MTs dan MA Arridwan Almaliky Bojonegoro telah diresmikan Wakil Menteri Agama RI, Dr. H. Zainut Tauhid Sa’adi, M.Si pada (21/9) ini.
Wakil Menteri Agama RI, Dr. H. Zainut Tauhid Sa’adi, M.Si rawuh di Ponpes Ar-Ridwan Al-Maliky Bojonegoro. Selain bersilaturahmi, kehadiran Pak Wamen juga untuk meresmikan lembaga pendidikan di bawah naungan Ponpes Ar-Ridwan Al-Maliky.
Pak Wamen yang berlatar belakang santri, merasa nyaman saat berkunjung ke Ponpes Ar-Ridwan Al-Maliky. Bahkan, beliau mengibaratkan seperti ikan yang menemui air. Tentu perasaan semacam ini bukan tanpa alasan.
Sebagai seorang santri, Pak Wamen tercatat pernah menjadi Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) selama dua periode, yakni pada periode (1988-1996) silam.
Wakil Menteri 58 tahun tersebut, juga pernah menempuh pendidikan S1 di Universitas Ibnu Chaldun, Jakarta dan S2 Magister Ilmu Pemerintahan di Universitas Satyagama Jakarta.
Latar belakang tersebut, menunjukan betapa Pak Wamen memiliki modernitas yang seimbang antara konsep ilahiah ala santri dan ilmiah ala akademisi. Hal itu pula yang membuat Pak Wamen sangat mendukung lembaga pendidikan Arridwan Almaliky.
Sebab, lembaga yang berada di Desa Sukorejo Kecamatan Bojonegoro tersebut, berupaya melahirkan generasi yang Qurani sekaligus mumpuni dalam bidang ilmu pengetahuan umum.
Pak Wamen juga sangat mengapresiasi Ponpes Arridwan Almaliky. Sebab, diasuh anak bangsa yang berguru langsung pada ulama besar Aswaja, Abuya Sayyid Abbas Alawy Al Maliky yang merupakan adik kandung Abuya Sayyid Muhammad Alawy Al Maliky.
Dalam kunjungan yang berlangsung cukup singkat itu, Pak Wamen tak hanya bersilaturahmi dan ramah-tamah dengan pengurus Ponpes, tapi juga meresmikan dua lembaga di bawah naungan Ponpes Ar-Ridwan Al-Maliky.
Pak Wamen meresmikan MTs dan MA Sains Quran Ar-Ridwan. Tak hanya meresmikan, beliau juga memotivasi para pengurus dan santri agar terus bersemangat berjuang meniti ilmu.
Pak Wamen berkata, saat ini sudah banyak undang-undang yang mengakomodir kegiatan pondok pesantren. Sehingga kelak, lulusan pesantren bisa mudah diterima masyarakat. Bahkan, berpeluang masuk di instansi-instansi pemerintahan.
“Jangan minder jadi santri. Santri iku iso dadi opo wae. Menjadi santri bukan penghalang untuk sukses.” Kata Pak Wamen memberi semangat.
Pak Wamen mencontohkan, banyak tokoh besar berlatar belakang santri. Presiden, Wakil Presiden, Gubernur, bahkan Bupati banyak yang berlatar belakang seorang santri.
Sementara itu, Pengasuh Ponpes Ar-Ridwan Al-Maliky, KH. Tsalis Duha Ridwan berterimakasih atas kedatangan Wakil Menteri Agama, karena telah menyempatkan waktu bersilaturahmi ke Ponpes Ar-Ridwan Al-Maliky.
Dalam sambutannya, Pengasuh berharap, dengan diresmikannya lembaga MTs dan MA, mampu lebih tangguh dalam mencetak generasi yang Qurani. Sebab, Ponpes Ar-Ridwan Al-Maliky memang fokus pada program Tahfidzul Qur’an.
Selain itu, Pengasuh juga berkomitmen untuk mencetak santri-santri yang cerdas dan cakap dalam bersosial dengan masyarakat. Sehingga tak hanya mumpuni di bidang Qur’an, tapi juga bermanfaat dalam bermasyarakat.
“Mencetak generasi yang cakap dalam bersosial dan berintelektual. Baik dalam ilmu agama, bermasyarakat, dan terlebih dalam ilmu Sains.” Ucap KH. Tsalis Duha Ridwan.
Ponpes Arridwan Almaliky, memiliki prinsip kuat sebagai pencetak generasi Qurani dan ber-intelektualitas mumpuni. Sebab, di Arridwan Almaliky, para santri dibekali literasi Qur’an melalui pemahaman Ahlussunah wal Jamaah. Sehingga kelak mudah mengenalkan Islam secara baik dalam masyarakat.
Selain itu, para santri Arridwan Almaliky juga dibekali literasi sains dengan Al Quran sebagai rujukan. Sehingga, pemahaman sains dan ilmu umum tak bisa dipisah dari induk pengetahuannya, yakni Al Qur’an.








