Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Refleksi Hari Buku: Jangan Hanya Berhenti di Buku 

M. Sa'ad Alfanny by M. Sa'ad Alfanny
24/04/2025
in Cecurhatan
Refleksi Hari Buku: Jangan Hanya Berhenti di Buku 

Hari Buku Dunia 2025

Tanggal 23 April setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Buku Sedunia, yang tidak sekadar menjadi seremoni simbolik, melainkan menggarisbawahi posisi strategis buku sebagai instrumen pembentuk pengetahuan, identitas kultural, dan fondasi peradaban manusia.

Dalam lanskap informasi kontemporer yang ditandai oleh derasnya arus digital dan maraknya konten instan, buku tetap mempertahankan relevansinya sebagai ruang kontemplatif dan sumber narasi mendalam yang tidak dapat tergantikan.

 

 

Buku tidak hanya menyimpan gagasan, melainkan menjadi artefak historis yang mendokumentasikan perjuangan kolektif umat manusia dalam mempertahankan nilai-nilai fundamental seperti martabat, keadilan, dan kebebasan. Namun demikian, buku tidak dapat dimaknai sebagai titik akhir dari proses pencarian makna.

Menghentikan perjalanan intelektual hanya pada aktivitas membaca tanpa mengaktualisasikan isi bacaan dalam tindakan nyata, berisiko melahirkan pemahaman yang stagnan dan diskursus yang tidak produktif.

Di sinilah urgensinya bersikap kritis terhadap budaya literasi yang terjebak dalam konsumsi pengetahuan pasif.

Buku yang benar-benar bernilai adalah yang mampu menggugah kesadaran, mendorong keberanian untuk menyuarakan kebenaran, serta menumbuhkan komitmen terhadap perubahan sosial.

Dengan kata lain, fungsi transformatif dari literasi harus dikedepankan: membaca sebagai langkah awal menuju praksis.

Dalam konteks kekinian, tantangan literasi bukan hanya tentang minat baca, tetapi bagaimana isi buku menjadi kesadaran kolektif dalam merespons isu-isu sosial.

Buku tentang kebebasan berekspresi, misalnya, menjadi sangat relevan di era ketika suara-suara kritis sering dibungkam atau dimarginalkan.

Membaca karya Pramoedya, Mochtar Lubis, hingga Nawal El Saadawi, harus lebih dari sekadar apresiasi sastra. Itu harus menjadi semangat untuk membela hak bersuara mereka yang tertindas, menghidupkan kembali ruang-ruang diskusi, serta melawan budaya anti-intelektualisme yang kian menguat.

Demikian pula buku-buku yang membahas ekologi dan krisis lingkungan. Kita tidak bisa puas, membaca karya atau pemikiran tokoh-tokoh lingkungan hidup Indonesia seperti WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), atau refleksi ekologis, dan penafsiran-penafsiran ekologis, tidak cukup bila berhenti pada apresiasi teoritis semata.

Informasi dan kesadaran yang diperoleh dari sumber-sumber tersebut harus diwujudkan dalam tindakan konkret seperti menurunkan konsumsi energi, melestarikan kawasan hutan dan sungai, serta melakukan kritik aktif terhadap sistem ekonomi ekstraktif yang terus mengeksploitasi sumber daya alam demi kepentingan akumulasi kapital.

Literasi ekologis seharusnya melampaui tataran pemahaman personal dan berkembang menjadi kesadaran kolektif yang mendorong transformasi struktural dalam kebijakan, budaya konsumsi, dan orientasi pembangunan nasional. Begitu pula dengan isu gender, yang semakin menjadi pusat perbincangan global.

Buku-buku feminis yang membahas tentang Amina Wadud, hingga Kecia Ali, hingga pemikiran Kartini bukan untuk sekadar dikutip dalam seminar atau makalah. Ia harus menjadi landasan dalam membangun ruang yang setara baik di rumah, sekolah, tempat kerja, maupun ruang keagamaan.

Literasi gender mengajak kita untuk tidak hanya memahami ketimpangan, tetapi juga berani meruntuhkan norma-norma yang menindas, dan memperjuangkan keadilan bagi semua.

Pada intinya, di Hari Buku Sedunia ini, mari kita rayakan buku bukan hanya sebagai benda untuk dibaca, tetapi sebagai pemicu perubahan.

Biarkan ia menjadi awal dari perjalanan, dari tahu menjadi sadar, dari sadar menjadi peduli, dan dari peduli menjadi pelaku perubahan.

Buku harus keluar dari rak, berjalan dalam pikiran, dan bergerak dalam tindakan. Karena sejatinya, membaca adalah langkah pertama, bertindak adalah bentuk tertinggi dari apresiasi.

Tags: Hari Buku DuniaHari Buku Sedunia
Previous Post

Hukum Tuhan: Membaca Ulang Wahyu Bersama Omar Farahat

Next Post

Presiden yang Kemana-mana Mengenakan Sandal!

BERITA MENARIK LAINNYA

Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan
Cecurhatan

Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan

02/06/2026
Jejak Intelijen Indonesia dan Tokoh di Baliknya
Cecurhatan

Jejak Intelijen Indonesia dan Tokoh di Baliknya

29/05/2026
Sebuah Saung di Pinggir Sawah Seleksi Tanaman, Klaten. Sore Hari
Cecurhatan

Sebuah Saung di Pinggir Sawah Seleksi Tanaman, Klaten. Sore Hari

28/05/2026

Anyar Nabs

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme

02/06/2026
Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan

Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan

02/06/2026
Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno

Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno

01/06/2026
Ekspedisi Naga Api Menelisik Situs Janjang dan Sejarah Perminyakan Pra-Kolonial

Ekspedisi Naga Api Menelisik Situs Janjang dan Sejarah Perminyakan Pra-Kolonial

31/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: