Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Pulang Tanpa Riuh

Toto Rahardjo by Toto Rahardjo
19/03/2026
in Cecurhatan
Pulang Tanpa Riuh

Pulang Tanpa Riuh

Dan Idul Fitri, akhirnya, bukan garis akhir. Ia hanya sebuah cermin yang disodorkan secara tiba-tiba: lihatlah dirimu, tanpa hiasan, tanpa alasan. Apa yang benar-benar berubah?

Ada yang ganjil setiap kali kita mengucapkan kemenangan. Seolah-olah sesuatu telah selesai, padahal di dalam diri, pertempuran itu justru belum pernah benar-benar dimulai dengan jujur. Kita merayakan sesuatu yang belum kita menangkan. Kita mengucapkan selamat, sambil diam-diam tahu: kita masih mudah tersinggung, masih ingin lebih dari yang perlu, masih menyimpan iri yang kecil tapi keras kepala.

Bulan puasa datang seperti seorang guru tua yang tidak banyak bicara. Ia tidak memaksa kita menjadi suci—ia hanya memberi jeda. Dari makan. Dari amarah. Dari hasrat untuk selalu merasa benar. Tapi manusia, seperti biasa, pandai mengubah jeda menjadi sekadar rutinitas. Sahur menjadi kebiasaan. Berbuka menjadi pesta kecil. Dan lapar, yang seharusnya mengajarkan batas, sering kali hanya berakhir sebagai hitungan waktu menuju kenyang.

Di kota-kota, lampu-lampu menyala lebih terang menjelang lebaran. Diskon menggoda. Jalanan padat oleh orang-orang yang ingin pulang, atau setidaknya ingin merasa pulang. Kita membeli baju baru, seakan-akan kain bisa menutupi sesuatu yang lebih dalam: ketidakmampuan kita menanggalkan diri yang lama.

Sementara itu, di sudut-sudut yang tidak ikut difoto, ada orang-orang yang tetap bekerja, tetap lapar, tetap tidak punya pilihan selain bertahan. Mereka tidak bicara tentang kemenangan. Mereka hanya ingin cukup.

Maka mungkin benar: tak ada kemenangan. Bahkan mengalahkan diri sendiri—yang paling dekat, paling kita kenal—kita sering gagal. Ego itu licin, serakah itu sabar. Ia tidak pergi hanya karena kita menahannya tiga puluh hari. Ia menunggu. Dan ketika pintu dibuka, ia kembali duduk di kursi yang sama, seolah tidak pernah terusir.

Puasa, barangkali, bukan tentang berhasil atau gagal. Ia hanya latihan. Seperti mengulang-ulang huruf yang sama agar tangan tidak gemetar saat menulis makna. Tapi latihan tidak pernah menjamin kita lulus. Ia hanya memberi kesempatan.

Dalam tahun-tahun yang terasa berat, mudik tidak lagi sekadar peristiwa, melainkan pilihan yang diam-diam menguji makna pulang itu sendiri. Dulu, jalanan yang padat, klakson yang bersahut-sahutan, koper yang dijejalkan sampai tak bisa ditutup—semuanya seperti bagian dari ritual. Seakan tanpa riuh itu, mudik kehilangan sahnya. Tapi kini, ketika hidup terasa makin sempit oleh harga-harga yang naik dan harapan yang sering ditunda, kita mulai belajar: pulang tak selalu harus gaduh.

Ada yang memilih berangkat dini hari, ketika jalan masih lengang, ketika kota belum sepenuhnya sadar bahwa ia akan ditinggalkan sementara. Ada yang menunda mudik, atau bahkan membatalkannya, bukan karena tak rindu, tapi karena perhitungan yang tak bisa diabaikan. Rindu, kali ini, harus berhadapan dengan ongkos.

Di rumah-rumah yang ditinggalkan, ada doa yang dikirim tanpa perjalanan. Di rumah-rumah yang dituju, ada penerimaan yang tak lagi menuntut oleh-oleh atau cerita besar—cukup kabar bahwa kita baik-baik saja, meski itu pun kadang terasa seperti usaha yang tidak ringan.

Mudik, dalam kesunyian seperti ini, menjadi lebih jujur. Ia tak lagi tentang menunjukkan keberhasilan, atau membawa pulang tanda-tanda kemenangan yang seringkali semu. Ia kembali ke asalnya: keinginan sederhana untuk kembali, untuk menyapa, untuk diakui sebagai bagian dari sesuatu yang lebih luas dari diri sendiri.

Maka benar, dalam suasana yang serba sulit, mudik tak harus hingar bingar. Ia bisa menjadi perjalanan yang pelan, bahkan nyaris tak terlihat—tapi justru di situlah, mungkin, kita akhirnya benar-benar pulang.

Dan Idul Fitri, akhirnya, bukan garis akhir. Ia hanya sebuah cermin yang disodorkan tiba-tiba: lihatlah dirimu, tanpa hiasan, tanpa alasan. Apa yang benar-benar berubah?

Kita tetap mengucapkan: Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.

Barangkali bukan karena kita sudah selesai, melainkan karena kita sadar—kita masih harus mulai lagi.

 

Tags: Catatan Toto RahardjoMakin Tahu IndonesiaPulang Lebaran 2026Refleksi Mudik 2026
Previous Post

Bruno Guiderdoni: Keseimbangan Sains, Quran, dan Iman

Next Post

Di Kota Bojonegoro, Parade Oklik Semarakkan Penghujung Ramadan

BERITA MENARIK LAINNYA

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
Di Antara Embargo dan Martabat
Cecurhatan

Di Antara Embargo dan Martabat

07/04/2026
Negara Arab: Perjanjian Dinasti Saudi dan Keluarga Wahabi
Cecurhatan

Negara Arab: Perjanjian Dinasti Saudi dan Keluarga Wahabi

05/04/2026

Anyar Nabs

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
Dari Pildacil hingga Olimpiade, Ar-Ridwan Competition 2026 Latih Mental Juara

Dari Pildacil hingga Olimpiade, Ar-Ridwan Competition 2026 Latih Mental Juara

12/04/2026
Seorang Pemuda di Rembang Jadikan Bibit Mangga sebagai Mahar Pernikahan

Seorang Pemuda di Rembang Jadikan Bibit Mangga sebagai Mahar Pernikahan

12/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: