Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Menulis: Ikhtiar Memaknai Hidup

Muhammad Aufal Fresky by Muhammad Aufal Fresky
02/08/2025
in Cecurhatan
Menulis: Ikhtiar Memaknai Hidup

Unsplash

Di tengah rutinitas hidup, mungkin ada waktu sejenak bagi kita untuk sekadar berpikir sembari bertanya-tanya sebenarnya apa tujuan hidup kita. Pencarian manusia dari zaman ke zaman terkait esensi hidup bisa kita telusuri dari rekam jejak yang nampak maupun tak nampak. Bisa kita membukanya dari lembaran-lembaran sejarah naskah kuno mapun naskah kekinian.

Bahkan, setiap dari kita pun sebenarnya sedang berfilsafat secara sadar maupun tidak sadar. Semisal, ketika sedang duduk sendirian di malam hari, lalu menatap langit melihat keindahan bintang-bintang, lalu bergumam dalam hati kecil, siapakah mahakreator di balik keindahan bintang-bintang yang berkilau itu?

Pun demikian dengan saya selaku penulis kadang kerap kali banyak pertanyaan-pertanyaan yang mengusik alam pikiran dan membuat gusar. Sebab itulah, berhubung saya gemar menulis, saya mencoba menumpahkan segala hal yang berkecamuk dalam benak lewat catatan.

Bagi saya, menulis adalah semacam ikhtiar memaknai hidup.
Memang hidup sukar ditebak. Penuh dengan misteri. Kita tidak bisa menerka-nerka seperti apa masa depan kita sendiri. Apalagi sampai memastikan semua akan sesuai dengan apa yang telah diimpikan dan direncanakan.

Padahal, skenario manusia tidak selalu berjalan mulus. Manusia hanya bisa berupaya sekuat tenaga. Yang menentukan kembali pada Sang Pencipta. Maka tida seharusnya hari demi hari selalu diselimuti dengan kesedihan dan kekecewaan. Karena, di balik kegagalan, kesengsaraan, dan penderitaan itu ada hikmah terselubung yang kadang kita sendiri belum menyadarinya.

Apalagi, sebagian dari kita sering kali terjebak dalam gemerlap dunia yang menyilaukan. Sampai-sampai menyangka bahwa dunia adalah segalanya. Padahal, dunia adalah tempat persinggahan sementara.
Semua yang kita miliki, entah itu status sosial, keluarga, materi, jabatan, rumah, kendaraan, anak-anak, dan semacamnya, semua akan ditinggalkan. Tidak ada yang abadi. Kekekalan hanya milik Allah. Alam semesta dan sesisinya ini akan hancur lebur. Tinggal menunggu waktu. Pun demikian dengan nyawa yang masih di kandung badan. Cepat atau lambat akan segera dicabut oleh malaikat maut. Lantas, kenapa kita sendiri terlalu ambisius mengejar mati-matian sesuatu yang tidak akan dibawa mati. Sampai-sampai lupa diri bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk mengabdikan diri secara total kepada Rabb-nya. Ya, kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah.
Namun, sayang seribu sayang, esensi hidup untuk menjadi sebenar-benarnya hamba Tuhan itu, mungkin kerap kali kita abaikan. Lebih tertarik untuk berlomba-lomba menumpuk kekayaan, menikmati kesenangan hidup. Padahal, sekali lagi, dunia ini sejatinya panggung sandiwara. Bisa mengecoh. Bahkan, bisa membuat kita lupa pada tujuan hakiki dari hidup ini. Merasa bahwa hidup di dunia ini adalah akhir dari perjalanan. Sungguh, pikiran semacam perlu segera dibenahi. Salah kaprah jika kita mengira bahwa apa yang kita katakana dan kerjakan di alam dunia tidak akan dimintai pertanggungjawaban. Artinya, ada pengadilan Tuhan di negeri akhirat.
Intinya, hidup yang sangat singkat ini terlalu berharga untuk disia-siakan. Apalagi, detik demi detik terus bergulir. Waktu bergerak tanpa bisa dibendung. Usia kita pun kian berkurang. Tenaga semakin melamah. Ingatan pun juga tidak setajam di masa muda. Oleh sebab itulah, saya pun berupaya untuk menggali makna hidup lewat catatan ringkas ini. Harapannya, dengan menulis, setidaknya saya bisa tercerahkan dan tersadarkan bahwa apa yang saya tanam hari ini akan dipetik di kemudian hari. Bahwa segala sesuatu di dunia ini sifatnya nisbi dan semu. Dunia hanyalah bayang-bayang yang mengelabui. Jika tak pandai-pandai dalam mengatur waktu dan memanfaatkan momentum, maka bersiap-siaplah menerima penyesalan. Jika lalai akan tugas dan kewajiban sebagai hamba Tuhan, maka bersiap-siaplah menanggung kerugian di akhirat kelak. Seperti halnya musafir, kita semua akan melanjutkan perjalanan panjang. Maka sudah semestinya menjadikan hidup ini lebih bermakna. Bukan sekadar bersenang-senang melebihi batas.
Lewat aksara demi aksara yang saya tuliskan ini, saya ingin kembali meneropong jauh ke dalam diri. Sebenarnya apa yang saya tuju dan dambakan dalam hidup. Jangan-jangan, selama ini salah jalur. Justru mengutamakan hal-hal yang tak ada kaitannya dengan persiapan menuju akhirat. Padahal, selagi masih di dunia, kesempatan menabung sebanyak mungkin bekal kebaikan tidak boleh dilewatkan. Sebelum terlambat dan menyesal, mari kita berkemas-kemas. Biarlah yang telah berlalu menjadi pembelajaran yang mendewasakan diri. Waktu yang kita miliki tinggal sedikit lagi. Mari benar-benar menghayati esensi hidup ini. Jangan terjebak dan terpasung oleh segala hal yang sifatnya sementara.
Dengan begitu, tulisan ini adalah sekali lagi menjadi upaya saya untuk memakanai hidup. Untuk lebih mengerti sebenarnya dari mana saya, untuk apa keberadaan saya, ke mana saya nanti setelah tiada. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu memang perlu terus menerus dilontarkan dan dihayati agar kita tidak lalai sebagai abdi Tuhan. Akhirnya, catatan ini akan menjadi pengingat bagi saya pribadi agar senantiasa menyalakan api perjuangan dan menghidupkan spirit pengabdian. Intinya, dengan menulis, saya mencoba untuk lebih mengenali diri dan memaknai hidup. Sehingga, harapannya bisa menjalani hidup dengan lebih bijaksana. Setidaknya, dengan menulis, saya tidak kehilangan waktu luang saya untuk hal-hal yang tidak ada faedahnya. Menulis berarti sarana untuk berbagi kepada orang lain. Dengan menulis, saya sedang berproses menjadi pribadi yang berarti untuk kehidupan ini.

*) Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi

Tags: Artikel JurnabaFalsafah MenulisIkhtiar Literasi
Previous Post

Usung Tema “Branding Dulu, Laris Kemudian” KKN Unigoro Desa Prangi Adakan Sosialiasi Digital Branding UMKM

Next Post

NU Clean Inovasi Deterjen Berbahan Alami KKN Unugiri

BERITA MENARIK LAINNYA

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)
Cecurhatan

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal
Cecurhatan

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026

Anyar Nabs

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

17/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: