Diakui atau tidak, saat ini, tembok kultur antara perdesaan dan perkotaan telah jebol. Desa dan kota tak ada bedanya. Keduanya sama. Tak ada lagi sesrawungan, semua memilih diam sambil hapenan dan medsosan.
Gejala modernisasi telah merambah dalam semua sektor kehidupan manusia. Modernisasi juga telah membawa pengaruh yang besar bagi kehidupan masyarakat. Banyak terjadi perubahan kehidupan di segala lini bahkan dampaknya dirasakan hingga masyarakat pedesaan.
Kehidupan di pedesaan dapat dianggap sebagai rumah bagi tradisi dan nilai budaya masyarakat, namun yang terjadi saat ini arus modernisasi tengah melanda dan masuk pada sendi-sendi kehidupan masyarakat tradisional pedesaan.
Identitas sosial dan budaya yang melekat pada desa menjadi aset yang harus dijaga bersama. Ketidakmampuan budaya lokal dalam bersaing dengan perkembangan zaman menjadi salah satu potensi penyebab hilangnya sebuah budaya di kehidupan yang akan datang.
Contoh nyata perubahan yang terjadi saat ini adalah pola hidup sesrawungan yang menipis di masyarakat pedesaan.
Hidup berdampingan dengan penuh kerukunan, dan semangat gotong royong yang tinggi adalah contoh nyata hidup sesrawungan.
Apakah saat ini 2 contoh itu masih bisa ditemukan?
Jika muncul pertanyaan seperti itu bisa dipastikan jawabannya adalah masih ditemukan, namun jumlahnya bisa tergolong sedikit. Apa faktor yang menyebabkan? Tidak lain tidak bukan adalah adanya persaingan hidup yang berakar dari modernisasi ini.
Sesrawungan dapat dipahami dengan istilah pergaulan dalam kelompok masyarakat yang hidup bersama. Dimana dalam pergaulan tersebut mengedepankan pada aspek kerukunan, gotong royong, saling tolong menolong dan kesatuan ide serta emosi dalam hidup bersama.
Hidup sesrawungan di pedesaan dilatar belakangi oleh kesamaan individu dari masyarakat sehingga menjadi penguat hubungan sosial, hubungan emosional, dan interaksi antar individu.
Nah, saya beranggapan bahwa gambaran tentang pola hidup sesrawungan sama saja dengan konsep paguyuban (gameinschaft) yang dikemukakan Ferdinand Tonnies.
Dalam teorinya, Tonnies menyebut bahwa suatu paguyuban adalah bentuk kehidupan bersama, dimana semua unsur yang terdapat di dalamnya diikat oleh hubungan batin yang murni, bersifat alami dan kekal.
Menurut Tonnies, paguyuban mempunyai beberapa ciri, di antaranya:
1. Intimate, yang dapat diartikan bahwa hubungan antarpersonal yang dilakukan secara menyeluruh dengan dibarengi sikap semangat kebersamaan, serta keterlibatan dalam suka maupun duka.
2. Private, hidup dalam kebersamaan yang saling mengasihi dan memiliki kepekaan antar sesama.
3. Exclusive, sebuah kehidupan bersama yang menghayati solidaritas dalam memanfaatkan segala perbedaan untuk mencapai tujuan bersama.
Namun, derasnya arus modernisasi sedikit demi sedikit mengikis pola hidup sesrawungan tersebut. Masyarakat telah disibukkan dengan aktivitas pribadi masing-masing, hingga minim waktu lagi untuk saling berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Masyarakat desa mulai mengenal budaya baru dari luar, munculnya pendapat pro dan kontra dari budaya tersebut akhirnya sering dijumpai konflik-konflik yang terjadi di masyarakat.
Dilansir dari Kompasiana, masalah yang muncul di era modernisasi antara lain: menipisnya rasa kekeluargaan, meningkatnya sikap individualitas, meningkatnya tingkat persaingan, dan meningkatnya pola hidup konsumtif.
Dari permasalahan tersebut, kita harus mampu memposisikan modernisasi berdasar kemanfaatannya, terutama bagi masyarakat pedesaan. Modernisasi tidak bisa dibiarkan menggerus tradisi dan budaya dengan begitu saja.
Diakui atau tidak, saat ini, tembok kultur antara perdesaan dan perkotaan telah jebol. Desa dan kota tak ada bedanya. Keduanya sama. Tak ada lagi sesrawungan, semua memilih diam sambil hapenan dan medsosan.
Sebaliknya, budaya dan tradisi harus menjadi akar bagi kemajuan bangsa. Dengan menumbuhkan pola hidup sesrawungan pada masyarakat, dirasa akan menumbuhkan kekuatan baru di era modernisasi ini.
Kesatuan dan kebersamaan yang digalakkan masyarakat nantinya mampu meminilamisir resiko dan dampak negatif modernisasi, sebaliknya mereka akan mampu memanfaatkan segala peluang di era ini, demi kemajuan bersama.
Sehingga, berdasar uraian di atas, dirasa penting sekali menumbuhkan kembali, terlebih memperkuat pola hidup sesrawungan di masyarakat demi terciptanya tatanan hidup yang sejahtera.








