Tadi pagi, saya berjumpa dengan dua kiai. Tidak hanya itu, saya juga mendapatkan siraman rohani dari beliau berdua. Pertama, Kiai Abul Hasan, paman saya sendiri. Kedua, Kiai Muhammad Sa’udi, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) An-Nawawi, Jepara, Jawa Tengah.
Kiai Sa’udi ke Pamekasan dalam rangka mengisi acara pengajian di salah satu tempat. Dia bersama dua santrinya. Salah satunya adalah Afros, adek sepupu saya. Sementara itu, Kiai Abul ke Pamekasan dalam rangka mudik dan silaturahmi dengan keluarga besarnya di Madura. Beliau sendiri sudah lama menetap di Situbondo. Jadi hampir dipastikan setiap tahun pulang kampung, tepatnya di Dusun Banyumas, Desa Klampar, Kecamatan Proppo.
Di sebuah gazebo Ponpes Al-Ikhlas, Kiai Sa’udi membahas masalah lembaga pendidikan tingkat sekolah menengah kejuruan (SMK). Menurutnya, pemerintah terlalu banyak mendirikan SMK. Bahkan, sudah menyebar di desa-desa. Setiap tahun, pasti mengeluarkan tenaga terampil di bidangnya masing-masing. Semisal, jurusan Tata Busana, menghasilkan penjahit; jurusan Teknik Otomotif menghasilkan mekanik otomotif, dan sebagainya.
Hanya saja, menurutnya, saat ini jumlah lulusan SMK membeludak. Tidak sebanding dengan kebutuhan industri yang relatif sedikit. Tidak heran, banyak yang menganggur. Sebab, lapangan pekerjaan yang tersedia untuk jebolan SMK minim. Selain itu, Kiai Sa’udi juga membandingkan orientasi dan cara berpikir yang dibangun di SMK dengan sekolah menengah atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA).
Beliau beranggapan, bahwa cara berpikir anak-anak SMK seolah dikerdilkan oleh pemerintah, hanya sekadar memperoleh pekerjaan. Beda halnya dengan di SMA/MA, pola pikir yang dibangun yaitu bagaimana agar jebolannya juga bisa berkontribusi mencerdaskan kehidupan bangsa. Beliau menegaskan, persoalan rezeki sudah diatur oleh Allah Swt. Karena Allah adalah pemberi dan pengatur rezeki.
Saya pribadi sebenarnya ingin menanggapi pernyataan beliau. Tapi entah kenapa lidah ini tertahan, tak mampu bergerak. Saya memilih diam, menyimak, dan menyerap untaian ilmu dan hikmah yang terlontar dari lisan beliau. Bagi saya pribadi, berjumpa dan memandang wajah beliau merupakan keberuntungan tersendiri. Gerak-geriknya, tasbih yang melekat di jari-jemarinya, menjadi pelajaran bagi saya.
Jangankan berkomentar, menatap wajahnya saja, saya tak berani.
Selanjutnya, saya kembali ke rumah. Di sana sudah ada Kiai Abul Hasan yang sedang bercengkerama dengan ayah saya di teras rumah. Sontak, saya dipanggil untuk menemaninya ngobrol. Dari dulu, beliau dikenal sebagai sosok yang suka tampil perlente alias modis. Alasannya, untuk mensyukuri nikmat Tuhan. Saya sepakat dengannya. Sebab, saya berpandangan bahwa sombong tidaknya seseorang itu tidak bisa dilihat dari penampilannya. Sebab, hal tersebut adanya di hati.
Bersama Kiai Abul, saya tidak terlalu kaku. Beliau periang dan suka bercanda. Sesekali melontarkan humor yang membuat kami tertawa bersama. Suasana jadi cair. Saya perhatikan, dibalik humor ada pesan tersirat yang bisa diambil hikmahnya. Hal itu menjadi edukasi berharga bagi saya.
Alumnus Pesantren At-Taroqqi Sampang itu juga menyampaikan, dalam kehidupan bermasyarakat, kita perlu menerapkan akhlak mulia. Sebab, tanpa akhlak mulia, masyakarat akan condong meremehkan dan tidak menghormati. Dalam pergaulan sosial, masyarakat lebih menerima, menghargai, dan menghormati orang-orang yang sopan dan beradab. Apalagi orang itu alim. Kemuliaan seseorang bergantung bagaimana tingkah lakunya di tengah masyarakat. Jangan harap disegani jika kita sendiri sukar menghormati orang lain.
Selain itu, Kiai Abul juga menuturkan bahwa kita harus melayani tamu dengan sebaik mungkin. Tanpa membeda-bedakan latar belakangnya. Sebab, hal itu juga berkaitan dengan penerapan akhlak mulia dalam kehidupan bermasyarakat.
Begitulah kurang lebihnya yang saya dapatkan dari perjumpaan dengan dua kiai tersebut. Limpahan energi positif mengalir dalam diri saya. Seolah dicas kembali. Spirit baru menyala dan rasa optimis semakin hidup.
Ponpes Al-Ikhlas, Desa Klampar, Proppo, Pamekasan — Sabtu, 7/5/2022
10.51 WIB








