Kisah Kimpluk dan teman-temannya dalam menghadapi dilema hidup, yang sesekali serius dan berkali-kali tidak.
Malam itu Kimpluk ingin bertemu dengan teman-temannya, karena sudah lama tak bertemu. Akhirnya mereka memutuskan untuk berkumpul di kampus, di parkiran pinggir masjid dengan bias temeram pelita yang tak begitu terang.
Dan kebetulan kala itu, memang tidak hanya sekadar bersilaturahmi, namun ada agenda lain yang ingin dibicarakan.
Ada beberapa temannya yang mengusulkan untuk membuat nama kumpulan atau semacam organisasi yang anggotanya hanya beberapa gelintir orang lulusan dari sebuah SMA Negeri itu.
Kimpluk menyambut dengan antusias ajakan para temannya, yang sebelumnya ia komunikasikan dalam group Faceebook & WA.
Dan berkumpulah mereka di malam yang sedikit mendung, tak banyak gemintang yang mau nampang.
Dan benar, dari 19 atau 20 jumlah teman/anggota group WA-nya yang bisa hadir hanya 4 orang.
Namun, hal itu lantas tak menyurutkan semangat dan kerinduan mereka untuk berjumpa, bersua bersama.
Kimpluk kali ini datang lebih terlambat, bukan berarti biasanya ia on time. Namun terlambatnya kali ini lebih lama, hampir satu jam.
Kalau biasanya ia terlambat paling lama setengah jam atau 45 menit. Pokoknya selalu terlambat. Ia datang saat ketiga temannya sudah berkumpul, yang sudah datang sejak tadi.
Dan mereka pun saling melempar salam, menanyakan kabar, perkuliahan, sesekali menyinggung perkawinan yang kadang bikin mabuk kepayang dan tentu tak lupa membahas rencana untuk membuat organisasi kumpulan mereka ini. Singkat cerita, diskusi telah dimulai.
___
“Biar Resmi perkumpulan kita, gak grudak-gruduk”, ucap salah satu teman Kimpluk di tengah-tengah pembahasan pembentukan organsisasi. Dan dengan cepat si Kimpluk menyambar ucapan temannya itu. “Grudak Gruduk gimana maksudnya?”
Memang dasar si Kimpluk ini begitu doyan dengan sebuah diskusi atau rapat.
“Iya kita ini kan sudah lama kumpul, kurang lebih 3 setengah tahun nan, dan jika kita ada acara silaturrohmi, penyuluhan, atau mengadakan briefing di sekolah-sekolah SMA selalu saja tak bisa berjalan dengan lancar, pasti tergendala dengan masalah administrasi, yaitu proposal, ataupun koordinasi”. Sahut temannya.
Agenda rutin perkumpulan mereka ini adalah melakukan briefing atau tukar pengalaman untuk nanti pra-masuk dunia perkuliahan di sekolah SMA nya dulu.
Tak mau lama-lama, Kimpluk kembali menyambungnya, “Iya juga sih”. Ia mengangguk, “Tapi kan kemarin kita diberi keringanan, karena pihak sekolah mengetahui kita ini bukan terikat atau pun terwadahi semacam organisasi, tak lebih hanya sebuah kumpulan, paguyuban, atau geng barangkali.
Makanya cukup hanya dengan membuat surat yang kita buat sendiri, tanpa logo ataupun nama organisasi, dan itu juga sah-sah saja secara administrasi bukan?”. Kalimat si Kimpluk ini sontak membuat teman-temannya sedikit tak suka.
Dan benar saja, temannya tadi menyambungnya: “Justru karena itu Pluk, agar kita bisa mudah melakukan briefing kita bentuk organisasi”.
“Nah, bukannya kemarin-kemarin kita juga sudah briefing, dan berjalan dengan lancar-lancar saja walau tanpa proposal, atau tendensi apapun. Selain nama Geng kita ini?”
“Ya, gak bisa Pluk. Kamu ini gimana? Yang namanya kegiatan apapun itu harus ada proposalnya, biar jelas. Kita Ini siapa dari mana, mau apa?”. Kali ini temannya yang berjilbab itu mulai kesal. Sementara dua teman lainnya hanya diam.
Memang teman-teman Kimpluk banyak yang memilih untuk tutup mulut daripada harus meladeni orang yang asal njeplak, yang malah terkesan ‘mematikan’ ide atau gagasan temannya.
Sekaligus pertanyaan yang mbulet dan sebenarnya juga tak perlu diucapkan sekaligus kadang melontarkan argumen-argumen atau anekdot yang membuat teman-temannya pesimis plus sinis.
Teman-temanya seketika itu kadang mau tak mau harus menjelma sosok seorang ibu yang lagi ngemong anaknya. Karena jika melawan, si Kimpluk ini bisa jadi akan nangis, bergelesotan di tanah dan berguling-guling.
Ia akan merengek, persis anak kecil yang sedang mewek. Kimpluk nampaknya tak tahu diri, ia terus saja mengejar tiap pernyataan atau ide-ide untuk memulai pembentukan organisasinya.
“Sek to, bentar. Fungsi kita untuk membuat organisasi apa sih, selain melancarkan administrasi dan memperjelas status kita?”.
Kali ini nadanya mengandung kecongkakan. Teman-temannya mengernyitkan alis mereka, dan tak menjawab. Si kimpluk menambahi lagi; “Lantas, apa nantinya yang akan kita perbuat (Visi Misi) setelah organisasi yang hanya ada beberapa gelintir orang ini benar-benar terbentuk?
Bukankah briefing tahun lalu kita sudah membicarakan hal ini? Dan kalau gak salah, bukannya kita sudah membentuk nama sebuah organisasi kita ini dan menerangkannya pada adik-adik kelas?”
Kali ini teman-temannya mulai tak tahan, dan mengalihkan pandang dari Kimpluk. Mengetahui itu, Kimpluk bukannya mengakhiri pertanyaannya yang terkesan menghakimi itu.
Ia melanjutkan lagi; “Bagaimana kita nanti akan membangun rumah yang megah, kalau penghuninya tidak ada, yang satu persatu pergi angkat kaki begitu saja?” Nadanya semakin tinggi.
“Apa nggak malu-maluin tuh? Sudah woro-woro kesana sini, kesemua warga hendak membangun rumah, bahkan meminta bantuan dan do’a restu untuk mendirikannya, namun tiba-tiba setelah rumah jadi kita tinggal begitu saja?”. teman-temannya masih terdiam.
Angin malam yang berhembus di sela-sela pepohonan, menyibak rerimbunan ranting dan dahan. Sehingga daun-daun nya menggerisik, dan beberapa daun yang sudah nampak menguning, satu persatu berjatuhan ke tanah.
“Kalau dalam teori sebuah organisasi itu Pluk, dua orang sudah cukup. Sudah bisa dikatakan organisasi”. Sambar seorang teman lainnya. “Jadi, gak masalah kita rintis dulu beberapa orang yang ada ini, gak ada salahnya kan?”.
“Betul, aku setuju”. Sambung teman yang berjilbab “Itu lebih baik kan, daripada tidak sama sekali?”. Kimpluk terdiam. Ia melayangkan pandang ke langit yang semakin hitam.
“Iya Pluk, bukannya Organisasi yang baik itu berangkat dari sedikit orang, dan kemudian menjadi banyak? Dari 5 menjadi 10, 20, 50, bahkan seratus. Bukan sebaliknya? Kan begitu?”. Temannya yang berambut panjang berponi kini ikut angkat bicara.
Si Kimpluk ini seakan terkesan tak menyetujui rencana pembentukan organisasi. Lain dengan teman-temannya yang begitu antusias dan penuh rasa optimistis melihat prospek kedapan yang akan lebih baik jika organisasi mereka terbentuk. Atau mungkin karena malas unutk berdebat atau diskusi semacam ini.
Sedangkan Kimpluk cenderung payah, ia pesimis dan sekaligus mempunyai pemikiran yang 180 derajat berlawanan dengan teman-temnnya.
Ia bukannya ikut melihat prospek kedepannya, bukan malah mencari solusi atau menawarkan gagasan, ia lebih suka menengok jauh kedalam, mengorek-orek kemungkinan-kemungkinan buruk yang bukan tidak mungkin bakal terjadi.
Dan jika mendapatkan beberapa kemungkinan buruk yang berpeluang muncul, ia tak juga mau berhenti. Terus saja ia menelusuri lorong yang nun jauh untuk mencari-cari kemungkinan terburuk yang lebih mengerikan, ia hanya akan berhenti ketika ia mendapati temannya terdiam, dan teman-temannya yang diam itu ia anggap sedang berfikir.
Ya, ya. Kimpluk senang kalau ia melihat orang lain terjebak bersama dan memikirkan sesuatu yang tak terlalu perlu sebenanya untuk dipikirkan. Terlalu jauh, terlalu berlebihan, dan kadang juga sia-sia.
___
Di saat tertentu, manusia juga perlu untuk melakukan hal yang selama ini nampaknya sia-sia, membuang-buang waktu dan tak berarti. Apakah hal yang kamu lakukan baik atau tidak, keren apa tidak, manfaat atau tidak sama sekali, pada akhirnya yang memiliki arti bukanlah sesuatu yang bisa dilihat, tetapi yang berdesir di hatimu, yang bisa dirasakan hatimu. Karena semua tindakan yang kelihatannya sia-sia dan membuang waktu, tidak selamanya berakhir demikian.
Begitulah, jika memang seseorang ingin mencari nilai-nilai.
___
Hal seperti ini pernah suatu kali terjadi di rapat atau diskusi tahun-tahun lalu. Dan itu, sedikit banyak mempengaruhi beberapa pemikiran temannya yang tanpa gak langsung ikut tertular akan sifat Kimpluk ini.
Alhasil beberapa di antara mereka pun ada yang minder, pesimis, bahkan merenung. Jadi, seringkali rapat yang mereka langsungkan dengan maksud bisa menemui titik terang, malah harus berakhir tanpa dapat apa-apa, kecuali permasalahan yang semakin panjang dan semakin berbelit-belit.
Namun teman-temannya kali ini tak begitu terpengaruh akan lontaran dari analisis ‘bento’ si Kimpluk.
Benar, mereka memang terdiam, tapi diam mereka kali ini bukanlah merenung. Mereka diam karena menunggu tanggapan si Kimpluk.
Entahlah, Si Kimpluk mungkin memang seorang pesimistis akut atau menjadi nihilis dalam waktu bersamaan.
___
Kimpluk masih terdiam. Sementara Teman-temannya dengan sabar menunggu tanggapan darinya–Ia tak juga menjawab.
Kemudian ia keluarkan Handphone dari tasnya. Ia pura-pura mencari alasan untuk menutupi kebingungnya, untuk menyangkal.
Barangkali Ia tak menemukan sesuatu kemungkinan buruk lagi ‘di dalam ‘Black Holes’ sana.
Atau bisa saja ia enggan untuk mengorek-orek lebih kedalam lagi. Jam di HP nya menunjukkan pukul 21.13 WIB. Semakin larut. Malam semakin kusut.
Suara hingar bingar knalpot motor yang hilir mudik di jalan Veteran itu seakan-akan sedang menyapa mereka berempat. Guruh bergemuruh, kilat sesekali menyambar.
Ia memasukkan kembali HP nya, dan mencoba coba menyambung lagi. Apa ia mendapatkan suatu kemungkinan lagi?
“Tapi kan. . . “ Kalimatnya terputus, tak dilanjutkan.
“Tapi apa Pluk?”, Tanggap rerentak teman-temannya.
Ia hanya tersenyum, dan tak mau melanjutkan. Karena menyadari jam sudah larut malam. Dan ia tahu ketiga teman perempuannya itu diberlakukan jam malam di kost.
“Nggak papa kok”. Kini senyumnya makin lebar dan terlihat dipaksakan.
“Lhoh jangan gitu dong. Kita ini kan rapat, ungkapkan saja! Tapi apa? Mumpung masih semua di sini”. Lanjut teman berjilbab.
Seperti ada yang disembunyikan, Kimpluk tak mau membuat teman-temannya terkunci di luar gerbang kosnya. Atau memang kali ini ia sudah mati kutu?
“Nggak, aku setuju kok”.
“Terus tadi kok bilang; Tapi. Tapi kenapa?”. Lanjut teman berjilbab.
Sedangkan kedua teman yang lain sudah berulang ulang kali melihat jam di HP mereka masing-masing. Khawatir jika nanti gerbang kos dikunci barangkali, belum lagi lembur tugas-tugas dari dosen.
Si Kimpluk menyadari itu, dan agar tak membuat diskusi semakin panjang ia menjawab, “Tapi, anu. . . Cara untuk mengumpulkan teman yang lain gimana? Yang datang ya ini-ini aja, pun beberapa rapat harus ditunda, diganti hari lain karena tak ada yang datang sama sekali?”
Dengan cepat dan seperti sudah disiapkan sebelumnya, salah satu temannya mengeluarkan secarik kertas dari sakunya lantas menerangkan dengan singkat.
Suatu cara yang sudah pernah dipakai sebelumnya waktu briefing tahun lalu dan terbukti tak berhasil.
Dan si Kimpluk hanya mangguk mengiyakannya sembari tersenyum tipis. Kini giginya yang putih nampak bersinar, rapi berjajar.
Akhirnya, rapatpun rampung. Teman-temannya hendak pulang, namun belum sampai mereka berdiri, teman berjilbab tadi membuka tasnya dan mengelurkan sebuah bungkusan, “Ya Allah rek, Lupa aku. Nih, aku bawa jajan. Lumayan”.
Kedua teman yang lain tersenyum, dan seakan lupa pada jam malam dan tugas-tugas dari dosennya.
Begitupun Kimpluk. Mereka pun menyantap makanan ringan itu dengan cepat bersama-sama.
“Eh, aku tak hubungin temen kamarku dulu”. Ucap si rambut panjang sambil memasukkan makanan ke mulutnya. Kimpluk nampak lahap juga ikut makan jajanan pedas itu.
“Hubungin buat apa?”. Kan bentar lagi juga pulang”. Tanya Si teman berjilbab.
“Ya nanti kalau terlanjur di kunci, kan bisa brabe? Jadi ku hubungi temanku, jika aku sampai di kost ternyata sudah di kunci aku tinggal menghubunginya untuk membukakannya”. Ia tertawa lirih dan terus mengunyah makanan.
Si Kimpluk, yang menjadi satu-satunya lelaki di antara teman-temannya, dengan gaya sedikit angkuh, berkata; “Tenanglah rek, nanti tak anterin!”.
Teman-temannya hanya tersenyum dan terus saja makan. Dan ia kemudian mengeluarkan sebatang rokok lantas menyulutnya. Ia hisap dalam-dalam kemudian menghembuskannya ke udara.
Asap bergulung-gulung keluar dari mulutnya. Kemudian nyeletuk. “Rek, maaf ya. kalau selama ini gaya bicaraku kayak gitu, tak usah ku jelasin tahu sendiri lah. Kalian muak pasti. Sebenarnya aku pengin rek, diam tak begitu banyak bicara, ingin kayak kalian, bicara sewajarnya. Atau tanya juga yang sewajarnya. Ingin puasa ngomong”.
Tiba-tiba salah satu teman berhenti mengunyah, dengan makanan yang masih belum ditelan ia berkata:
“Ya sudah to, kalau kamu ingin berpuasa ngomong. Gak usah dilanjutin omongannya. Gitu aja kok repot-repot? Beres kan?”
Kalimat itu diucapkan seperti benar-benar dari dalam hati, layaknya kalimat yang memang sudah lama sekali meronta-ronta ingin keluar dari rongga dada.
Mungkin mereka sudah begitu muak dan enyah mendengar bualan Kimpluk yang teramat banyak, teramat membosankan.
Saking risihnya untuk mendengar, Omongannya sesekali dipenggal oleh teman-temannya dengan ucapan: “Ngomong apa sih?”. Tentu diucapkan dengan hati-hati , agar Kimpluk tak mewek. Tidak mutung. Atau dengan memolesnya sedikit lebih halus, memotong perkataannya dengan kata: “Aku gak paham omonganmu, terlalu tinggi Pluk. Otakku tak sampai untuk memikirkannya”.
Ucapan yang sama saja sebenarnya, sama-sama muak mendengar ocehannya. Itu juga terlihat dari air muka mereka yang tak bisa disembunyikan lagi aslinya.
__
Mendengar tanggapan itu, si Kimpluk hanya diam dan mengangguk-ngangguk. Ia lagi-lagi memaksa untuk mengiyakannya. Ia hisap lagi rokoknya. Kemudian tak lama setelah makanan habis, mereka pulang ke kost mereka masing-masing dan berjabat tangan seperti biasa. Si perempuan jilbab pulang ke selatan, yang duanya lagi bareng ke arah utara karena kost mereka satu arah dan si Kimpluk pulang ke kostnya ke arah barat dari tempat mereka rapat tadi.
Janji Si Kimpluk untuk mengantarkan teman-temannya tadi pun rupanya abang-abang lambe semata. Lalu mereka sepakat untuk membahas lebih lanjut lagi pembentukan nama oraganisasi 3 minggu yang akan datang. BERSAMBUNG








