Apabila kita kehilangan intan, permata, berlian, atau beragam benda berharga lainnya, mungkin esok atau lusa masih bisa mencari dan membelinya kembali. Apabila kita kehilangan kekasih, barangkali cepat atau lambat, penggantinya akan datang menghampiri kita.
Lalu, sekarang pertanyaannnya, jika kita kehilangan Tanah Air, ke mana lagi kita harus mencarinya? Apakah harus hijrah ke negeri antah berantah untuk mengungsi dan mengemis kewarganegaraan yang baru?
Entahlah, tapi kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi. Namun, saya rasa, hati nurani kita justru tidak ingin beranjak dari Bumi Pertiwi. Sebab itulah, sudah seharusnya negeri ini terus-menerus dijaga dan dirawat.
Rasa-rasanya, setiap putra-putri Indonesia memikul kewajiban yang sama yakni untuk mempertahankan kemerdekaan ini hingga akhir masa. Selain itu, jangan sampai kita, khususnya generasi muda, hanya sekadar menjadi generasi penikmat.
Namun, di sisi lain, enggan untuk mempersembahkan pengabdian kita untuk mengisi kemerdekaan. Memang betul, kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan. Memang benar, kepergian imprealis dan kolonialis bukan garis finish dari sebuah perjalanan bangsa ini.
Kemerdekaan hanyalah jembatan emas menuju cita-cita yang lebih luhur dan agung. Seperti yang telah dicantumkan dalam pembukaan UUD 1945 yakni bahwa berdirinya negera ini di antaranya yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Saya pun bertanya-tanya, puluhan tahun sejak kemerdekaan, sudah sejauh mana kemajuan yang kita rasakan dan nikmati hari ini? Apakah seluruh penduduk di Indonesia, dari Sabang hingga Merauke, telah menikmati betul yang namanya kemerdekaan?
Dua pertanyaan tersebut, mari kita renungi sendiri. Jangan-jangan selama ini kita hanya berjalan di tempat. Tidak ke mana-mana. Ada yang keliru dan salah kaprah dalam tata kelola pemerintahan. Bagaimana tidak; kekayaan alam yang melimpah yang kita miliki, ternyata belum sepenuhnya mampu mangangkat harkat dan martabat rakyat.
Bahkan, sebagian pengamat, analis, dan akademisi mengemukakan bahwa demokrasi di negeri ini dibajak oleh kelompok oligarki yang hanya mementingkan diri dan golongannya. Hal itu nampak jelas dan terang-benderang manakala distribusi pendapatan, aset, dan kekayaan yang semakin timpang.
Kesenjangan sosial semakin lebar. Pengangguran di mana-mana. Korupi, kolusi, dan nepotisme (KKN) juga seakan semakin tumbuh subur. Yang sedang kita lawan dan perangi ternyata adalah kelakuan dan tabiat sesama anak bangsa yang mirip Bandit. Bahkan, bisa disebutkan lebih parah dari bandit, sebab mereka sejatinya tikus-tikus berdasi yang merongrong anggaran yang harusnya menjadi hak rakyat.
Belum lagi, kompleksitas tantangan yang sedang dihadapi kaum muda sebagai penerus kepemimpinan bangsa. Mulai dari minuman keras, narkoba, judi online, pornografi, pergaulan bebas, tawuran, kekerasan seksual, dan semacamnya.
Ditambah lagi, krisis nasionalisme yang sudah menjangkiti sebagian pemuda kita. Mau dibawa ke mana nasib bangsa ini jika penerusnya justru dibiarkan rusak mental dan karakternya. Hal ini tentunya, menambah tugas pemerintah untuk mengatasinya dengan penuh keseriusan. Sebab, melindungi generasi muda berarti melindungi tumpah darah Indonesia. Menangkal segala hal yang berpotensi merusak pikiran, jiwa, dan mentalitasnya.
Selanjutnya, di bidang ekonomi, kita pun terseok-seok dalam membangun dan menatanya. Sistem ekonomi kerakyatan hanya diseminarkan, dilokakaryakan, didiskusikan, dan dirapatkan. Namun, hingga hari ini sebatas wacana. Sama sekali tidak tercerminkan dalam dalam denyut nadi perekonomian kita hari ini. Ekonomi berbasiskan keadilan sosial belum mampu kita wujudkan.
Buktinya, hanya segelintir orang yang memiliki aset dan kekayaan yang jumlahya fantastis. Di sisi lain, masih banyak orang yang untuk sekadar bertahan hidup saja perjuangannya mati-matian. Belum lagi persoalan kemiskinan dan sukarnya mencari lapangan kerja. Di mana peran pemerintah?
Apakah pejabat kita pura-pura buta dan tuli, seakan-akan semua berjalan normal? Entahlah. Yang jelas, ini menjadi penanda bahwa secara hakiki kita belum merdeka. Jepang dan Belanda memang sudah tidak lagi bercokol di negeri ini.
Tapi, percayalah dan yakinlah, bahwa perjalanan kita masih panjang. Perjuangan belumlah berakhir.
Kemudian, peran dan tanggung jawab pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa juga masih belum optimal.
Ragam persoalan dalam dunia pendidikan seolah tiada henti bermunculan. Semakin banyak dan kompleks. Mulai dari kesenjangan fasilitas pendidikan dan kualitas tenaga pendidik antar-wilayah, kesejahteraan guru dan dosen, akses pendidikan yang belum setara, relevansi kurikulum, dan lain sebagainya.
Sejumlah masalah itu, hemat saya, cukup berpengaruh pada putra-putri bangsa, terutama yang di pelosok daerah terpencil, untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas. Mari kita sadari dan pahami perjuangan bangsa ini belum tamat. Kita semua sedang berjuang melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.
Kita sedang berjuang mewujudkan pemerintahan yang bersih, akuntabel, transparan, dan bertanggung jawab. Pemerintahan yang benar-benar mengayomi dan melayani masyarakat. Pemerintahan yang memiliki kepekaan dan kepedulian yang tinggi terhadap masa depan generasi muda.
Oleh sebab itulah, dibutuhkan sosok pemimpin yang teladan, inspiratif, kharismatik, tegas, cerdas, jujur, visioner dan berani mengambil risiko dalam setiap keputusan dan aturan yang ditetapkan. Dalam hal ini, rakyat menjadi prioritas utamanya. Dengan begitu, bukan tidak mungkin, suatu saat nanti, secara perlahan, Indonesia akan menjadi bangsa dan negara yang maju. Bukan suatu hal yang mustahil, Indonesia Emas 2045 akan terwujud.
Tugas kita adalah berbenah, terus bergerak, dan berani berinovasi. Kita harus berani keluar dari zona nyaman. Menjadi bangsa yang berdaya saing tinggi. Bahkan, mampu melampui negara-negara adidaya di dunia ini. Sebab sekali lagi, kita masih akan dan selalu terus berjuang. Optimisme harus tetap menyala dari waktu ke waktu. Ayo, bangunkan jiwa dan raga kita untuk Indonesia Raya.
*) Muhammad Aufal Fresky adalah alumni FEB Unair dan penulis buku Empat Titik Lima Dimensi








