Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Menemani Soal Waktu, Melengkapi Soal Hati

Moh Faisal Adi Saputra by Moh Faisal Adi Saputra
14/11/2019
in Cecurhatan
Menemani Soal Waktu, Melengkapi Soal Hati

Cerita bermula saat kau pulang kuliah dan mager-mageran di atas kasur ditemani kipas angin yang selalu menggeleng-gelengkan kepalanya demi meniupi keringatmu.

Tampaknya, kipas angin menjadi benda yang selalu pesimistis dalam hidup. Ia selalu menggeleng. Tapi dengan gelengannya itu, ia justru lebih menyejukkan. Dan kau menikmati pesimisme kipas angin.

Entah apa alasannya, kau beranjak pergi meninggalkan kipas angin demi ngopi bersama teman-temanmu. Berdiskusi tentang filsafat, cinta, hidup dan mati. Iya-iya, namanya juga mahasiswa. Masak mbahas politik? Kayak pengangguran saja.

Ada banyak temanmu di tempat itu. Kau masuk dalam forum sebagai zombie yang sesekali ikut mendengar dan menanggapi, tapi sesungguhnya tak ada yang membuatmu merasa bersemangat.

Dengan ekspresi wajah yang datar, kau seruput kopi tenggak demi tenggak. Lalu berkata pada teman di sebelahmu jika kau sedang merasa kosong di dalam keramaian. Sontak, temanmu itu menanggapi:

“Hei, menemani itu soal waktu, melengkapi itu soal hati” katanya sambil makan gorengan, “meski banyak yang menemanimu, tak semua orang mampu melengkapi kekurangan serta keburukanmu” ucapnya mempertegas apa yang dia katakan.

Bagimu, mungkin itu kalimat yang bisa jadi menyejukkan sekaligus menenangkan hati. Namun ada yang ngganjel. Kau jadi ingat jika manusia adalah makhluk paling sempurna sekaligus paling banyak memiliki kekurangan.

Adzan magrib menghampiri telingamu. Kau ingat jika hari itu, ada janji bersama teman-teman baru di event Jazz Bengawan yang berlokasi di bawah Jembatan Sosrodilogo. Kau pun meninggalkan tempat ngopi menuju tempat yang lain lagi.

Sesungguhnya, kau tak pernah berminat pada musik jazz. Pengetahuanmu tentang musik jazz miskin sekali. Tapi, karena kau suka jazz jambu dan jazz sirsak, setidaknya kau tetap berangkat untuk menyaksikan festival Jazz Bengawan.

Kau hidupkan sepeda motormu. Lalu, berangkat menuju festival untuk menemui teman-teman barumu. Setelah melintasi jembatan dan sampai di sana, sambutan hangat menghampirimu: “parkir, parkir, parkir”.

Tanpa pikir panjang, kau pun menerima sambutan itu dengan senyum manis semanis gula — yang jika terlalu banyak dikonsumsi bakal kena diabetes — sambil mengarahkan muka ke arah pinggir jembatan.

Panggung berada di tepi sungai Bengawan Solo dengan latar Jembatan Sosrodilogo itu menimbulkan sensasi magis yang membuatmu ingat pada bermacam hal. Salah satunya, dia yang membuatmu patah hati.

Di sana, untuk pertamakalinya, kau bertemu dengan teman-teman barumu. Para senior yang amat cool sekaligus mistis. Di dekat mereka, kau merasa seperti anak kelas 1 STM yang sedang disidang anak kelas 3 STM. Pasrah dan penuh kekaguman.

Di dekat mereka, entah kenapa, kau merasa sangat terhibur. Sangat ditemani. Kau tak lagi merasa sedang patah hati sendiri. Kau merasa, orang-orang di dekatmu itu lebih patah hati dibanding dirimu.

Kau merasa malu menampakkan rasa patah hatimu di depan orang yang lebih patah dari dirimu. Dalam urusan mengelabuhi hidup, tampaknya kau harus banyak belajar dari mereka, batinmu.

Tiba-tiba kau ingat ucapan kawanmu saat ngopi tadi sore: menemani itu soal waktu, melengkapi itu soal hati. Teringat itu, kau langsung tertawa di dalam hati. Kau merasa ingin segera merobohkan jembatan, saking bahagianya.

Tags: HatiMenemaniTeman
Previous Post

Orkestrasi Alat Musik Gesek dari B-String di Jazz Bengawan 2019

Next Post

Ketika Bakat justru Kalah oleh Rasa Percaya Diri

BERITA MENARIK LAINNYA

Curaçao dan Indonesia: Bukan soal Bakat, Tapi Sistem
Cecurhatan

Curaçao dan Indonesia: Bukan soal Bakat, Tapi Sistem

23/06/2026
Desa Prangi, Kampung yang Memuliakan Bengawan
Cecurhatan

Desa Prangi, Kampung yang Memuliakan Bengawan

22/06/2026
Timnas Sepak Bola: Mazhab, Filosofi, dan Identitas Bangsa
Cecurhatan

Timnas Sepak Bola: Mazhab, Filosofi, dan Identitas Bangsa

21/06/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Curaçao dan Indonesia: Bukan soal Bakat, Tapi Sistem

Curaçao dan Indonesia: Bukan soal Bakat, Tapi Sistem

23/06/2026
Desa Prangi, Kampung yang Memuliakan Bengawan

Desa Prangi, Kampung yang Memuliakan Bengawan

22/06/2026
Timnas Sepak Bola: Mazhab, Filosofi, dan Identitas Bangsa

Timnas Sepak Bola: Mazhab, Filosofi, dan Identitas Bangsa

21/06/2026
Kejhung Lintas Terop di Bojonegoro, Panggung Kontemporer yang Mengajak Publik Memaknai Perempuan dalam Kesenian

Kejhung Lintas Terop di Bojonegoro, Panggung Kontemporer yang Mengajak Publik Memaknai Perempuan dalam Kesenian

20/06/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: