Transaksi jual beli dengan menggunakan e-money atau uang elektronik di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Itu menyebabkan pergeseran budaya masyarakat Indonesia dalam transaksi jual beli sehari-hari.
Salah satu gerai minuman di Tunjungan Plaza Surabaya nampak ramai pada Kamis (9/1/2020). Terlihat belasan orang yang mayoritas adalah anak muda, rela antre untuk membeli minuman cincau kekinian.
Penyebab dari banyaknya orang yang mengantre di gerai tersebut adalah promo besar. Lebih spesifiknya lagi, ada promo besar yang diberikan dengan syarat pembayaran menggunakan uang elektronik dari salah satu penyedia layanan dompet digital.
“Lumayan Mas, dapat potongan sampai 50 persen,” ujar Fikri, salah satu orang yang ikut mengantre.
Itu dia alasannya. Belasan orang tersebut mengantre untuk mendapatkan minuman cincau kekinian dengan harga yang lebih murah dari biasanya.
Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, transaksi jual beli dengan menggunakan e-money atau uang elektronik mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Itu menyebabkan pergeseran budaya masyarakat Indonesia dalam transaksi jual beli sehari-hari.
Dari data yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia nilai transaksi meningkat 100 kali lipat lebih. Jumlah tersebut diperkirakan terus naik mengingat belum masuknya data bulan Oktober hingga Desember. Diyakini, nilai transaksi uang elektronik pada 2019 menembus angka Rp 100 triliyun lebih.
Pada 2010 lalu, jumlah uang elektronik baru mencapai 7,9 juta unit dengan transaksi Rp 693,47 miliar. Namun, sampai akhir September 2019, jumlah uang elektronik telah melonjak 31 kali lipat menjadi 25,1 juta unit. Demikian pula nilai transaksi meningkat 137 kali lipat menjadi Rp 95,75 triliun.
Menurut Gubernur BI, Perry Warjiyo, peningkatan transaksi uang elektronik di Indonesia sejalan dengan preferensi masyarakat terhadap uang digital yang terus menguat serta didukung oleh ekosistem digital yang makin meluas.
“Ke depan, Bank Indonesia terus meningkatkan peran sistem pembayaran dalam mendukung pertumbuhan ekonomi termasuk secara aktif mendorong transformasi ekonomi dan keuangan digital,” ujar Perry seperti dikutip dari Kompas.com
Diskon dan Cashback Pengaruhi Peningkatan Transaksi lewat Dompet Digital
Peningkatan nilai transaksi uang elektronik di Indonesia tak bisa dilepaskan dari peran penyedia aplikasi dompet digital. Banyaknya penawaran potongan harga yang diberikan, membuat masyarakat beramai-ramai mengunduh dan memindahkan uangnya ke dompet digital.
Di Indonesia sendiri, ada beberapa penyedia layanan dompet digital yang banyak dipilih masyarakat. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), terdapat 38 dompet digital (e-wallet) dengan lisensi resmi.
Ada 2 platform yang merajai layanan dompet digital di Indonesia. Pertama, ada Gopay yang merupakan platform pembayaran milik Gojek. Kemudian Ovo yang bekerjasama dengan Grab. Sampai saat ini, Gopay dan Ovo masih menjadi penguasa dompet digital di tanah air.
Selain kedua nama tadi, sebenarnya ada beberapa dompet digital lain yang cukup populer. Sebut saja Dana, LinkAja, Jenius, Sakuku, dan Doku. Namun dari segi nilai dan transaksi, mereka masih kalah dengan Gopay dan Ovo.
Data Dompet Digital dengan Transaksi Tertinggi di Indonesia
Gopay dan Ovo jadi penguasa layanan dompet digital Indonesia karena sering memberikan promo. Keduanya sering menebar diskon dan promo gila-gilaan. Contohnya seperti antrean panjang di gerai cincau kekinian Tunjungan Plaza Surabaya.
Iming-iming diskon maupun cashback itu ternyata mampu mendongkrak nilai transaksi Gopay dan Ovo. Jadi jangan heran, jika keduanya jadi dompet digital yang paling sering digunakan oleh masyarakat.
Eksistensi uang elektronik punya dampak positif bagi masyarakat. Selain menyederhanakan sistem pembayaran, uang elekronik juga membuat masyarakat tak perlu wara-wiri ke ATM untuk mengambil uang. Proses pembayaran jadi lebih cepat dan tak perlu bingung masalah uang kembalian.
Budaya menggunakan uang elektronik ini diperkirakan akan terus meluas. Sekarang, transasksi besar didominasi oleh kota-kota besar saja. Seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Jogja, atau Bali. Agak njomplang memang, ketika dibandingkan dengan daerah di level kabupaten.
Namun bukan tidak mungkin jika masyarakt yang tinggal di berbagai kabupaten di Indonesia mulai melirik uang elektronik sebagai pengganti uang tunai dalam kehidupan sehari-hari.








