Pekan olahraga provinsi (Porprov) 2019 amat bergemuruh. Teriakan menggema di sekujur udara. Sementara peluh, serupa mengalir mencari muara. Dan dari sudut lapangan, saya memandang miniatur kehidupan.
Menjadi volunteer Porprov, tentu bukan sebuah cita-cita. Tapi semacam panggilan jiwa. Kau tahu, ini tentang olahraga. Tentang sesuatu yang amat dekat dan hampir menyita usia muda saya.
Seminggu ini, saya bersama sejumlah kawan dipercaya menjadi volunteer gelaran Porprov. Tentu saja, tugas kami mencatat skor dan berbagai gelora yang terjadi di lapangan.
Wira-wiri dari venue ke kantor Media Center menjadi perkara yang akrab kami jalani sepanjang hari, selama hampir sepekan ini. Capek, tentu saja. Lelah, tidak. Sebagai mantan atlet, saya punya ketegasan untuk membedakan dua kata itu.
Saya tak mau sekadar mencatat dan menghimpun data, lalu melapor-kirimkannya begitu saja. Di saat yang sama, saya kerap mencatat peristiwa. Sebuah pelajaran berharga yang terjadi di antara pinggir, sudut dan tengah venue kompetisi.
Kompetisi yang dilihat dengan mata kepala, sesungguhnya menggambarkan hidup dalam konteks yang lebih luas. Terlebih teriakan-teriakan yang bergema dan terdengar telinga, bagi saya, bukan sekadar pertunjukan biasa.
Sejak kapan manusia hidup tanpa bersaing? Saya kira tak akan pernah ada manusia tanpa persaingan. Bahkan, pasca berbentuk tetes sperma, embrio tubuh kita adalah atlet yang berkompetisi sejak dari rahim demi berebut sel telur bunda.
Hidupmu dan hidup saya dan hidup seluruh manusia, saya kira, dibentuk dari struktur persaingan demi persaingan. Tumbuh dari persaingan demi persaingan. Saya enggan menyebutnya perjuangan. Persaingan lebih cocok dibanding perjuangan.
Bersaing dan saling berebut. Semua orang, saya kira, punya kecerdasan alami dalam hal bersaing. Pada konteks apapun di dunia ini, persaingan adalah substansi kehidupan.
Atlet yang bersaing memperebutkan medali, hanya contoh kecil di tengah dunia yang penuh persaingan. Sebab, hanya persaingan yang mampu menggerakkan tubuh manusia secara utuh. Secara menyeluruh.
Bersaing dalam kebaikan, maupun bersaing dalam kejahatan. Semua sedang bersaing. Semua sedang berkompetisi. Berebut cinta. Berebut perhatian dan berebut (kemenangan) kekalahan.
Dari pinggir lapangan, saya lebih suka menatap wajah atlet yang kalah dibanding melihat atlet yang menang. Banyak hal bisa dipelajari dari mereka yang kalah, serupa tak banyak pelajaran bisa diambil dari mereka yang menang.
Apa yang dia rasakan saat kalah? Saat banyak tepuk tangan justru tak ditujukan kepadanya? Terlebih, ketika ada sesal-maki yang mungkin mendominasi isi hati? Kepada mereka yang kalah lah, pelajaran berharga itu saya temukan.
Selama hampir seminggu menjadi volunteer, saya tak begitu menemukan atlet kalah, lalu menangis. Banyak dari mereka merasa biasa saja. Tapi, ada yang menangis. Jumlahnya sedikit. Dan pada merekalah, saya belajar.
Di dunia ini, dalam perkara apapun, kekalahan adalah momok menakutkan. Ia dijauhi. Dihindari. Dan tak jarang, dimaki-maki oleh diri sendiri. Karena itu, tak sembarang orang bisa memeluk kekalahan.
Atlet-atlet yang melipir ke pinggir lapangan, lalu dia menangis di pojokan, sejujurnya adalah pemenang. Sebab dia berani memeluk kekalahan. Sebab dia berani mendengar tepuk tangan yang tak ditujukan untuk dirinya.
Terlalu naif jika saya mengatakan itu karena saya pernah mengalaminya. Saya kira semua orang pernah mengalaminya. Hanya saja, atlet punya cara berekspresi yang berbeda.
Seorang seniman, mungkin bisa dengan mudah mengekspresikan kesedihan melalui nyanyian, lukisan atau sekadar gerak ritmis tarian. Sedang atlet, kau tahu, dia harus tampil tegar di mata orang lain.
Menangis menjadi satu-satunya ekspresi dan respon tak terkendali yang mampu tubuhnya berikan pada stimulus berupa kesedihan dan kekalahan. Saat seorang atlet menangis, sesungguhnya dia sedang melukis dan menari dan bernyanyi secara bersamaan.
Di sudut pinggir venue inilah, saya mengetahui bahwa kekalahan dan kemenangan punya batas teramat tipis. Mereka yang kalah, kadang punya respon yang jauh lebih kuat dibanding mereka yang menang.
Kerapuhan pemenang sangat terlihat ketika dia menerima tepuk tangan. Sedang kekuatan yang kalah sangat terlihat ketika dia menerima dan mendengar tepuk tangan yang tak ditujukan untuk dirinya.
Serupa: lelaki yang kuat adalah saat dia menyadari perempuan yang dia cinta, justru lebih memilih hati orang lain daripada hatinya. Namun, dia tetap berhubungan baik dengan perempuan itu.
Dalam perkara lainnya seperti pekerjaan, atau apapun di dunia ini —yang mengikut-sertakan unsur persaingan — punya hukum yang sama. Mereka yang kalah, kadang lebih bersikap pemenang dibanding mereka yang menang.
Hidup serupa gelaran Porprov 2019. Ada yang menang. Ada yang menangis. Ada yang kalah. Ada yang tertawa. Ada pula yang memperhatikan, merenungi, dan mempelajarinya, serupa volunteer seperti saya.








