Apakah keberadaan gadget adalah kesalahan? Atau kita yang butuh ilmu untuk mengendalikan? Hmm ~
Belajar era kekinian ternyata memiliki banyak tantangan. Wujudnya gadget kita ternyata. Perilaku belajar menjadi kurang bahkan tidak sungguh-sungguh kita lakukan karena muncul dorongan ingin selalu memegang, membuka, dan melihat, hingga berlama-lama mentelengi gadget.
Belum lagi, jari-jari ini terasa kram, yang dalam KBBI (2014:739), bermakna kejang otot bila tidak menenteng, memencet gadget dengan ujung jari lentik kita, di mana pun, ke mana pun, dan saat peristiwa apapun.
Alhasil, perilaku sedikit membaca keseharian kita akan menjadi pemandangan umum. Lebih pewe alias posisi wenak berpetualang via chat dari satu group ke group WhatsApp.
Atau pula, khusuk dan intensif scroll bawah-atas, tekan dan tambah tab plus new link, serta buka tutup aplikasi medsos. Itulah corak khas yang terlihat dan dialami sendiri.
Bila sudah begitu, tugas membuat laporan bagi yang sudah bekerja tidak kunjung selesai. Kewajiban membuat makalah bagi mahasiswa akan tersendat.
Baru ketika hari “H”, copy paste dari link sembarangan akanlah menjadi langkah cepat saji menyelesaikannya.
Bagi yang sudah berkeluarga, akibat lengket dengan gadget, menggoreng tempe atau telur ceplok bisa dan sering gosong.
Air keran di mesin cuci bisa meluber ke mana-mana. Anak-anak pun jadi korban terjun bebas dari tempat tidur. Apalagi, adu banteng antar motor menjadi pemandangan yang nyata. Penyebabnya, asyik dengan gadget yang dimiliki.
Perlu diketahui, gadget adalah bagian dari piranti teknologi dan informasi. Karena menurut Abdul Kodir dan Terra Ch. Triwahyuni (2013:4), ia merupakan peralatan elektronik yang terhubung dengan pemrosesan informasi.
Tidak ayal, bagi yang mau membaca buku, baru membuka satu halaman saja terbitlah gelap, habislah terang. Apalagi bila kemudian saat membaca terjadi di kasur. Kemudian di sampingnya tergeletak gadget.
Pasti tangan akan muncul penyakit “gatal” yang tafsirnya segera beralih meletakkan buku dan memegang gadget.
Ini sekadar saran penulis. Hindari meletakkan gadget menjadi teman tidur.
Sebab, saat bangun tidur, ingatan utama adalah gadget. Suami lupa. Anak lupa. Orang tua bahkan lupa. Apalagi, dengan Allah yang telah menghidupkan dari tidur juga terlupa. Bila sudah begini, beristighfar.
Di era teknologi-informasi, gadget memang mengalihkan pandangan kita. Semua tertuju kepadanya. Semua memilikinya. Dari masyarakat kota hingga desa. Persoalannya, sudah siap atau belum kita mengendalikannya.
Atau justru, kita yang dikendalikan olehnya. Pernyataan ini kiranya perlu menjadi renungan. Agar jangan muncul kelaster orang tua yang malas mendidik anak. Kemudian tugasnya dialihkan kepada gadget.
Wujudnya, pagi hingga sore, menonton youtube menjadi pelajaran anak.
Jika sudah begini, di depan gadget anak diam, senang, dan tidak rewel. Sebaliknya, kala anak di depan orang tua bawaannya gelisah, merengek, menangis dan terusannya silahkan pembaca tambahkan sendiri.
Lalu, lebih banyak mana durasi orang tua mengedukasi anak, atau sengaja bin coba-coba diprivatkan kepada telpon pintar bernama gadget.
Akhirnya, apakah gadget salah? Atau justru kita perlu persiapan ilmu khusus menaklukkan piranti bernama gadget.
Pesan kecil, mari gunakan gadget bermanfaat di ruang terdekat kita. Itu saja. Jangan renungkan terlalu lama. Segera cari jawaban. Karena gadget sudah ada dalam genggaman tangan.
*Penulis adalah Dosen PAI Unugiri Bojonegoro.








