Lagu Ambyar yang sedang viral tak hanya menghibur para penyintas patah hati. Tapi juga punya pengaruh besar pada perkembangan literasi.
Lagu Ambyar memang sedang digandrungi banyak kalangan. Terutama anak-anak muda. Selain memang enak didengar, lagu Ambyar juga kerap mewakili perasaan si pendengar.
Hampir di tiap warung kopi atau ruang tongkrongan, lagu Ambyar kerap hadir sebagai pemecah kesunyian. Tak jarang bikin baper para pendengarnya.
Penyintas patah hati akan merasa ditemani dan dihibur melalui lagu-lagu Ambyar. Bahkan, ada yang belum jatuh cinta tapi sudah patah hati duluan, hanya karena mendengarnya.
Salah seorang penyintas patah hati, Joko Kuncoro mengatakan, lagu Ambyar punya kemiripan dengan anggota DPRD di ranah legislatif. Sebab, suka sekali mewakili.
“Lagu Ambyar itu kayak anggota DPR, hobinya mewakili. Terutama mewakili perasaan saya.” Kata Joko sambil mengusap air mata.
Hanya, menurut Joko, jika anggota DPR hobi mewakili secara seremoni, lagu Ambyar mewakili perasaan secara esensi. Hal itu yang membuat Joko sering ingat parlemen saat mendengar lagu Ambyar.
“Kalau dengar lagu Ambyar saya malah sering ingat sidang parlemen, lha wong suka mewakili Je”. Imbuhnya.
Penyintas patah hati lainnya, Andrea Ghifari menegaskan, lagu-lagu Ambyar bagi dia tak sekadar pemecah sunyi dan penghibur di kala sendiri, tapi juga ruang untuk belajar banyak hal. Di antaranya adalah belajar ber-empati.
“Jadi saya itu kalau dengar lagu Ambyar rasanya kayak… oh, ternyata banyak ya orang yang senasib seperti saya.” Ungkap dia.
Lebih jauh Andrea menceritakan, lagu-lagu Ambyar memang lagu yang merepresentasikan banyak orang. Tak heran jika banyak yang merasa cocok. Sebab, kesedihan adalah komoditas utama bagi lelaki sepertinya.
“Istilahnya memperkuat-hati-para-penyintas-patah-hati.” Tutur dia.
Hal berbeda justru dirasakan Qomarudin alias Qomar alias Rudi. Menurut Rudi, lagu-lagu Ambyar memang menyedihkan. Tapi tetap bisa membuka potensi ekonomi.
Rudi memang jarang patah hati. Dia terakhir patah hati hampir 25 tahun lalu. Jadi, saat mendengar lagu Ambyar tak terlalu sedih karena unsur jomblonya sudah pada maqom hakekat, sehingga tak mudah bucyyn.
“Kalau dengar lagu Ambyar saya justru langsung ingat potensi ekonomi. Harus bisa dibikin konten”. Ucapnya.
Rudi memang sempat dijuluki sebagai “Lelaki Pengemas Kesedihan”. Sebab, hampir tiap dengar lagu Ambyar, bisa langsung dikemas jadi konten.
Nabs, di balik viralnya lagu Ambyar, ternyata ada hal lain yang sangat layak dan penting untuk dibahas. Yakni, dampak positif bagi dunia literasi Indonesia.
Lagu-lagu Ambyar menyumbang banyak perbendaharaan kata di dunia literasi. Buktinya, banyak masyarakat luar Jawa yang semula tak banyak tahu istilah Jawa, kini mulai mengenalnya.
Nah, dampak viralnya lagu ambyar bagi dunia literasi itulah yang pekan depan bakal dibahas secara serius oleh para penyintas patah hati dan para pemerhati perasaan.
Agenda tersebut dikemas dalam sebuah acara bertajuk Lagu Ambyar: Puitis, Melankolis, dan Kesadaran Ilahiyah. Dihelat di Sematta Cafe, Pacul, Bojonegoro pada Sabtu, 25 Desember 2021.








