Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Hitam-Merah, Dwibayang Islam di Wilayah Jipang

Yusab Alfa Ziqin by Yusab Alfa Ziqin
25/05/2024
in Cecurhatan
Hitam-Merah, Dwibayang Islam di Wilayah Jipang

Mesigit Jipang, pusat dakwah santri-santri Mbah Jimat Tebon

Wilayah Jipang ditutup bayangan hitam dan merah. Dwibayang itu mengaburkan eksistensi wilayah ini sebagai pusat peradaban Islam yang sentral dan krusial.

MASYARAKAT umum terutama masyarakat asli wilayah Jipang telah dijejali dengan cerita, berikut anggapan bahwa Jipang merupakan wilayah yang keramat, ganas, dan angker.

Entah sejak kapan cerita hitam yang gemerlapan itu masif dijejalkan. Yang pasti, cerita itu saat ini sukses mendikte dan membayangi pandangan masyarakat tentang identitas asli wilayah Jipang.

Beberapa cerita yang menghitamkan wilayah Jipang itu, di antaranya dongeng Adipati Jipang Arya Penangsang yang sakti namun penuh dendam dan berangasan. Dongeng ini bersumber dari dongeng Babad Tanah Jawa (1874). Ya, dongeng ini dibuat orang Belanda bernama Johanes Meinsma pada 1874 M.

Kemudian, sebuah risalah dongeng tentang setan-setan dan tempat-tempat angker di sepanjang Bengawan Jipang. Risalah ini berjudul Cariyosipun Benawi Sala (1916). Ditulis oleh Bupati Bojonegoro, Raden Arya Reksokusomo pada 1916 M.

Ensiklopedia dongeng di atas membuat besarnya peradaban Bengawan Jipang (penyambung Jawa Tengah-Jawa Timur) ini, menjadi sangat dijauhi.

Tak puas dengan penghitaman tersebut, wilayah Jipang juga dimerahkan atau dikomuniskan dan masyarakatnya dianggap tak kenal Tuhan berikut agama. Terutama, Islam.

Beberapa titik penting di wilayah Jipang yang dihitamkan dan dimerahkan, tak lain adalah pusat wilayah Jipang itu sendiri. Yaitu Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Kepala Desa Jipang Herdaru Budhy Wibowo mengemukakan, desanya memang dicap sebagai wilayah merah dan lebih dari itu: masyarakatnya dianggap tak mengenal Tuhan berikut agama. Terutama, Islam.

Sejak kapan cap tersebut melekat di desanya, kepala desa akrab disapa Hanung ini kurang tahu. Yang pasti, tutur dia, pelekatan cap dimaksud sudah berlangsung lama.

“Sejak saya masih kecil,” ujar kepala desa kelahiran 1980 ini saat ditemui Rabu (22/5/2024) lalu.

Menurut dia, cap tersebut tak benar. Masyarakat desanya memang mengamini suatu pengeramatan dan mempercayai entitas serta eksistensi ghaib yang didesuskan di wilayah desa setempat.

“Namun, itu tak lantas membuat kami menjadi merah dan berpisah dengan Islam,” tegasnya.

Berdasarkan keterangan Hanung, dapat disimpulkan bahwa masyarakat di pusat wilayah Jipang tersebut begitu toleran. Artinya, tetap mengimani Islam. Namun, tak meninggalkan keramatisme Jawa.

Terkait mengapa pusat wilayah Jipang itu dicap sebagai wilayah merah, Hanung tak tahu pasti. Namun, ada jawaban yang cukup kronologis dan dicatat dalam beberapa literatur sejarah.

Hubungan wilayah Jipang dengan merah, terjadi kala pergerakan nasional meletup di awal abad 19. Masa itu, ada Sarekat Islam (SI) Merah yang kemudian jadi Partai Komunisme Indonesia (PKI).

SI Merah atau PKI yang diorganisir Semaun dari Kota Semarang bermassa intelektualis, buruh, dan tani. Salah satunya, buruh kereta di wilayah Jipang yakni Kota Cepu yang jumlahnya banyak.

Sebab, di Kota Cepu pada masa itu berlangsung operasional stasiun sekaligus depo kereta konvensional. Juga ada operasional kereta khusus untuk aktivitas eksploitasi Kayu Jati.

Singkatnya, Kota Cepu merupakan kantong merah yang diperhitungkan karena massa buruh kereta. Namun, pada aksi PKI 1926, para komunis di Kota Cepu tak ambil peran. Sebab, aksi PKI 1926 itu fokus di Batavia.

Kota Cepu yang merah baru berperan saat aksi PKI Madiun 1948. Di masa itu, Kota Cepu jadi tempat pelarian pasukan komunis Madiun yang digempur pasukan Siliwangi dan Gatot Subroto.

Para komunis di Kota Cepu merawat dan memberi logistik untuk para rekannya dari Madiun itu. Siliwangi yang berhasil mengejar, bahkan sempat bentrok dengan pasukan komunis Madiun di Kota Cepu.

Akibat bentrok yang didominasi Siliwangi itu, pasukan komunis Madiun pun bergeser ke barat. Merangsek masuk Kota Blora. Sementara para komunis di Kota Cepu tinggal di tempat dan relatif aman.

Pada masa pemberontakan PKI 1965, cap merah untuk wilayah Jipang akhirnya tetap kuat. Namun, peran atau pergerakan para komunis tak begitu nampak. Mungkin, sudah ciut akibat gagalnya aksi 1948.

Pada 1965 itu, wilayah Jipang hanya jadi lokasi pembantaian orang-orang komunis yang dilumpuhkan. Wabil khusus di pusat wilayah Jipang, lokasi untuk itu tepatnya berada di Bengawan Sore dan Kalidari.

Di dua sungai tersebut, kata Dalhar Muhammadun selaku Ketua Dewan Kebudayaan Blora, ada sekitar 1.000 orang komunis dan dianggap komunis yang dieksekusi.

Namun, apakah rentetan aksi PKI di wilayah Jipang utamanya di Kota Cepu tersebut bisa melabeli wilayah Jipang sebagai wilayah merah? Menurut saya, memang bisa.

Tetapi tidak sampai tingkat ekstrem hingga menyangkut ke-tauhid-an masyarakat wilayah Jipang. Rentetan aksi PKI di wilayah Jipang itu merupakan manuver politik-militer, bukan agama.

Jadi, melabeli wilayah Jipang terutama pusat wilayah Jipang sebagai wilayah merah dan masyarakatnya tak kenal agama itu ganjil dan tampak melebih-lebihkan. Dan yang pasti sangat tidak ilmiah.

Kalau mau adil dan relevan, mestinya masyarakat wilayah Jipang utamanya pusat wilayah Jipang dilabeli sebagai masyarakat yang militan, kritis, dan anti feodalis.

Lebih lanjut, betapun rancu cerita tentang penghitaman dan pemerahan wilayah Jipang, nyatanya cerita-cerita itu kini telah dikonsumsi dan melekat kuat di masyarakat.

Namun, zaman berganti, dendam meredam, dan luka terobati.

Wajah Sejati Jipang 

Eksistensi wilayah Jipang sebagai pusat peradaban Islam, sesungguhnya lebih ilmiah dibanding dongeng-dongeng yang berseliweran.

Islam di Jipang dimulai sejak era dakwah Syekh Jimadil Kubro dari Gunung Jali, Tebon pada 1334 M. Pusat dakwahnya berada di Mesigit Tebon, puncak Gunung Jali.

Dilanjut era dakwah santri-santri Mbah Jimatdil Kubro, di antaranya Keramat Songo dan Keramat Santri pada awal 1400 M. Pusat dakwahnya berada di Mesigit Jipang.

Diteruskan era dakwah Sunan Ngudung (Sunan Jipang Panolan) pada periode akhir 1400 M. Pusat dakwahnya di wilayah Loram.

Fakta bahwa wilayah Jipang merupakan tempat mula-mula perkembangan Islam yang damai dan toleran pada masa kejayaan Majapahit hingga lahirnya Demak, dijauhkan dari masyarakat.

Entah apa sebab persisnya. Yang dapat diindikasi, ada suatu kekuatan atau kelompok yang takut eksistensinya terdegradasi bahkan aibnya dikuliti ketika wilayah Jipang tampak secara murni.

 

Ditulis di Pengkol, Ledok Kulon, Bojonegoro
Sabtu (25/5/2024) dini hari.

Tags: Dwibayang JipangIslam JipangMakin Tahu Indonesia
Previous Post

Seorang Wali yang Menjinakkan Singa Buas

Next Post

Catatan Mengaji di Benua Eropa (4)

BERITA MENARIK LAINNYA

Merawat Ingatan, Menyemai Masa Depan: GP Ansor Kota Batu Luncurkan Buku Sejarah
Cecurhatan

Merawat Ingatan, Menyemai Masa Depan: GP Ansor Kota Batu Luncurkan Buku Sejarah

21/04/2026
Pembawa Pendaratan di Planet Merah: Diaspora Iran Sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (2)
Cecurhatan

Pembawa Pendaratan di Planet Merah: Diaspora Iran Sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (2)

21/04/2026
‎Bahas Dinamika Timur Tengah, PC ISNU Bojonegoro Gelar Diskusi Ilmiah
Cecurhatan

‎Bahas Dinamika Timur Tengah, PC ISNU Bojonegoro Gelar Diskusi Ilmiah

20/04/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Merawat Ingatan, Menyemai Masa Depan: GP Ansor Kota Batu Luncurkan Buku Sejarah

Merawat Ingatan, Menyemai Masa Depan: GP Ansor Kota Batu Luncurkan Buku Sejarah

21/04/2026
Pembawa Pendaratan di Planet Merah: Diaspora Iran Sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (2)

Pembawa Pendaratan di Planet Merah: Diaspora Iran Sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (2)

21/04/2026
‎Bahas Dinamika Timur Tengah, PC ISNU Bojonegoro Gelar Diskusi Ilmiah

‎Bahas Dinamika Timur Tengah, PC ISNU Bojonegoro Gelar Diskusi Ilmiah

20/04/2026
Di Bawah Langit Teheran, Anak-Anak Belajar Berdiri Sendiri

Di Bawah Langit Teheran, Anak-Anak Belajar Berdiri Sendiri

19/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: