Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Kiai Tatron: Ketika Tanah Liat Menjadi Logam Mulia

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
24/05/2024
in JURNAKULTURA
Kiai Tatron: Ketika Tanah Liat Menjadi Logam Mulia

Ilustrasi: Hikayat Kiai Tatron Padangan

Hikayat kiai alkemis bukan sekadar kisah perubahan kayu menjadi besi atau tanah menjadi emas. Namun tentang emas yang kembali menjadi tanah, ketika digenggam dengan niat yang salah. 

Ada masa ketika logam mulia tak berarti kekayaan, sementara segenggam tanah justru menyelamatkan kehidupan. Para bangsawan pada zaman itu begitu rajin berperang, sampai lupa bahwa perang juga butuh dapur. Cangkul dilebur jadi tombak, wajan ditempa jadi perisai, dan rakyat kecil pulang dari ladang dengan tangan kosong. Di tengah kesusahan itulah beredar kabar tentang para kiai alkemis yang bisa mengubah kayu jadi besi, tanah jadi emas, dan emas kembali jadi tanah liat.

Hikayat Padangan menuturkannya sebagai teguran keras pada para penguasa yang sibuk berebut tahta. Mereka merampas harta rakyat untuk membiayai peperangan, maka para kiai membalik harganya: yang dipuja penguasa dijadikan tanah, yang diinjak rakyat dijadikan berharga. Teguran itu tak berteriak. Namun cukup membuat para penguasa menundukkan kepala.

Syahdan, pasca Perjanjian Giyanti 1755, Pangeran Mangkubumi tampil menjadi Sultan Hamengkubuwana I, penguasa Kesultanan Yogya. Dan Sunan Suryadi (Pakubuwana III) berkuasa di Kasunanan Surakarta. Namun perang tak juga berakhir. Raden Said Mangkunegara yang merupakan ponakan Hamengkubuwana I sekaligus sepupu Sunan Pakubuwana III, menolak damai. Tiga turunan Amangkurat itu masih saling bersaing.

Mangkubumi (Hamengkubuwana I) merupakan keturunan ke-3 Amangkurat Kapisan. Sunan Suryadi (Pakubuwana III) adalah keturunan ke-4 Amangkurat Kapisan. Sementara Raden Said Mangkunegara merupakan keturunan ke-4 Amangkurat Kapisan. Meski masih kerabat, ketiganya sibuk berebut kuasa.

Dan di bawah perebutan tahta itu, rakyat membayar ongkos perang. Hasil bumi tersedot perbekalan, desa-desa menjadi sasaran pungutan. Tak jarang, para penguasa itu datang mengambil harta penduduk untuk memenuhi kebutuhan pasukan. Perang merampas kehidupan masyarakat.

Prajurit kehabisan bekal perang, namun dipaksa terus bertempur mengejar target kemenangan, dan dengan semena-mena, mereka menjarah perkakas besi masyarakat untuk menopang kegiatan mereka. Di wilayah Jipang Padangan, para blandhong kayu kehilangan pasah dan tatah, petani kehilangan cangkul, penjala ikan kehilangan perkakasnya.

Kiai Alkemis Padangan 

Di tengah kesusahan itu, Kiai Tatron Padangan berkeliling dan membantu masyarakat dengan cara yang ganjil. Ia menemui para blandong, penjala ikan, dan petani yang mengeluh kesusahan, kemudian memegang apapun yang ada di tangan mereka, dan mengubahnya menjadi logam. Ia mengubah kayu menjadi besi, agar blandong dan petani memiliki perkakas untuk bekerja kembali.

Kabar itu membuat warga berbondong ke Kasepuhan, tempat Kiai Tatron mengajar. Di hadapannya, mereka mengeluh karena tak memiliki apapun akibat dijarah perang. Pada para janda tua yang datang membawa segenggam tanah, Kiai Tatron mengubahnya jadi emas. Saking banyaknya warga yang datang, Kiai Tatron meminta bantuan pamannya, Kiai Tamid Padangan.

Ilustrasi: Hikayat Kiai Tatron Padangan

Kiai Tamid memanggil beberapa orang berdiri berjajar, lalu menyapukan telapak tangan di atas genggaman mereka hingga tanah berubah menjadi emas. Kiai Tatron melihat dan mengikutinya. Namun, yang dipelajarinya bukan sekadar gerak tangan, melainkan cara pamannya itu dalam menjaga niat tetap bening di tengah antrean warga yang tak kunjung habis.

Walhasil warga desa yang datang dengan segenggam tanah, pulang membawa emas sebongkah. Namun kedua kiai berpesan: di tanah Kasepuhan, logam menuruti niat pemegangnya. Selama dipegang untuk menghidupi, ia tetap logam. Begitu dibawa atau digenggam untuk menimbun dan merampas, ia kembali menjadi tanah liat.

Konon terdapat satu warga yang tak percaya dengan pesan itu. Malam itu, di sebuah gubuk singgah di pelataran Kasepuhan, ia menimang buntalan sambil berpikir, “kalau kusimpan, cukup untuk tujuh turunan.” Pikiran itu belum selesai ketika emas di telapak tangannya berubah kusam. Ia menoleh ke buntalan bekalnya, lalu ke tangannya, dan hanya menemukan tanah liat.

Menegur Para Bangsawan 

Di tengah hutan, rombongan pasukan Raden Said Mangkunegara bergerak dari satu persembunyian ke persembunyian lain. Persediaan menipis, sementara perjuangan butuh biaya. Maka ketika kabar tentang dua kiai alkemis sampai di telinga mereka, tak butuh waktu lama, mereka pun bertandang mencarinya.

Rombongan Said Mangkunegara datang dari hutan persembunyian, dengan perlengkapan perang masih melekat di badan. Namun, begitu memasuki wilayah Kasepuhan, besi yang mereka bawa berubah menjadi tanah liat. Keris, parang, tombak, hingga mata cangkul rampasan dari desa-desa yang mereka lewati, kehilangan sifatnya. Merasakan kejanggalan itu, mereka pun ketakutan. Rombongan Said Mangkunegara bergegas kembali ke tengah hutan, tanpa mendapat apa yang mereka cari.

Waktu berselang, berita kejadian itu sampai pada Sunan Suryadi Pakubuwana III. Penguasa Surakarta itu pun berniat datang, berharap membawa pulang rahasia itu untuk mengisi kas perang. Akan tetapi, kejadian yang sama kembali terjadi. Begitu memasuki wilayah Kasepuhan, tembaga yang menempel pada gelang, hiasan pelana, hingga wadah sirih, berubah menjadi tanah liat. Karena takut terlucuti semua, rombongan Sunan Pakubuwana III itu pun bergegas kembali.

Kabar tentang dua rombongan yang pulang dengan tangan kosong sampai juga ke telinga Hamengkubuwana I. Penguasa Yogyakarta itu merenung sambil memutar cincin emas di jarinya. “Besi luruh, tembaga luruh,” gumamnya. “Lalu bagaimana dengan yang tak pernah berkarat?” Ia menatap cincinnya. “Kalau tanah bisa dijadikan emas, kas kerajaan tak akan kosong lagi.” Ia pun berangkat bersama para pengiring, tanpa membawa logam apa pun selain cincin itu.

Di ambang hutan, cahaya yang menembus sela dedaunan jatuh di jarinya dan membuat cincin itu berkilau. Begitu melewati batas Kasepuhan, kilau perlahan meredup. Ketika sampai di kawasan Kasepuhan, sang raja melirik. Cincin di jarinya telah kusam dan rapuh. Begitu disentuh, remah tanah jatuh dari sela jemarinya. Hamengkubuwana I bergegas mengepalkan tangan. “Ayo, pulang,” katanya lirih.

Tiga rombongan penguasa datang pada waktu berbeda, namun dengan harapan yang sama: menemukan rahasia mengubah benda. Namun alam memiliki hukum niat. Setiap kali para bangsawan datang membawa logam, justru berubah menjadi tanah liat. Mereka datang mencari cara mendapat modal untuk berkuasa, namun dipaksa menyaksikan benda yang mereka anggap berharga, kehilangan nilainya.

Pada masa itu, Kiai Tatron dan Kiai Tamid dikenal sebagai pandega dan mudaris penerus tradisi tasawuf di Kasepuhan Padangan. Kiai Tatron bin Amir bin Abdurrahman bin Saban bin Sabil adalah keturunan ke-4 Kiai Sabil Padangan. Sementara pamannya, Kiai Tamid bin Abdurrahman bin Saban bin Sabil adalah keturunan ke-3 Kiai Sabil Padangan.

Leluhur mereka, Kiai Sabil Padangan, pernah membenamkan Amangkurat Kapisan dengan lumpur saat melintas di tengah hutan, sebagai peringatan keras karena telah menindas. Begitupun Kiai Tatron dan Kiai Tamid, mereka memberi peringatan pada Sultan Hamengkubuwana I, Sunan Pakubuwana III, dan Raden Said Mangkunegara agar tak semena-mena menindas rakyat kecil.

“Kudu isa ngluhurake sing asor, lan ngasorake sing luhur” pesan Kiai Tatron pada warga. Kiai Tatron selalu berpesan bahwa di hadapan Allah, tak ada yang lebih mulia selain nilai ketakwaan. Karena itu, ia mengimbau agar masyarakat tidak pernah takut pada penguasa zalim.

Para bangsawan itu sedang menerima peringatan tegas bahwa ketika penguasa sudah berani merampas dan menginjak rakyat kecil, maka keris, harta, dan seluruh kebesaran logam mulia yang mereka kenakan akan kehilangan nilai. Yang tersisa hanya tanah liat, tempat manusia menginjakkan kaki, tempat kekuasaan akan kembali ke asalnya.

Tags: Hikayat PadanganKasepuhan PadanganKiai Alkemis PadanganKiai Tamid PadanganKiai Tatron PadanganMakin Tahu Indonesia
Previous Post

Seorang Wali yang Menjinakkan Singa Buas

Next Post

Hitam-Merah, Dwibayang Islam di Wilayah Jipang

BERITA MENARIK LAINNYA

Alkemis Kebudayaan
JURNAKULTURA

Alkemis Kebudayaan

05/10/2026
Kapak Purba Berusia 4.000 Tahun Ditemukan di Bojonegoro
JURNAKULTURA

Kapak Purba Berusia 4.000 Tahun Ditemukan di Bojonegoro

29/09/2026
Wanareksa: Pejuang Ekologis, Penjaga Rimba Jawa Utara
JURNAKULTURA

Wanareksa: Pejuang Ekologis, Penjaga Rimba Jawa Utara

21/09/2026

Anyar Nabs

Komisi C DPRD Bojonegoro Dorong Mitigasi Bencana Jangka Panjang

Komisi C DPRD Bojonegoro Dorong Mitigasi Bencana Jangka Panjang

06/10/2026
Alkemis Kebudayaan

Alkemis Kebudayaan

05/10/2026
Luncurkan Zine Langgar Penceng, Pustaka Jenggala Bahas Feodalisme dan Sikap Egaliter khas Bojonegoro

Luncurkan Zine Langgar Penceng, Pustaka Jenggala Bahas Feodalisme dan Sikap Egaliter khas Bojonegoro

04/10/2026
Bahaya Laten Hobi Mancing Mengintai Isi Kulkas Rumah Tangga

Bahaya Laten Hobi Mancing Mengintai Isi Kulkas Rumah Tangga

03/10/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: