Siapa yang tak suka maem ayam geprek. Selain bumbunya sederhana, mayoritas harga pas di kantong. Fakta itu, memicu banyak restoran ayam geprek bermunculan. Yang jadi pertanyaan, apakah itu hanya tren sesaat?
Nabs, di Bojonegoro kota aja, ada banyak restoran yang menyajikan berbagai varian ayam geprek. Istilahnya, ayam geprek rasa-rasa.
Mulai dari yang franchaise nasional (Bensu, Sai) hingga yang lokalan (Geprek Alu, Pakdhe Alu dan Nano), semua ada di Bojonegoro.
Belum lagi, banyak pula restoran yang sebelumnya tak menyediakan menu ayam geprek, kini mulai ikut menyediakan menu tersebut.
Sejumlah rumah makan lain juga menyediakan menu geprek. Rocket Chicken, Hits Chicken, Quick Chicken, Chicken Crush, misalnya, kini juga mulai menyediakan menu ayam geprek.
Nabs, tahu nggak, ayam geprek merupakan bukti bahwa masakan mengalami evolusi. Makanan berbasis ayam, sebelumnya identik ribet dan mewah.
Dan ayam geprek, mampu menghadirkan jenis masakan berbasis ayam nan sederhana, tapi terbukti diminati. Bahkan cenderung terus dicari konsumen.
Pengusaha dan praktisi branding, Mustagfirin menjelaskan, bermunculannya usaha ayam geprek, memang menunjukkan bahwa jenis makanan ini diminati masyarakat.
Kebutuhan ayam geprek, kata dia, cukup tinggi. Ini terjadi tidak hanya di Bojonegoro. Tapi di berbagai kota yang lain juga sama.
“Kebutuhannya cukup tinggi. Karena banyak yang cocok. Baik dari rasa maupun harga,” kata pria akrab disapa Baim tersebut.
Baim mengatakan, fenomena ayam geprek tidak sama seperti es kepal milo, capucino cincau ataupun es pocong yang cenderung cepat berlalu.
Ayam geprek, menurutnya, lahir dari kebutuhan. Terlebih, adanya kecocokan rasa dan harga. Ayam geprek cenderung pedas dan asin. Itu cocok bagi lidah remaja. Ditambah lagi, harganya terjangkau.
“Ayam geprek ini solusi anak muda. Makanan sederhana, murah dan pedas. Dan ini terjadi di seluruh Indonesia,” ucap dia.
Lebih dalam Baim menjelaskan, banyaknya kebutuhan akan memicu semakin banyak pula usaha berbasis ayam geprek. Nah, jika sudah begitu, kata dia, tentu terjadi persaingan.
Pada tahap persaingan inilah, ada seleksi alam. Yang tidak survive akan menghilang. Dan yang survive, kata dia, adalah yang solutif. Maksudnya, menghadirkan solusi dan kemudahan bagi konsumen.
“Mulai dari packaging, inovasi dan mudah akses dan prosesnya,” tuturnya.
Tanpa adanya solusi yang ditawarkan, usaha akan gulung tikar. Sebab, persaingan diprediksi semakin banyak, di tengah kian meningkatnya kebutuhan akan makanan tersebut.
Maka, tidak heran jika penjual ayam geprek berbasis delivery order (DO) yang tanpa restoran pun, tetap bertahan. Sebab, dia menawarkan solusi kemudahan.








