Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Resensi Buku: Santiago dalam The Alchemist

M. Jager Ramadhani by M. Jager Ramadhani
19/09/2025
in Cecurhatan
Resensi Buku: Santiago dalam The Alchemist

Santiago dalam The Alchemist

Saya teringat terakhir kali membaca Sang Alkemis karya Paulo Coelho pada April tahun lalu. Kini, tepat setahun sudah berlalu sejak saya menamatkan buku itu. Bagi saya, buku ini begitu berkesan. Bukan karena gaya penulisan atau pilihan katanya, melainkan karena ceritanya yang mampu hidup dalam pikiran dan hati saya selama setahun penuh. Buku ini tak pernah saya sesali untuk dibaca ulang—bahkan ketika saya menamatkannya untuk kedua kalinya.

Baca Juga: Suwuk Alkemia, Silaturahim pada Pepohonan Tua 

Alurnya terasa sangat mudah dipahami, tidak berbelit-belit, dan penggambaran karakternya sederhana—tidak rumit, sehingga cocok bagi pembaca awam seperti saya. Buku ini berkisah tentang seorang gembala bernama Santiago yang bermimpi tentang harta karun dan bertekad mencarinya di dunia nyata.

Dalam mimpinya, harta karun itu tersembunyi di bawah piramida, di seberang benua. Kalau dia hidup di zaman sekarang, mungkin sudah dianggap gila, hehehe.

Namun dalam kisah itu, Santiago bertemu seorang peramal Gipsi yang membacakan mimpinya. Anehnya, sang peramal justru meyakinkan Santiago untuk mengejar harta tersebut, sambil berkata—kalau saya tidak salah ingat—”Saya tidak ingin kau bayar sekarang, tapi saya ingin separuh dari harta karunmu kelak.” Selain peramal, Santiago juga bertemu seorang raja di sebuah alun-alun kota, yang memberinya dua batu ajaib. Batu itu makin menguatkan tekad Santiago untuk mengikuti mimpinya—mimpi yang muncul saat ia tidur di bawah pohon, di samping gereja tua.

Dalam cerita itu tergambar jelas perjuangan seorang pemimpi yang rela berkorban demi mengejar takdirnya. Santiago menjual semua kambing yang selama ini ia rawat layaknya anak sendiri, demi bisa menyeberang ke benua lain. Ia pun rela meninggalkan gadis cantik—putri si tengkulak bulu—yang menjadi tempatnya menjual bulu domba saat musim panen tiba. Yang paling menyayat adalah ketika ia tiba di benua impiannya, namun langsung dirampok dan harus hidup menggelandang. Ia terpaksa bekerja pada seorang pedagang kaca demi menyambung harapan.

Ada satu kutipan dalam buku itu yang masih lekat dalam ingatan saya:

“Kami, hati manusia, berbicara makin pelan dan makin pelan. Kami tak pernah berhenti berbicara, tapi kami mulai berharap suara kami tak lagi didengar—sebab kami tak ingin orang-orang menderita karena mereka tak mengikuti suara hati mereka.”

“Mengapa hati manusia tidak menyuruh mereka terus mengejar impian-impian mereka?” tanya si anak penggembala kepada sang Alkemis.

“Sebab itu akan membuat hati sangat menderita. Dan hati tidak suka menderita,” jawab sang Alkemis.

Sejak bagian itu, Santiago mulai memahami suara hatinya—dan di situlah saya jatuh cinta pada buku ini, hehehe.

Pedih rasanya membaca bagaimana ia bertemu sosok Fatimah, perempuan yang mencintainya, di sebuah oasis tempat ia singgah sementara karena perang suku menghambat perjalanannya. Ia harus meninggalkan Fatimah. Dan saat itulah sang Alkemis kembali berbicara:

“Kau harus mengerti, cinta tak pernah menghalangi seseorang untuk mengejar takdirnya. Jika ia melepaskan impian-impianya, maka cintanya bukan cinta sejati—bukan cinta yang memahami bahasa semesta.”

Membayangkan gejolak hati seorang lelaki yang rela meninggalkan cinta demi takdirnya sungguh menyayat. Tapi saya yakin, pada akhirnya ia akan kembali kepada Fatimah—karena cinta lelaki itu, aduh, luar biasa, pakkk!

Bahkan ketika ia nyaris mendapatkan harta karun tepat di bawah piramida seperti dalam mimpinya, ia malah dipukuli oleh seorang pengungsi yang kehabisan uang. Ironisnya, pemuda itu justru memberi petunjuk penting: ia juga pernah bermimpi tentang harta karun, yang katanya tersembunyi di sebuah gereja tua di Spanyol—tempat para gembala biasa tidur di bawah pohon sycamore, di antara reruntuhan sakristi. Dan ya, di sanalah akhirnya Santiago menemukan harta karunnya—tepat di bawah tempat ia tidur saban malam saat menggembala.

Cerita ini sangat menarik bagi saya. Saya rasa buku ini cocok dibaca oleh teman-teman yang sedang bingung tentang masa depan, atau sering overthinking, hehehe. Untuk pelajar SMA juga pas banget. Ceritanya yang sederhana namun penuh makna bisa jadi hiburan alternatif saat TikTok, Instagram, atau media sosial lain mulai terasa membosankan.

Banyak kutipan mengatakan: hanya butuh satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Mungkin, The Alchemist bisa jadi buku itu. Siapa tahu—mungkin buku ini bisa menjadi jembatan yang akan mengubah hidupmu. Who knows?

Tags: Bedah BukuResensi BukuThe Alchemisy
Previous Post

Aktualisasi Diri Perempuan di Platform Digital: Antara Standar Kecantikan dan Pemberdayaan

Next Post

Demi Kuasai Penulisan Berita, PPM dan KIR Madrasah Attanwir Gelar Diklat Jurnalistik

BERITA MENARIK LAINNYA

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)
Cecurhatan

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

13/01/2026
Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur
Cecurhatan

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas
Cecurhatan

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026

Anyar Nabs

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

13/01/2026
Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

11/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: