahnya air sumur yang tenang namun jernih. Air yang akan selalu dicari oleh timba-timba. Tanpa harus mengiklankan diri sebagai orang alim. Namun, Allah akan menggerakkan para penuntut ilmu untuk datang.

Prinsip yang Abah Jalil lakukan, sangat kontras dengan fenomena yang berkembang hari ini. Lembaga pendidikan acapkali lebih sibuk memoles, branding, mempercantik tampilan luar, terutama saat masa penerimaan murid baru. Karena mereka lebih percaya, bahwa yang terlihat menarik berarti yang terpercaya. Bahwa branding selalu tegak lurus dengan isi. Dan kemasan adalah jaminan mutu. Padahal, kemasan sering menipu. Ia bisa membungkus apa saja, bahkan yang paling buruk sekalipun.

Pada gilirannya, Abah Jalil tidak menolak publikasi dalam bentuk apapun. Bukan karena tidak mampu―ia hendak mengajarkan bahwa ilmu tidak pernah tumbuh dari publikasi. Bahwa plang tidak serta merta membuat tempat menjadi penting. Ia hanya sekadar menandainya.

Dan organisasi, institusi, bahkan individu sekalipun, tidak harus menunjuk dirinya sendiri untuk menjadi berarti. Karena yang dicari akan ditemukan. Yang otentik akan dikenang. Dan yang bermakna akan datang, meski tanpa tanda. Wallau a’lam.

Tags: Genealogi Ulama JatimKH Muhammad Abdul Jalil BatuKiai Abdul Jalil Mbatu
Previous Post

Untuk Mewujudkan Kualitas Pendidikan di LP Ma'arif NU, Unugiri Gelar Workshop

Next Post

Stabilitas Mata Uang dalam Islam: Menyoal Fluktuasi Uang Kertas di Era Modern

BERITA MENARIK LAINNYA

Yanto Penceng, Seniman Serbabisa dari Gang Sedeng Bojonegoro
Figur

Yanto Penceng, Seniman Serbabisa dari Gang Sedeng Bojonegoro

13/12/2025
Terimakasih, Prof. Dr. Fuad Hasan!
Figur

Terimakasih, Prof. Dr. Fuad Hasan!

12/12/2025
Prof. Dr. Abdus Salam, Ilmuwan Muslim Pertama yang Meraih Hadiah Nobel Fisika
Figur

Prof. Dr. Abdus Salam, Ilmuwan Muslim Pertama yang Meraih Hadiah Nobel Fisika

02/12/2025

Anyar Nabs

Pelajaran dari Luka yang Sama

Pelajaran dari Luka yang Sama

15/01/2026
Insiden Tendangan Kung Fu di Sepak Bola dan Rekomendasi Film Tentang Kung Fu

Insiden Tendangan Kung Fu di Sepak Bola dan Rekomendasi Film Tentang Kung Fu

15/01/2026
Pastikan Akses Pendidikan, Upaya Tingkatkan IPM Bojonegoro

Pastikan Akses Pendidikan, Upaya Tingkatkan IPM Bojonegoro

14/01/2026
Tambang Emas Ra Ritek: Suara Warga Trenggalek Terhadap Tambang Emas dalam Balutan Film Dokumenter

Tambang Emas Ra Ritek: Suara Warga Trenggalek Terhadap Tambang Emas dalam Balutan Film Dokumenter

14/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: