Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Venice of the East: Mengitari Kampung Ayer di Bandar Seri Begawan

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
08/05/2024
in Destinasi
Venice of the East: Mengitari Kampung Ayer di Bandar Seri Begawan

“Mbak Ummie dan Mas Rofi’! Maukah sekarang kita menikmati Kampung Ayer?”

Demikian ucap Ustadzah Siti Liha M.A. pagi itu. Ya, pagi Rabu, 24 April 2024 yang lalu. Ternyata, pagi itu, Ustadzah Siti Liha M.A. dan Ustadz Masruh Ahmad M.A., MBA, sudah menanti kami di ruang tamu rumah mereka di Kampung Rimba, Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam.

“Pagi begini? Kami belum mandi, lo!” jawab saya.

“Gak usah mandi dulu. Nanti saja, selepas dari Kampung Ayer. Karena jika kita pergi ke sana agak siang, kita akan terkena kemacetan. Sebentar lagi kan jam kerja,” ucap Ustadz Masruh Ahmad.

“Macet? Bandar Seri Begawan pun terkena ‘penyakit’ Jakarta, Bangkok, Mumbai, dan Kairo?” gumam bibir saya. Pelan.

Segera, menerima ajakan demikian, saya dan istri pun bersiap-siap. Tanpa mandi dulu, tentu saja. Tak lama kemudian, kami pun berangkat menuju Kampung Ayer: sebuah pemukiman tradisional kondang di Bandar Seri Begawan, ibu kota Brunei Darussalam.

Sepanjang perjalanan, selain menjadi “driver piawai dan menguasai jalan”, Ustadzah Siti Liha tak henti-hentinya bercerita tentang Kerajaan Brunei Darussalam dan kota Bandar Seri Begawan. “Enak juga didampingi ‘tour guide’ yang mantan Timbalan (Pembantu) Dekan dan suaminya yang Ustadz dan pengusaha!” gumam pelan bibir saya.

Sementara kedua mata saya sedang menikmati bangunan-bangunan yang menghiasi jalan-jalan yang kami lintasi.

Tidak lebih dari setengah jam, kami telah tiba di jantung kota Bandar Seri Begawan. Ternyata, kampung air yang juga terkenal dengan sebutan “Venice of the East” (Venesia Timur) itu berada di pusat kota.

Selepas Ustadzah Liha memakirkan mobil yang kami naiki, kami kemudian berdiri di tepi Sungai Brunei yang membatasi bangunan-bangunan di downtown Bandar Seri Begawan dan Kampung Ayer. Kampung Ayer ini diibangun di atas punggung Sungai Brunei dan terdiri dari lingkungan rumah adat, sekolah, dan masjid.

“Mas Rofi’, ayo kita naik perahu. Mengitari Kampung Ayer,” ajak Ustadz Masruh Ahmad. Tentu saja, ajakan itu saya iyakan. Sebagai “anak air”, alias anak yang suka “bluron” di Bengawan Solo di Cepu, ketika kecil hingga umur 12 tahun, ajakan “bermain di air” dan “menikmati air” benar-benar memikat sekali bagi saya. Sayang, istri tidak mau ikut naik perahu. Takut air dan takut naik perahu. Karena itu, istri dan Ustadzah Liha hanya “menikmati” Kampung Ayer dari daratan saja.

Setelah mendapatkan sebuah perahu, dengan membayar sebesar 15 ringgit Brunei, perahu yang kami naiki pun bergerak untuk mengitari Kampung Ayer. Menurut catatan yang saya dapatkan, Kampung Ayer ini telah menjadi rumah bagi masyarakat di kampung tersebut selama lebih dari 1.300 tahun.

Bukti arkeologi menunjukkan, pemukiman ini sudah ada sejak abad ke-14. Sehingga, menjadikan Kampung Ayer sebagai salah satu permukiman air tertua di dunia. Konon, Kampung Ayer didirikan oleh para pelarian perang atau pedagang yang mencari perlindungan dan kemudahan akses melalui jalur air. Seiring dengan perjalanan waktu, Kampung Ayer berkembang menjadi pusat perdagangan penting dengan komunitas yang beragam, di samping menjadikannya sebagai saksi bisu perjalanan sejarah Brunei.

“Alhamdulillah, saya dapat menikmati dan mengitari Kampung Ayer ini,” gumam bibir saya, ketika perahu yang kami naiki meluncur cepat mengitari sudut demi sudut kampung air dan disambut oleh jaringan jalan setapak kayu yang luas, jembatan, dan trotoar sepanjang 38 kilometer.

Dari perahu, saya pun menikmati lorong-lorong sempit yang dihiasi dengan rumah-rumah tradisional, dengan arsitektur khas Melayu dengan ukiran kayu yang indah dan warna-warna cerah mendominasi pemandangan, memancarkan keunikan dan pesona budaya Brunei.

Konon, menurut legenda, Kampung Ayer didirikan oleh Pangeran Pengiran Muda Jerah bin Sultan Muhammad Shah pada abad ke-14. Pangeran Jerah kemudian melarikan diri dari Brunei Darussalam ke Sabah, karena perselisihan dengan saudaranya.

Di Sabah, ia mendirikan sebuah pemukiman air yang mirip dengan Kampung Ayer. Ketika kembali ke Brunei, ia menerapkan konsep pemukiman air tersebut di Bandar Seri Begawan.Dalam perjalanan waktu selanjutnya, Kampung Ayer merupakan pusat pemerintahan, perdagangan, dan budaya Brunei Darussalam.

Di kampung ini pun, kemudian, tegak istana kerajaan, masjid, sekolah, dan pasar. Selain itu, Kampung Ayer juga menjadi tempat tinggal bagi para bangsawan, pedagang, dan rakyat biasa.

Di sisi lain, Kampung Ayer juga pernah memainkan peran penting dalam perdagangan maritim di Asia Tenggara. Pemukiman ini menjadi tempat persinggahan bagi para pedagang dari berbagai negara, seperti China, India, dan Timur Tengah. Demikian halnya, Kampung Ayer juga pernah menjadi pusat distribusi hasil bumi dan produk manufaktur dari Brunei Darussalam ke negara lain.

Lebih dari sekadar objek wisata, sejatinya Kampung Ayer adalah komunitas yang hidup dan dinamis. Dari perahu kita dapat melihat penduduk setempat beraktivitas sehari-hari.

Seperti berbelanja di pasar terapung, mengantarkan anak-anak ke sekolah, atau beribadah di masjid. Suasana damai dan keramahan menyelimuti Kampung Ayer, membuat kita merasa seperti bagian dari keluarga dari Kampung Ayer tersebut.

Ketika sedang asyik “menikmati” Kampung Ayer dari atas perahu, tiba-tiba benak saya “melayang-melayang” dan “memburu” catatan komparatif selintas antara tiga kampung air besar di Asia Tenggara, Kampung Ayer di Brunei, Kampung Air Lok Baintan di Indonesia, dan Kampung Air Chao Phraya di Tahiland yang tiga-tiganya pernah saya datangi.

Menurut informasi yang saya dapatkan, dari aspek historis, Kampung Ayer telah menjadi rumah bagi masyarakat Brunei selama lebih dari 1.300 tahun. Didirikan pada abad ke-14, pemukiman ini dahulu merupakan pusat perdagangan dan budaya yang ramai.

Sedangkan Kampung Air Lok Baintan, yang terletak di Sungai Martapura, merupakan pemukiman air tradisional yang didirikan pada abad ke-17. Didirikan oleh masyarakat Suku Banjar, Lok Baintan menjadi saksi bisu perkembangan budaya dan tradisi Banjar di Kalimantan Selatan.

Sementara Kampung Air Chao Phraya berada di, Sungai Chao Phraya, Bangkok telah menjadi pusat kehidupan di Thailand sejak abad ke-14. Di atas sungai ini, berdiri megah Wat Arun, Wat Pho, dan Grand Palace, yang menjadi simbol kejayaan dan budaya Thailand.

Di sisi lain, dari aspek keunikan arsitektur dan tata Letak, rumah-rumah di Kampung Ayer terbuat dari kayu dan dibangun di atas panggung. Arsitekturnya khas Melayu dengan ukiran kayu yang indah dan warna-warna cerah. Jalan setapak kayu yang kokoh menghubungkan rumah-rumah, masjid, sekolah, dan pasar, menciptakan labirin yang unik dan menawan.

Lain halnya dengan rumah-rumah di Lok Baintan. Meski rumah-rumah di Lok Baintan juga terbuat dari kayu, namun dibangun di atas rakit. Desainnya sederhana dan fungsional, mencerminkan kesederhanaan dan kedekatan masyarakat dengan alam. Jembatan kayu menghubungkan rakit-rakit, menciptakan jalur yang menghubungkan seluruh pemukiman.

Sementara rumah-rumah di Chao Phraya terbuat dari kayu dan batu bata, dan dibangun di atas rakit. Desainnya lebih modern dan beragam, dengan beberapa rumah yang memiliki teras dan balkon. Kanal-kanal kecil menghubungkan rakit-rakit, menciptakan suasana yang tenang dan romantis.

Kini, dari kehidupan sehari-hari dan budaya, masyarakat Kampung Ayer hidup dalam harmoni dengan alam. Mereka bekerja sebagai nelayan, pedagang, dan pengrajin. Tradisi dan budaya Melayu masih dilestarikan, seperti upacara adat, tarian tradisional, dan seni ukir kayu.

Masyarakat di Lok Baintan juga hidup dalam kesederhanaan dan kedekatan dengan alam. Mereka bekerja sebagai nelayan, petani, dan pengrajin. Tradisi dan budaya Banjar masih dilestarikan, seperti tari tarian, musik, dan kerajinan tangan.

Lain halnya dengan kehidupan dan budaya masyarakat di Chao Phraya. Masyarakat Chao Phraya hidup dalam dinamika kota Bangkok yang riuh dengan para turis mancanegara. Mereka bekerja di berbagai sektor, seperti pariwisata, perdagangan, dan jasa. Tradisi dan budaya Thailand masih dilestarikan, seperti festival, upacara keagamaan, dan seni pertunjukan.

Selepas sekitar satu jam mengitari Kampung Ayer, kami pun turun dari perahu. Dan, karena hari kian siang, kami pun segera meninggalkan Kampung Ayer. “Matur nuwun sanget, Ustadzah Siti Liha dan Ustadz Masruh Ahmad. Panjenengan berdua, meski sibuk, telah berkenan mengantarkan dan mendampingi kami dalam ‘menikmati’ Kampung Ayer. Jazâkumullâh ahsanal jazâ’, nggih!”

Tags: Brunei DarussalamCatatan Rofi' UsmaniMakin Tahu Indonesia
Previous Post

5 Kuliner Bojonegoro Tempo Dulu yang Harus Kamu Tahu

Next Post

Mengunjungi Masjid Hassanil Bolkiah: Permata Arsitektur Islam di Brunei Darussalam

BERITA MENARIK LAINNYA

Menyusuri Jejak Alam: Mahasiswa KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Soko
Destinasi

Menyusuri Jejak Alam: Mahasiswa KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Soko

21/07/2026
Mengunjungi Janjang, Saksi Lahirnya Industri Minyak Bumi di Blora dan Bojonegoro
Destinasi

Mengunjungi Janjang, Saksi Lahirnya Industri Minyak Bumi di Blora dan Bojonegoro

30/05/2026
Mesquita De La M-30: Masjid dan Pusat Budaya Islam di Madrid Spanyol
Destinasi

Mesquita De La M-30: Masjid dan Pusat Budaya Islam di Madrid Spanyol

09/04/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Alas Institute dan Mahasiswa Bojonegoro Satukan Langkah Wujudkan Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Alas Institute dan Mahasiswa Bojonegoro Satukan Langkah Wujudkan Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

29/07/2026
Warga Leran dan Sukoharjo Gotong Royong Bangun Jalan, Perkuat Akses Ekonomi Kalitidu

Warga Leran dan Sukoharjo Gotong Royong Bangun Jalan, Perkuat Akses Ekonomi Kalitidu

29/07/2026
Reformasi, Oligarki, dan Kursi Panjang di Ruang Tamu

Reformasi, Oligarki, dan Kursi Panjang di Ruang Tamu

29/07/2026
Pemain Bintang dan Sebuah Kepemimpinan

Pemain Bintang dan Sebuah Kepemimpinan

28/07/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: