Orang tua surga terdekat kita. Selagi masih ada, berbaktilah dengan berbagai macam cara.
Baru-baru ini, pemerintah telah membolehkan sekolah tatap muka. Namun, dengan persyaratan harus menerapkan protokol kesehatan, serta melakukan social distancing. Selain itu, yang boleh masuk digilir 50% dari jumlah siswa/i.
Selebihnya, belajar di rumah atau daring menggunakan handphone ataupun laptop. Meskipun demikian, setidaknya para orang tua ada yang merasa lega karena anaknya sudah sekolah seperti dulu. Ada juga yang merasa was-was karena pandemi belum usai.
Mirisnya, setelah hampir 2 tahun sekolah di rumah atau biasa disebut daring ini, banyak siswa/siswi yang seolah-olah lupa dengan adab yang baik. Meskipun tidak semua murid, namun mayoritas banyak yang melupakan adab terpenting ketika hendak pergi ke sekolah, yakni mencium tangan orang tua.
Nabs, hal ini mungkin terdengar tidak asing, namun sering dianggap sepele oleh siswa dan bahkan orang tua yang bisa dibilang sibuk dengan pekerjaannya.
Padahal ada banyak manfaat yang bisa diperoleh ketika mencium tangan orang tua ketika hendak bepergian, khususnya pergi ke sekolah untuk menuntut ilmu. Karena sudah lama tidak pergi ke sekolah, akhirnya jarang yang bangun pagi, wqwq.
Sehingga ketika sekolah tatap muka dimulai, bangun kesiangan. Dari sini akan berdampak tidak melaksanakan ibadah salat subuh, berangkat sekolah tidak sarapan, dan berakhir tergesa-gesa sehingga lupa tidak mencium tangan orang tua.
Iya, memang ketika hendak ke sekolah pasti pamit kepada orang tua, namun terkadang melupakan salim atau mencium tangan orang tua.
Adab yang baik harus dilakukan dan dibudidayakan, agar menjadi kebiasaan dan menciptakan karakter yang baik pula.
Oleh karena itu, agar tercipta budaya cium tangan kepada orang tua ketika pergi dan pulang sekolah bisa dilakukan dengan cara; pertama, dari lingkungan keluarga. Orang tua harus senantiasa mengajari adab yang baik kepada anaknya dengan melakukan salim atau mencium tangan orang tua ketika anak akan berangkat ke sekolah.
Karena, keluarga adalah pendidikan pertama bagi anak, maka apa yang diajarkan orang tua, itulah yang akan dilakukan oleh anak. Jika orang tua tidak mengajarkan dan membiasakan salim kepada anak, maka anak juga tidak akan melakukannya.
Kedua, di sekolah guru merupakan orang tua kedua bagi anak. Guru adalah panutan bagi murid-muridnya, jadi guru sangat berpengaruh pada kepribadian anak tersebut.
Setiap pagi guru bisa menyambut murid di gerbang sekolah atau di depan ruang kelas, kemudian murid salim satu per satu kepada guru. Begitu pula ketika pulang sekolah, setelah do’a, siswa dan siswi mencium tangan guru.
Sehingga, ketika di rumah siswa juga akan melakukan salim atau mencium tangan orang tua ketika pergi dan pulang sekolah. Dengan rutinitas baik tersebut akan membentuk karakter baik bagi siswa dan siswi.
Ketiga, masih di sekolah, ketika pembelajaran adab dan sopan santun (mata pelajaran Pendidikan Agama Islam) untuk sekolah formal dan Akidah Akhlak untuk madrasah. Siswa dan siswi bisa diberi tugas praktik salim kepada orang tua selama 30 hari.
Karena jika melakukan salim selama 30 hari bisa terlaksana, maka di hari ke 31 dan seterusnya siswa akan melakukan salim kepada orang tua dengan inisiatif sendiri. Sehingga, kegiatan salim kepada orang tua ketika pergi dan pulang sekolah telah menjadi kebiasaan.
Keempat, di lingkungan masyarakat, para tokoh masyarakat bisa memberikan sosialisasi kepada masyarakat khususnya anak-anak dan generasi muda agar senantiasa menjaga adab dan sopan santun kepada orang tua secara berkala.
Dengan demikian, generasi muda dengan adab dan etika yang baik akan terwujud. Karena generasi muda merupakan generasi emas penerus bangsa, jika generasinya saja memiliki adab dan etika yang tidak baik akan dibawa kemana negara kita nantinya?
Dengan adab yang baik, kehidupan bersosialpun juga akan terjalin rukun, saling menghormati dan damai.
Oleh karena itu, mari kita para orang tua mengoreksi diri, apakah sudah menanamkan adab yang baik kepada anak-anak kita atau belum? Nabs, tidak ada kata terlambat untuk membenahi generasi, supaya mewujudkan masa depan yang berbudi, beradab, dan beretika.
Dan untuk para generasi muda, generasi emas masa depan, mari benahi diri menjadi pribadi yang lebih baik, jangan lelah belajar dari siapapun dan dimanapun. Karena Nabi pernah bersabda, “Carilah ilmu dari buaian ibu hingga sampai liang lahat”.
Generasi millenial memang harus cakap ilmu dan digital, namun jangan melupakan adab mencium tangan orang tua karena ini merupakan tradisi dan kebudayaan kita. Maka tradisi yang baik jangan sampai punah dan menghilang di tengah peradaban zaman yang semakin maju. Kita boleh pandai dalam segala aspek, namun jangan melupakan adab yang baik kepada orang tua, mari kita budayakan mencium tangan orang tua ketika pergi dan pulang sekolah. Selain mendapat ganjaran, kita akan mendapat do’a dan ridho dari orang tua kita, aamiin.
**
Penulis adalah mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri Bojonegoro (UNUGIRI).








