Tradisi pembacaan Maulid Al Barzanji (Berjanjen) sangat populer di seluruh Nusantara. Di Padangan Bojonegoro, tradisi ini pernah dikenal dengan istilah Berjanjen Perahu — subkultur identik laku hidup masyarakat Bengawan.
Tradisi Berjanjen sangat khas masyarakat muslim Nusantara. Berjanjen adalah pembacaan kitab Maulid al Barzanji secara bersama-sama. Sementara kitab Maulid al Barzanji, merupakan kitab biografi Nabi Muhammad SAW yang dikarang ulama besar Tanah Hijaz bernama Sayyid Jafar bin Hasan al Barzanji (1714 – 1770 M).
Semula, Sayyid Jafar al Barzanji mengarang kitab tersebut dengan judul Iqd Al-Jawahir fi Mawlid An-Nabiyyil Azhar. Namun, di berbagai wilayah, ia lebih dikenal dengan sebutan kitab Maulid Al Barzanji. Kelak, kitab ini menjadi maulid paling terkemuka di seluruh dunia, termasuk di Nusantara.
Di wilayah Nusantara, pembacaan kitab Al Barzanji umumnya dilakukan secara berjamaah, sebagai wasilah pengharapan mencapai sesuatu yang lebih baik. Ia dibaca pada berbagai kesempatan seperti saat kelahiran bayi, mencukur rambut bayi (akikah), acara khitanan, pernikahan, dan acara hajatan lainnya.
Perahu Al Barzanji
Di Padangan Bojonegoro, tradisi Berjanjen dilakukan sudah cukup lama. Namun, Tradisi Berjanjen tercatat masif dilakukan pada abad 19 M. Khususnya dilakukan masyarakat di wilayah Bengawan Padangan. Tradisi Berjanjen, bahkan sangat identik subkultur masyarakat Bengawan.
Pendiri Pesantren Klotok Padangan, Sidi Abdurrohman bin Syahiddin Alfadangi atau Mbah Abdurrohman Syahiddin Klotok alias Mbah Klotok (w. 1877 M), menulis dua risalah tentang Maulid Al Barzanji. Kedua risalah itu berjudul Hadits al Barzanji dan Syi’ir Al Barzanji (Berjanjen Perahu). Kedua karya itu, beliau tulis saat sedang berada di atas Perahu laut.

Dalam penggalan kolofon (akhiran kitab) Hadits Al Barzanji di atas, terbaca sebuah kalimat: “wakodtam al kitab hadits al Barzanji; fil wakti dhuha, wafilyaumi sebtu, wafi syahri rajab, wafi hilal ahad wa isrina, wafi sanah 1255 Dal.. watuktab fil murokab bahri, wakodtam fi Biladi Aceh Banda”.
Secara sederhana, kalimat di atas bisa dimaknai sebagai berikut: “telah selesai sebuah kitab (berjudul) Hadits Al Barzanji di waktu duha, hari sabtu, bulan Rajab, tanggal 21 tahun 1255 Dal.. ditulis di atas perahu laut, selesainya saat (perahu bersandar) di Negara Aceh Banda”.

Lembaran di atas, selesai ditulis saat perahu sampai di Bawehan Gresik pada 1256 H. Dalam penggalan kolofon (akhiran kitab) berjudul Maulid Barzanji ini, terbaca sebuah kalimat: “Olehku nulis Dzikri Maulid, bareng numpang Perahune wong Bawehan saking Negara Gresik” (saya menulis dzikir maulid ini, bersamaan menumpang Perahu orang Bawehan Gresik).
Mbah Klotok sangat detail dan telaten. Terbukti dalam lembaran di atas, beliau menyertakan kunci pembacaan angka. Tujuannya, agar pembaca tak keliru membaca angka “5” dengan “9”. Dalam hal ini, beliau benar-benar seperti menyiapkan agar ratusan tahun kemudian, pembaca tak kesulitan memahaminya.

Kedua kitab itu, ditulis Mbah Klotok pada 1255 – 1256 H (1839 – 1840 M), saat beliau berada di atas perahu, dalam perjalanan pulang dari Negeri Hijaz menuju Jipang Padangan. Kecintaan Mbah Klotok pada Maulid Barzanji, tercatat abadi dan sangat detail dalam kitab yang beliau tulis.
Mbah Klotok menyelesaikan risalah Hadits al Barzanji pada 21 Rajab 1255 H (29 September 1839 M), saat perahu bersandar di Negeri Aceh Banda (Banda Aceh). Sementara Syi’ir Maulid Barzanji, beliau selesaikan pada 13 Jumadil Akhir 1256 H (11 Agustus 1840 M), saat perahu sudah sampai di Bawehan Gresik.
Lamanya perjalanan yang ditempuh, dimungkinkan karena beliau juga sering mampir di sejumlah tempat di lintasan jarak antara Hijaz dan Tanah Jawi. Ini terbukti dari banyaknya catatan perjalanan dan nama-nama tempat yang beliau tulis, di sepanjang perjalanan Hijaz – Tanah Jawi.
Kecintaan Mbah Klotok terhadap Maulid Barzanji, sangat tampak dalam proses penulisan dua kitab itu. Beliau menulis landasan hadits, baru disusul menulis maulidnya. Dan itu semua ditulis saat berada di atas “Perahu” yang seolah menjadi simbol perjalanan hidup manusia, dalam mengarungi kehidupan dunia.
Berjanjen Perahu
Dalam konteks tradisi dan cerita tutur, di wilayah Jipang Padangan, Berjanjen pernah dikenal dengan istilah Perahu Barzanji atau Berjanjen Perahu. Sebuah ritual pembacaan Al Barzanji yang dilakukan para nelayan Bengawan dan petani di sawah pinggir bantaran sungai. Berjanjen Perahu menjadi tradisi penting bagi masyarakat Jipang yang hidup di pinggir Bengawan.
Pembacaan Maulid al Barzanji (Berjajen) dilakukan di dekat perahu, untuk mengantar para nelayan mencari ikan. Dengan harapan, selamat sampai tujuan dan pulang membawa banyak hasil tangkapan. Berjanjen juga dilakukan untuk mengantar perahu yang mengangkut hasil panen dari sawah-sawah berada di tepi Bengawan.
Dalam pemahaman yang lebih mendalam, masyarakat Padangan memaknai Berjanjen sebagai safinah keselamatan, “perahu” penyelamat kehidupan, yang ditumpangi manusia dalam meraih bermacam pengharapan. Berjanjen bukan sekadar teks yang dilagukan, tapi representasi kehadiran Kanjeng Nabi Muhammad SAW sebagai wasilah utama.
Berjanjen Perahu sebagai subkultur masyarakat Padangan, tentu terbukti secara ilmiah. Jipang Padangan pada abad 19 M, dipenuhi banyak langgar (musala) dan pusat pendidikan (pesantren) yang lokasinya berada di pinggir Bengawan. Titik kumpul dan pusat pertemuan warga, tak pernah jauh dari pinggir Bengawan.
Banyaknya warga yang berkumpul tak jauh dari lokasi Bengawan itulah, yang kelak melahirkan berbagai kesenian islam berbasis Bengawan. Berjanjen Perahu, Jedoran, dan berbagai kesenian Islam lainnya, secara alamiah lahir dari pertautan ekologis-antropologis tersebut.
Catatan dari Belanda
Kondisi Bengawan Padangan abad 19 M, terekam secara ilmiah melalui catatan seorang pelancong Belanda bernama A. J. Van der Aa dalam buku berjudul Beschrijving Der Nederlandsche Bezittingen In Oost-Indie (1857 M). Dalam catatan itu, Van der Aa menulis bahwa Padangan abad 19 M sebagai kota pelabuhan sungai.

Jika diterjemahkan secara bebas, catatan pelancong Belanda di atas berbunyi: “Di Kebong Ageng (Desa Kebonagung Padangan) juga terdapat perkebunan tembakau, dan juga dasar sungai yang lebar, dalam, dan berkapur, yang hanya berfungsi mengalirkan air pada musim hujan. Dari sini hingga Padangan tanahnya diolah dan dihuni” (Hal: 516)
“Padangan adalah Djipang kuno, terletak di Bengawan, 24 tiang barat Bodjo Negoro. Kota ini sangat bagus. Dari sini ada jalan menuju utara dari Rembang. Dulunya merupakan sebuah kabupaten yang besar dan terkenal dalam sejarah, namun sekarang menjadi tempat tinggal seorang Mantri…”. (Hal: 516)
Dari catatan di atas, terbukti bahwa Padangan merupakan kota transportasi Bengawan. Di mana, tanah yang ada di masing-masing sisi Bengawan, sudah sangat ramai karena diolah sebagai lahan pertanian tembakau. Selain itu, kawasan Bengawan juga dihuni banyak masyarakat.
Keberadaan pusat keramaian di pinggir Bengawan, memicu terbentuknya ruang diplomasi sosial-muamalah antara warga dan para pendatang yang mencari hasil panenan untuk diperdagangkan kembali ke wilayah pesisir. Pada abad 19 M, banyak pedagang mengambil bahan dagangan dari wilayah pedalaman untuk dijual ke pesisir.
Dari diplomasi muamalah inilah, komunikasi antara warga lokal dan para pendatang dari pesisir dipertautkan. Dan dari pertautan muamalah itu, memunculkan bermacam seni islam khas pesisiran di bantaran Bengawan. Ini alasan, pada abad 19 M, seni Jedoran dan Berjanjen begitu identik subkultur masyarakat Padangan.








