Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Peran Madin Dalam Membentuk Karakter Islami Anak-anak

Lailatus Shuima by Lailatus Shuima
22/07/2020
in JURNAKULTURA
Peran Madin Dalam Membentuk Karakter Islami Anak-anak

Selain mengajarkan konsep berbasis karakter, Madin juga mengajarkan keteladanan secara langsung. Ini alasan lembaga pendidikan non formal tersebut bisa bertahan di tataran sosial masyarakat kelas rendah maupun menengah.

Tentu tak heran ketika menemui lembaga Madin yang mulai banyak berdiri di tiap daerah. Seperti Madrasah Diniyah Roudhotul Mubtadi’in Sugihwaras Kabupaten Bojonegoro yang berdiri puluhan tahun dan masih bertahan hinga hari ini.

Akhir-akhir ini kebudayaan dan kultur keagamaan di tataran sosial masyarakat mulai terkikis dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, pasti ada beberapa faktor yang mempengaruhi dari setiap perubahan prilaku dan moral manusia didominasi oleh perkembangan dunia.

Perlu kita ketahui bahwa Modernisasi menjadi subjek faktual bahwa kehidupan sosial masyarakat mudah terbawa arus perkembangan zaman, seperti merambatnya gadged yang sudah dimiliki dari setiap anak didik disekolah formal maupun non-formal, ditambah lagi akses internet yang bisa djangkau disegala pelosok desa.

Kebudayaan dan kultur masyarakat yang ada kaitanya dengan keagamaan seperti mengaji di Mushola/Masjid yang sudah menjadi tradisi orang-orang terdahulu hari-hari ini mulai hilang.

Dengan demikian Madin Roudhatul Mubtadi’in memiliki peran penting dalam menetralisasi arus perkembangan modern terhadap santri-santri putra-putri. Kehadiran Madin menjadi solusi terbaik bagi masyarakat sekitar untuk menempa pendidikan baru dengan kitab-kitab klasik yang dipelajari oleh orang-orang terdahulu. Misalnya melatih mental santri dengan pelatihan Muhadoroh setiap se-minggu sekaligus hadrah.

Sementara itu karakter, secara bahasa, kata karakter berasal dari bahasa Yunani “chsrassein”, yang berati barang atau alat untuk menggores, yang dikemudian hari dipahami sebagai stempel/cap. Jadi, watak itu stempel atau cap, sifat-sifat yang melekat pada seseorang.

Watak sebagai sikap seseorang dapat dibentuk, artinya watak seseorang berubah, kendati watak mengandung unsur bawaan (potensi internal), yang setiap orang berbeda namun, watak amat sangat dipengaruhi faktor eksternal yaitu keluarga, sekolah, masyarakat, lingkungan pergaulan dan lain-lain.

Secara harfiyah karakter artinya kualitas mental atau moral, kekuatan moral, nama atau reputasi dalam kamus psikologi di nyatakan bahwa, karakter adalah kepribadian di tinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang yang biasanya mempunyai kaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan nilai-nilai prilaku manusia ysng berhubungan dengan Tuhan yang Maha Esa, diri sendiri sesama manusia, lingkungan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum,tata krama, budaya dan adat istiadat.

Oleh sebab itu, Madin Roudhotul Mubtadi’in menerapkan tiga metodologi dalam membentuk karakter Islam, antara lain; Mengajarkan pemahaman konseptual tetap membutuhkan sebagai bekal konsep-konsep nilai ke-islaman yang kemudian menjadi rujukan bagi perwujudan karakter tertentu.

Mengajarkan karakter berarti memberikan pemahaman pada peserta didik tentang struktur nilai tertentu, keutamaan (bila dilaksanakan), dan maslahatnya (bila tidak dilaksanakan).

Mengajarkan nilai memiliki dua faedah, pertama memberikan pengetahuan konseptual baru, kedua menjadi pembanding atas pengatahuan yang dimiliki oleh peserta didik. Karena itu, maka proses mengajarkan tidaklah monolog, melainkan melibatkan peran serta peserta didik.

Kedua Keteladanan; menempati posisi yang sangat penting. Guru Ngaji harus terlebih dahulu memiliki karakter yang diajarkan. Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru, peserta didik akan meniru apa yang dilakukangurunya ketimbang apa yang dilaksanakan sang guru.

Bahkan, sebuah pepatah kuno memberi suatu peringatan pada para guru bahwa peserta didik akan meniru karakter negatif secara lebih ekstrem ketimbang gurunya “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.

Keteladanan tidak hanya bersumber dari guru, melainkan juga dari seluruh manusia yang ada di lembaga pendidikan tersebut, dan juga bersumber dari orang tua, karib kerabat, dan siapapun yang sering berhubungan dengan peserta didik. Pada titik ini, pendidikan karakter membutuhkan lingkungan pendidikan yang utuh, saling mengajarkan karakter.

Menentukan skala prioritas; Penentuan prioritas yang jelas harus ditentukan agar suatu proses evaluasi atas berhasil tidaknya pendidikan karakter dapat menjadi jelas. Tanpa prioritas, pendidikan karakter tidak dapat terfokus, sehingga tidak dapat dinilai berhasil atau tidak berhasil.

Pendidikan karakter menghimpun kumpulan nilai yang dianggap penting bagi pelaksanaan dan realisasi visi lembaga. Oleh karena itu, lembaga pendidikan memiliki beberapa kewajiban:

Dengan standarisasi metodologi itulah dirasa cukup dalam meunjang kapasitas dan potensi santri dalam menetralisasi arus perkembangan, karena konsep menghafal saja tidak akan mebentuk pada pola berpikir santri jika tidak ada pemahamanan yang signifkan, lebih lagi pada taraf keteladanan Guru dan beberapa skala prioritas yang lebih utama diberikan kepada santri-santri supaya bisa menelaah dari setiap kehidupan lingkungan yang ada disekitar.

 

Lailatus Shuima merupakan Mahasiswi Institut Agama Islam Kabupaten Ngawi Provinsi Jawa Timur. Tulisan ini sebagai pemenuhan tugas PPM/DR (Pratikum Pengabdian Masyarakat Dari Rumah).

Tags: MadinMadrasah DiniyahPendidikan
Previous Post

Bekicot sebagai Pakan Ternak, Kenapa Tidak?

Next Post

Gugus Tugas Covid-19 Ganti Nama, Solusi yang Sungguh Kedjawen

BERITA MENARIK LAINNYA

Skateboard Bojonegoro Makin Diminati, Anggota Komunitas Bertambah Usai Kejuaraan Nasional
JURNAKULTURA

Skateboard Bojonegoro Makin Diminati, Anggota Komunitas Bertambah Usai Kejuaraan Nasional

06/09/2026
Buluqiya dan Tujuh Lautan Menuju Ujung Dunia
JURNAKULTURA

Buluqiya dan Tujuh Lautan Menuju Ujung Dunia

27/08/2026
Ketika Kekuasaan Kehilangan Akal Sehat, Membaca Novel Garcia Marquez
JURNAKULTURA

Ketika Kekuasaan Kehilangan Akal Sehat, Membaca Novel Garcia Marquez

25/08/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Dari Jemari Perempuan Desa, Rajutan Bojonegoro Menembus Pameran Jabanusa

Dari Jemari Perempuan Desa, Rajutan Bojonegoro Menembus Pameran Jabanusa

17/09/2026
Lokakarya Media 2026: Ketika Industri Butuh Cerita

Lokakarya Media 2026: Ketika Industri Butuh Cerita

17/09/2026
SKK Migas: Pers Profesional Jadi Mitra Strategis Industri Hulu Migas

SKK Migas: Pers Profesional Jadi Mitra Strategis Industri Hulu Migas

16/09/2026
Ketika Tanah Bertemu Kekuasaan

Ketika Tanah Bertemu Kekuasaan

16/09/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: