Meski hidup mengantar kita pada jalan yang berbeda, namun spirit tetap sama dan terjaga.
“Gus Adib. Hari ini kita lagi gak punya beras. Jadi, hari ini kita puasa.”
“Pinjam saja beras milik gus baru dari Kempek itu. Di gotakan sebelah, gotakan Bajuri.”
“Siapa nama dia, Gus?”
“Said. Kalau gak salah. Dia baru saja pindahan dari Pesantren Lirboyo, Kediri.”
“O, gitu. Dia masih saudara dengan Kang Fahim Hawi, ya?”
“Benar. Tapi, dia dari Kempek, Palimanan. Dia putra seorang kiai di kota itu. Sedangkan Kang Fahim dari Buntet, Cirebon.”
“Saudara kita dari Kempek itu kayaknya pinter ngomong ya, Gus?”
“Ya. Dia memang pintar ngomong. Juga, dia kuat membaca dan suka politik. Dia cocok dengan Lik Al-Ghozie. Kalau dengan Bang Rofi’, saya lihat, dia gak mau banyak bicara. Entah kenapa. Mungkin, karena Bang Rofi’ kan pendiam dan lebih banyak menjadi “khadim” kami: jadi tukang masak nasi bagi kami bertujuh.”
“Gak apa-apa kok, Gus. Melayani para gus kan amal. Lagi pula, sejak jadi santri di Kudus, saya kan sudah terbiasa memasakkan beberapa santri lain. Pesan ibu saya, ‘Jadilah khadim para anak kiai. Siapa tahu kamu ketularan ilmu dan pengalaman mereka.’ Tetapi, maaf ya Gus Adib, nasi yang saya tanak kadang gosong.”
“Enak kok, Bang.”
Itulah sepenggal kenangan dari perjalanan hidup kami, ketika kami sedang menimba ilmu di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Sekitar awal tahun 1970-an. Di bawah bimbingan Tuan Guru kami, K.H. Ali Maksum yang kami panggil Pak Ali.
Kala itu, kami: Gus Adib Bisri (adik Gus Mus yang berpulang ketika akan mengikuti Muktamar NU di Cipasung), Gus Bajuri Yusuf (kemudian menjadi kiai di Pulau Bawean, Jawa Timur), Gus Ghufron Yusuf (kemudian menjadi kiai di Perth, Australia), Gus Fahim Hawi (kemudian menjadi seorang kiai terkemuka di Cirebon), Gus Al-Ghozie Usman (kemudian menjadi dosen Fisipol UGM dan kemudian hijrah ke Amerika Serikat serta tidak pernah kembali sampai berpulang di Syracuse), Gus Said Aqil Sirodj yang kini menjadi kiai kondang, dan saya (kini hanya menjadi rakyat biasa) ditempatkan di Bangunan E lantai dua.
Entah kenapa, saya kala itu yang mereka tunjuk sebagai tukang menanak nasi. Kerap kali, saya ditemani Gus Adib yang gemar membikin sambel terong bakar. Kami sendiri kala itu dapat dikatakan sebagai satu keluarga.
Beberapa tahun kemudian, selepas kami meraih gelar sarjana, ternyata jalan hidup mengantarkan kami bertujuh ke tempat-tempat yang berbeda. Gus Adib dan Gus Fahim Hawi kemudian menimba ilmu di Riyadh, Gus Ghufron Yusuf menimba ilmu di Universitas Ummu Al-Qura, Makkah, Gus Bajuri Yusuf kemudian menimba ilmu di Universitas Baghdad, Irak, Gus Said Aqil Sirodj kemudian menimba ilmu di Universitas Umm Al-Qura, Makkah, Gus Al-Ghozie Usman kemudian menimba ilmu di John F. Kennedy School of Government, Harvard University, Amerika Serikat, dan saya kemudian “kluyuran” ke Mesir.
Itulah jalan hidup: berasal dari latar belakang pesantren yang sama tidak selalu mengantarkan jalan hidup selanjutnya yang sama dan kemudian cara pandang yang juga tidak selalu seiring. Meski demikian, kami tetap merasa sebagai keluarga: pandangan boleh berbeda, tapi kita tetap bersaudara. Juga, kami tetap bersemangat dalam menimba ilmu.
Itulah jiwa dan semangat yang senantiasa ditekankan para guru kami, para kiai. Semoga jiwa dan semangat itu tetap terpelihara .
“Selamat Hari Santri”.








