Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Kurasakan Dinginnya Penjara karena Cinta Buku

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
26/01/2025
in Cecurhatan
Kurasakan Dinginnya Penjara karena Cinta Buku

“Ya Rabb. Tepat seperti pada hari seperti ini, 30 tahun yang lalu, kurasakan dinginnya penjara di Cairo Internasional Airport. Mungkin, ini gara-gara cintaku pada buku!”

Demikian gumam saya. Dini hari tadi, 26 Januari 2025. Tepathari ulang tahun saya yang ke-72. Gumam itu meluncur tanpasadar, ketika saya menyimak postingan dari seorang sahabat di Kairo, Mesir, Mas Omair (seorang mahasiswa program pascasarjana Universitas al-Azhar, Kairo). Postingan itu menuturkan bahwa sejak kemarin (24 Januari 2025-6 Februari2025), Cairo International Bookfair yang ke-56 dilangsungkan.

Lo, mengapa gara-gara cinta buku, saya dijebloskan ke dalampenjara?

Cerita itu terjadi 30 tahun yang lalu. Tepat seperti hari ini: Ketika saya sedang ulang tahun yang ke-42. Ceritanya: selepas meninggalkan Kota Seribu Menara pada 1404 H/1984 M, saya baru mengunjungi kembali kota itu pada akhir Januari 1992 M untuk mengikuti Cairo International Bookfair 1992 M.

Selama sekitar seminggu saya menginap di rumah Dr. Harun Zaini (alm.) di Dokki, Kairo. Kemudian, tiga tahun selepas itu, tepatnya pada akhir Januari 1995 M, saya kembali mengunjungi kota itu. Juga,untuk menghadiri Cairo International Bookfair 1995.

Kala itu, selama sekitar tujuh hari, saya menjadi tamu  Mas Ahmad Dja‘far Bushiri (alm.), seorang mahasiswa Indonesia di Kairo yang kala itu menjadi koresponden Majalah Gatra, dua bulan sebelum sahabat saya yang satu itu berpulang dengan penyebab kematian yang tak jelas, ketika sedang melakukan liputan di sebuah negara Arab.

Padahal, rencananya selepas liputan itu, sahabat yang berasal dari Bangkalan, Madura itu akan maju sidang program S-3. Yang lebih menyesakkan hati saya, selepas sidang s-3 tersebut, ia akan menikah dengan putri seorang Imam sebuah masjid kepresidenan di Jakarta. Allah Maha Kuasa dengan takdir-Nya atas diri setiap hamba.

Nah, pada kunjungan pada tersebut, suatu kejadian tak mengenakkan yang tak pernah saya lupakan hingga kini saya“nikmati”. Selama tiga hari saya harus merasakan dinginnya “bui” ruang karantina di lingkungan Cairo International Airport. Ya, selama tiga hari mendekam di penjara “gara-gara” inginmemburu buku di Cairo International Bookfair 1995. Mengapa demikian?

Kala itu, sebelum bertolak menuju Kairo, saya berkunjung ke Brunei Darussalam untuk suatu urusan. Kemudian, dengan naik pesawat terbang Royal Air Brunei, saya berangkat ke Kairo tanpa visa sama sekali, dengan tujuan untuk menghadiri Cairo International Bookfair 1995.

Kala itu, saya berangkat ke Kairo dengan keyakinan bahwa visa itu dapat diperoleh di Cairo International Airport (on arrival visa). Memang, demikianlahyang berlaku kala itu. Sebelum berangkat, saya mengontak dahulu Mas Ahmad Dja‘far Bushiri yang tinggal di Rabi‘ah al-Adawiyyah District, Nasr City, Kairo. Namun, ketika saya tiba di Cairo International Airport, apa yang terjadi?

Begitu saya mengurus on arrival visa, ternyata permintaan saya ditolak. Alasannya, dua minggu sebelum kedatangan saya, pemberian on arrival visa untuk pemegang paspor Indonesia dihapuskan. Di antara negara-negara ASEAN kala itu, pencabutan on arrival visa hanya dikenakan atas para pemegang paspor Indonesia.

Ini karena kala itu kian banyak tenaga kerja Indonesia yang masuk Mesir dengan on arrival visa dan kemudian menyalahgunakannya untuk bekerja secara illegal di Mesir. “Duh, merananya menjadi pemegang paspor Indonesia,” gumam pelan saya. Kala itu.

Saya kemudian diminta menghadap seorang petugas imigrasi Mesir. Selepas mengecek paspor saya yang tanpa visa dan melihat dalam kolom pekerjaaan saya tertulis “employee”, si petugas langsung memerintahkan saya berdiri menjauh dari antrian.

Ketika saya jelaskan bahwa saya adalah seorang jurnalis yang akan menghadiri Cairo International Bookfair 1995, alasan itu tetap tidak diterima. Gara-garanya, pekerjaan yang tertulis di paspor saya adalah “employee” yang artinya “karyawan”. Menurut penjelasan petugas Mesir itu, seseorang asal Indonesia yang dalam paspornya tertulis “employee” harus mengurus visa Mesir di Jakarta dan tak berhak mendapatkan on arrival visa. “Duh, beginilah nasib pemegang paspor Indonesia,” keluh saya kembali dalam hati.

Tak lama kemudian, datang seorang petugas lain yang memerintahkan saya agar mengambil kopor saya di bagian bagasi. Selepas menemukan kopor itu, saya lantas diperintahkan mengikuti si petugas. Selepas melintasi lorong-lorong panjang, akhirnya saya dimasukkan ke dalam sebuah ruangan berukuran sekitar 4 x 10 meter: sebuah ruangan tanpa jendela sama sekali dengan satu pintu yang dijaga seorang polisi.  

Oh, ternyata, saya dijebloskan ke dalam ruang karantina. Ketika saya memasuki ruangan itu, dalam ruangan itu ternyata ada seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Serang, Banten dan beberapa orang dari negara-negara Afrika.

TKW tersebut datang ke Kairo bersama majikannya yang berasal dari Arab Saudi dengan naik pesawat terbang Saudi Airlines tanpa visa Mesir. Akibatnya, ia dijebloskan ke dalam ruangan karantina seperti saya.

Beberapa jam selepas menikmati ruang tahanan, teman-teman dari Afrika tiada lagi karena dideportasi ke negara mereka masing-masing dengan naik pesawat terbang yang menuju negara mereka. Tinggallah saya dan TKW asal Serang itu.

Seharian kami tak mendapat sajian makanan apa pun. Kemudian, ketika malam datang, dingin ruangan terasa kian menusuk tulang. Saya lihat TKW itu menggigil kedinginan. Ternyata, ia tidak membawa baju hangat atau pun jaket. Padahal, kala itu Kairo sedang berada di puncak musim dingin di akhir bulan Januari.

Melihat kondisinya yang demikian, saya pun segera membongkar kopor saya dan menyerahkan sarung dan kaos kaki kepadanya. Kemudian, tengah malam, TKW itu diambil petugas Mesir. Ini karena akan dideportasi dengan pesawat Saudi Airlinesyang akan membawa dia kembali ke Arab Saudi.

Saya kemudian tidur dalam posisi duduk di sebuah kursi dari fiber, karena di ruangan karantina itu tak tersedia sama sekali tempat tidur. Hingga kini saya tak tahu, bagaimana nasib TKW tersebut. Kiranya Allah Swt. melindungi TKW itu dan kiranya dia tak bernasib buruk. Saya sendiri belum dideportasi, karena pesawat terbang Royal Air Brunei kala itu berkunjung ke Kairo hanya seminggu sekali.

Pada hari kedua, tinggal saya seorang diri dalam ruangan karantina itu. Di pagi hari kedua itu, lapar yang sangat pun menyergap diri saya. Musim dingin memang membuat seseorang cepat lapar.

Saya lihat, polisi yang mengawal pintu ruang karantina tak memberikan tanda akan menyajikan makanan atau masakan apa pun. Malah, dia asyik menulis sesuatu. Saya pun mendekatinya. Ternyata, ia sedang mengerjakan “pekerjaan rumah”: pelajaran bahasa Perancis.

Melihat saya mendekat, wajah polisi itu pun segera berubah menjadi garang dan galak. Namun, dengan santun kepadanya saya kemukakan, saya bisa membantu “mengatasi” pekerjaan rumahnya. Selepas tahu saya benar-benar bisa mengajarinya bahasa Perancis, apalagi selepas dia tahu saya pun bisa berbahasa Arab lancar dengan dialek Mesir, selamatlah saya dari derita dalam “tahanan” di ruang karantina Cairo International Airport. Malah, si polisi kini berubah menjadi seorang sahabat. Saya pun tak lagi kelaparan, karena dengan senang hati dia mencarikan saya masakan dan minuman untuk saya.

Ketika memasuki hari ketiga, pada siang hari saya diminta sipolisi agar mengemasi barang-barang yang saya bawa. Kemudian, saya dibawa menghadap Kepala Urusan Imigrasi di Cairo International Airport. Oh, di situ sahabat saya, Mas Ahmad Dja‘far Bushiri, telah menunggu.

Ternyata, ketika pesawat Royal Air Brunei mendarat tiga hari sebelum itu, Mas Ahmad Dja‘far menjemput saya. Karena saya tak kunjung keluar, kemudian dia menanyakan kepada petugas perusahaan penerbangan Royal Air Brunei tentang diri saya.

Mengetahui nama saya ada dalam master list para penumpang pesawat terbang dari Brunei Darussalam itu dan tahu saya dijebloskan ke dalam ruang karantina, ia pun segera bergerak cepat: datang ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kairo dan melaporkan kasus saya. Atas bantuan mantan Ketua Badan Kerjasama Persatuan Pelajar Indonesia se-Timur Tengah itu dan KBRI, akhirnya saya dibebaskan dan dapat mengunjungi Kairo.  

Selama sekitar seminggu, dalam kunjungan ke Kairo itu, nyaris tiap siang  dan malam hari saya dan Mas Ahmad Dja‘far Bushiri “ngluyur” ke berbagai penjuru kota Kairo. Naik sebuah mobil “unyil” seukuran mobil Daihatsu Fellowmax yang pernah saya miliki, Zastava 750 buatan Yugoslavia, milik sahabat saya yang sangat santun dan tekun menimba ilmu itu.   

Selama kunjungan itu pula, sahabat sejak saya menjadi mahasiswa di Kairo itu banyak menuturkan “mimpi-mimpinya” bila dia telah pulang ke Tanah Air selepas meraih gelar doktor di bidang pendidikan. Antara lain, dia akan tinggal di Depok dan mendirikan sebuah sekolah yang selaras dengan impiannya.

Kala itu, saya tak pernah membayangkan, dua bulan selepas saya tiba kembali di Tanah Air, ternyata Mas Dja‘far hilang tak tentu rimbanya, ketika ia sedang melakukan liputan di sebuah negara Arab. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn.

Kejadian yang menimpa sahabat saya itu, yang kini namanya diabadikan dalam sebuah penghargaan yang diberikan Majalah Gatra, Dja‘far Bushiri Award, benar-benar membuat saya kehilangan seorang sahabat sejati. Seorang sahabat yang senantiasa tak pernah merasa ragu dalam memberikan bantuan dan pertolongan kepada teman-temannya.

Di sisi lain, rentetan kejadian dan peristiwa itu sekali lagi memberikan pengajaran dan pelajaran atas diri saya: manusia hanya kuasa merencanakan, sedangkan Allah Swt. yang kuasa menentukan segala kejadian. Selain itu, kejadian itu kian meneguhkan, dalam hati saya, tentang perlunya silaturahmi dan mengingatkan saya pada sebuah pepatah Arab, Ahsin ilâ al-Nâs, Tasta‘bid Qulûbahum (Berperilaku baiklah kepada orang-orang lain, niscaya Anda akan kuasa mengambil hati mereka)” dan “Rubba Akhin lak Lam Talidhu Ummuk (Betapa kerap terjadi, seseorang yang menjadi saudara Anda bukan seseorang yang dilahirkan Ibu Anda)”.

“Matur nuwun, Mas Omair, atas kiriman postinganpanjenengan. Postingan itu mengingatkan kembali saya kejadianyang tak akan pernah saya lupakan: dijebloskan ke dalam penjaradi negara yang saya cintai seperti cinta saya kepada Indonesia. Negara yang begitu kaya dengan ilmu dan buku serta membuatsaya cinta buku: Mesir”

Catatan Khusus tentang Kejadian 30 Tahun yang Lalu.

Tags: BukuDinginPenjara
Previous Post

Memperingati Isra’ Mi’raj, Yamifda Tekankan Siswa untuk Rajin Sholat

Next Post

Filsafat Matematika: Runtuhnya Pandangan Ilmu Pasti

BERITA MENARIK LAINNYA

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)
Cecurhatan

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal
Cecurhatan

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026

Anyar Nabs

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

17/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: