Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Empat Macam Gus yang Perlu Kamu Ketahui

Yogi Abdul Gofur by Yogi Abdul Gofur
15/08/2020
in Cecurhatan
Empat Macam Gus yang Perlu Kamu Ketahui

Saat ini, label Gus kerap dijadikan emblem marketing yang jual-able. Karena itu, yuk simak empat macam label Gus yang perlu kamu ketahui, biar nggak salah paham.

Beberapa hari lalu, seorang kawan dari Bumi Wali yang sedang ngangsu kaweruh di kampus berslogan excellence with capitality morality bermain ke rumah saya — sebuah rumah kecil tak bernomor yang halaman depannya terdapat pohon sawo kecik.

Di sana kami ngobrol. Atau dalam istilah lain, ‘ngopi’. Ya, ngopi yang bukan sekadar ngopa-ngopi, tapi ngopi sungguhan karena ada kopinya dan telah menunggu beberapa purnama untuk melakukannya.

Obrolan di waktu pekerja pulang ke rumah, berlangsung dengan santai dan cair, se cair-cairnya. Saya menanyakan kabar dan kesibukan  sang sejarawan muda yang pernah menjabat menteri agama di faculty of humanities itu.

Dialah Sholeh Qosim. Dia merupakan senior yang patut dijadikan panutan dalam beberapa hal. Salah satu di antaranya tentang ngaji. Ya, sepengetahuan dan sepengakuan saya, Cak Sholeh amat sangat menjaga ajaran yang ia peroleh dari pesantren, meski ia sedang ngangsu kaweruh di sebuah perguruan tinggi yang benar-benar multikultur.

Ia bisa menjadi pengingat bagi kawan-kawannya, selain itu juga ia bak batu karang yang berdiri gagah di lautan. Sederas dan sekuat apapun beragam pemikiran yang menerjangnya, ia tetap berpegang teguh pada ilmu yang diperoleh dari kiainya, ilmu agama tersebut akan selalu menancap dalam sanubari.

Hal itu juga serupa namun tak sama dengan kalimat yang pernah diucap Bung Mahbub Djunaidi, “teguh pada prinsip setia terhadap proses”. Itu perumpamaan Cak Sholeh. Mungkin dari hal itu, ia pantas dan telah menjadi menteri agama di fakultasnya.

Meminjam istilah dari Surayah atau Kang Pidi Baiq, Cak Sholeh ini menteri agama yang membela beragam agama, maka pantas untuk disebut sebagai anggota front pembela Islam, Kristen, Hindu, Budha, Katolik, Kong Hu Chu, dan lain sebagainya.

Dari obrolan dengan mahasiswa tingkat akhir yang sedang meneliti listrik dalam tinjauan historis di kabupaten yang konon sebagai lumbung pangan dan energi ini, saya menangkap kalimat amat sangat keren darinya.

Entah, saya belum tanya kepadanya, istilah yang ia gunakan dapat dari mana, kalimatnya ialah the real Gus.
Dari kalimat dan ngopi itu, lahirlah tulisan ini. Tentang empat macam ‘gus’ yang perlu kamu ketahui.

Numero Uno. Gus yang sesunguhnya, atau the real Gus. Di Indonesia, amat sangat banyak, gus-gus yang sesungguhnya alias bukan kaleng-kaleng. Nabsky akan familiar dan sering mendengar kata “Gus” di berbagai pesantren wabilkhusus salaf yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, exampli gratia: Gus Dur, Gus Mus, dan lain-lain.

Kaping pindo. Gus yang merupakan sebutan atau panggilan untuk anak laki-laki. Bagi Nabsky yang laki-laki, di manapun berasal, ketika berkunjung ke Jawa wabilkhusus di Yogyakarta, Solo, Bojonegoro, dan sebagainya, akan memperoleh tambahan kata “gus” dengan sendirinya.

Misalnya ada orang Bojonegoro berkata, “arep nok ndi, gus?”. Versi Jogja, “pripun kabare, gus?”. Contoh lain misalnya, “gus..cah…bagus.., bocah kok baguse ngene to yo..yo, anake sopo ki?”

Kaping Tiga. Gus yang diperoleh dari pengulangan penyebutan nama panggilan. Yang ketiga ini amat sangat khusus dan mungkin ada beberapa orang yang tidak sadar bahwa dirinya juga ‘gus’.

Ini hanya berlaku untuk orang-orang yang memiliki nama-nama seperti Bagus, Agus, dan Gusti. Belum percaya? Perlu bukti? Oke. Coba panggil kawanmu yang bernama Bagus seperti biasanya, “Gus, Bagus?”, selain itu ada, “Gus, Agus”, dan “Gus…Gusti..Gus, wes ados to durung?”

Kaping Sekawan. Gus yang pantas dan bisa disematkan bagi Jurnabiyin dimanapun berada. Dalam spektrum yang lebih besar, bagi siapapun yang berproses di underbow Nahdlatul Ulama (NU). Entah itu organisasi, lembaga, badan otonom (banom), dan kultural.

Maka jangan heran, jika di IPNU, PMII, GP Ansor, dan lain sebagainya, akan menemukan banyak sekali ‘Gus’. Dari yang mulai the real Gus, enggan disebut gus, dan bahkan ada juga yang memproklamirkan diri sendiri wqwq sebagai gus.

Itulah, Nabs. Catatan ngopi dengan Gus Sholeh Hilmi Qosim. Saya patut memanggilnya Gus, karena ilmu dan pengalaman berproses di organisasi yang didirikan oleh Bung Mahbub Djunaidi. Selain itu, ia tidak pernah memproklamirkan dirinya sebagai ‘Gus’ di tengah banyak orang yang ingin mendaulat diri sebagai ‘Gus’.

 

 

Tags: GusGus DurSebutan Gus
Previous Post

Modernisasi dan Hilangnya Pola Hidup Sesrawungan Masyarakat Pedesaan

Next Post

Terimakasih, Ucapan Kecil yang Berdampak Besar

BERITA MENARIK LAINNYA

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)
Cecurhatan

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal
Cecurhatan

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

17/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: