Kalang sebagai makhluk berekor, faktanya narasi yang dibikin belum lama. Hal ini dibedah dalam forum diskusi mempertemukan para periset dari Tuban, Bojonegoro, dan Blora.
Forum Diskusi Kalang menjadi mata acara penting dalam rangkaian agenda Festival Kalang 2025 yang diadakan Persinggahan Art Lab bekerjasama dengan Balai Pelestari Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur. Acara dihelat di Karang Tengah, Bangilan, Tuban pada (9-10/8/2025) ini, menyajikan forum diskusi dihadiri para periset dari Blora, Bojonegoro, dan Tuban.
Meski menjadi mata acara paling minimalis dan sederhana, forum yang dihadiri para asesor dari Balai Pelestari Kebudayaan Jawa Timur ini, jadi pembuka sekaligus landasan atas rangkaian acara Festival Kalang 2025. Sebab, mampu menunjukan narasi penting atas paradigma terhadap Kalang. Selain itu, mempertemukan 3 wilayah ke-Kalang-an (Tuban, Bojonegoro, dan Blora) dalam satu dialektika ilmiah, adalah momen pertamakali dalam sejarah.

Muh Nahrus, penghelat acara Festival Kalang, membuka diskusi dengan bercerita ihwal kegiatan dan latar belakang diangkatnya Kalang sebagai Festival kebudayaan. Penulis asal Tuban itu menyatakan, Kalang sebagai bagian dari kebudayaan, harus dimunculkan. Meski, ia juga mengakui, sampai saat ini, definisi Kalang masih terus ia cari.
“Untuk menyusun kegiatan ini, kami mengumpulkan bermacam informasi sejak lama” ucapnya.
Agus Nurwahidin (Hewod), seniman muda Tuban, sekaligus bagian dari penghelat acara menambahkan, festival ini upaya untuk membangun sekaligus memunculkan bermacam paradigma tentang Kalang. Sehingga, Kalang yang selama ini sekadar mitos terpinggirkan, bisa dipahami dalam konteks yang lebih ilmiah dan manusiawi.
“Ini adalah pemantik, harapan kami bisa membangun pemahaman tentang Kalang secara lebih luas” ucap salah satu tokoh Lesbumi Tuban tersebut.

Yusab A. Ziqin, jurnalis budaya dari Bojonegoro menyatakan, sebagai entitas kebudayaan, Kalang melibatkan sejumlah teritorial di wilayah Kendeng Utara. Utamanya Blora, Bojonegoro, dan Tuban. Karena itu, ia bersyukur forum semacam ini dihelat. Baginya, diskusi ilmiah tentang Kalang sudah seharusnya dilakukan. Ini dalam rangka membangun pemahaman terkait Kalang, yang selama ini masih banyak disalahpahami.
Yusab mencontohkan, Kalang sebagai makhluk berekor, misalnya, adalah bagian dari mitosisasi budaya yang tak lepas dari agenda kolonial, dalam rangka merebut alat produksi masyarakat lokal di kawasan Kendeng Utara. Narasi kolonial ini, kata dia, sudah mulai di-dekolonisasi bermacam gerakan sosial di wilayah Bojonegoro dan Blora.
”Tentu saya berharap Tuban juga menjadi bagian dari gerakan dekolonisasi (ngoceki bungkus kolonial) ini” ucap Yusab.
Sedangkan Ahmad Wahyu Rizkiawan, penstudi etnografi dari Bojonegoro menambahkan, narasi Kalang sebagai makhluk berekor dibuat belum lama. Baru pada 1931 M. Rizki mengatakan, data terkait penarasian ini pun masih bisa dilacak dalam sejumlah koran Belanda. Sebelum tahun 1931, Kalang tidak ada yang punya ekor. Narasi kolonial ini, memang ditujukan dalam rangka pengusiran atas hak-hak ulayat masyarakat setempat.
Lebih dalam Rizki mengatakan, secara literatur, Kalang merupakan bagian dari status sosial berperadaban tinggi yang sudah disebut sejak periode 900 M. Dalam konteks Blora, Bojonegoro, dan Tuban, data terkait Kalang bisa dilihat dalam Prasasti Telang (903 M) dan Prasasti Sangsang (907 M), yang menyebut secara implisit bahwa Kalang adalah para Citralekha, para penjaga Lemah Citra Kendeng Utara.
”Prasasti Telang dan Sangsang tak hanya menceritakan produksi lengo (minyak bumi) di kawasan Blora dan Bojonegoro, tapi juga Kalang sebagai status sosial berperadaban tinggi” ungkap Rizki.
Sementara itu Totok Supriyanto, Budayawan asal Blora menyatakan, Kalang sebagai status sosial tinggi masih terdeteksi hingga awal abad 20 M. Pada periode 1917 M, Kalang bahkan dikenal sebagai masyarakat kawasan hutan Kendeng yang mampu menambang minyak dengan cara sederhana. Tanpa menggunakan alat pengeboran. Seiring masuknya alat pengeboran sebagai intensifikasi produksi minyak, keberadaan Kalang mulai dihilangkan.
Titik-titik sumber minyak bumi yang ada di Blora, Bojonegoro, dan Tuban dipastikan terdapat “makam kalang”. Kenapa ada makam kalang di sana, karena ada yang harus diusir dalam rangka mengamankan tanah konsesi. Munculnya istilah makam kalang, kata Totok, adalah narasi kolonial. Karena ada yang harus diusir dari lokasi tersebut. Padahal, sesuatu yang disebut makam kalang itu, adalah tempat Rsi Brahmana, Citralekha penjaga Lemah Citra.
“Punden misterius yang sering dinarasikan sebagai Makam Kalang itu, bisa jadi adalah Rsi Brahmana” kata Totok.
Forum diskusi yang digelar pasca adzan ashar hingga adzan maghrib berkumandang ini, menjadi awal dari perjalanan panjang mengembalikan nama baik Kalang sebagai bagian dari peradaban Bukit Kapur Utara. Karena itu, sebelum acara ditutup, sejumlah peserta berseloroh mengusulkan tindak lanjut pembentukan forum dialektika Majelis Kalang Indonesia (MAKALA).
Forum dialektika yang mempertemukan sejumlah wilayah ke-Kalang-an ini penting untuk direalisasikan. Sehingga Kalang tak berhenti sebatas komoditas perayaan. Namun menjadi ruang pengetahuan yang bisa memproduksi bermacam khazanah budaya, sekaligus mendistribusikannya bagi para penerus bangsa.








