Film dokumenter ini bercerita tentang invasi ekonomi global selepas krisis moneter di tahun 1998.
Dimulai dari pembuka film, The New Rulers of The World telah mampu menyihir penontonnya dengan penuh haru biru; dendang nada lagu berserta kutipan yang sanggup meruntuhkan hakikat kita sebagai manusia merdeka. Bahwa untuk urusan materiil, sesungguhnya kita tak lebih dari seorang budak yang diperas sang majikan.
Kutipan pembuka itu berbunyi “keuntungan dunia baru kini pemimpin industri besar. Katanya, memiliki visi dan misi mulia tapi kejam padaku. Mereka menjanjikan dunia dimana setiap orang menjadi kaya, pintar dan muda. Namun, seandainya pun aku hidup untuk merasakannya, bagiku itu sudah sangat terlambat”.
Penggalan kutipan tersebut seolah tersirat ingin mengatakan begitu kuatnya hegemoni narasi yang dimainkan oleh kalangan pemilik modal demi menggaet masyarakat untuk dijadikan buruh.
Ada satu tujuan luhur yang menjadi pemikat tak lain adalah menjadikan masyarakat kaya dan makmur. Namun pada hakikatnya ini semua persoal ilusi dalam dunia imaginer rekaan dari pemilik modal; apa yang didapatkan oleh buruh (masyarakat) tak setimpal dari apa yang mereka kerjakan atau dalam bahasa lain mampu untuk menyebut ini semua sebagai perbuatan yang kejam.
The New Rules of The World sebuah film dokumenter yang membukakan mata kepada publik secara luas akan bagaimana kuatnya arus globalisasi berdampak terhadap kondisi ekonomi, sosial, budaya dan politik di Indonesia. Lebih lanjut, film ini menceritakan invasi globalisasi selepas krisis moneter di tahun 1998.
Negara dunia pertama (maju) berbondong-bondong melakukan investasi modal ke negara ketiga layaknya Indonesia, dengan anggapan keyakinan begitu besar mereka akan mampu mengentaskan persoalan masalah sosial akibat dari dampak ekonomi dan gejolak politik pasca rezim orde baru berhasil ditumbangkan.
Lagi-lagi, semua hanyalah semacam pengharapan Kantong Semar di hutan Borneo dapat tumbuh di keringnya gurun Sahara. Semua berkebalikan, kemiskinan, pengganguran kian meningkat serta kesejahteraan masyarakat juga tidak merata.
Korporasi luar negeri tersebut antara lain GAP, REEBOK, ADIDAS dan NIKE yang menuntut pekerjanya dengan memberikan jam kerja yang tidak teratur atau minimal mereka dipaksa bekerja selama 36 jam. Jelas ini tidak sebanding dengan upah yang diterima pekerja.
Ironisnya lagi mereka menjalankan pekerjaan ini dibalik pabrik pengap. Tekanan demi tekanan diberikan kepada buruh, sejatinya tiada maksud lain selain untuk memuaskan nafsu pemilik modal akan harta berlimpah ruah. Karena dengan begitu mereka akan semakin leluasa melenggang bak penguasa baru.
John Pilger, seorang jurnalis dari Australia yang bekerja di Inggris ini adalah sutradara The New Rulers of The World. Pilger meliput film tersebut dengan cara membawa kamera tersembunyi lantas berpura-pura menjadi konsumen agar bisa menyusup ke dalam pabrik. Saat Pilger telah memasuki pabrik, ia menjumpai keadaan buruh yang jauh dari kata layak.
Jika kita bisa menebak perasaan yang dialami oleh pekerja/buruh, barangkali mereka bekerja karena tidak senang menjalani pekerjaan, namun mereka terpaksa sebab hanya lewat pekerjaan tersebutlah mereka mendapat uang untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Lebih dari itu, perusahaan tidak mencantumkan pelaksanaan kode etik, peraturan perusahaan tidak dipasang secara transparan sehingga pekerja bisa melihatnya, upah yang kurang layak.
Oleh karenanya, dari sini muncullah keterasingan pekerja. Bagi Karl Marx, pekerjaan mengasingkan manusia karena hanya bersifat upahan.
Upah merupakan teori yang disitir Marx dari Ricardo yang berhubungan dengan apa yang disebut sebagai kelas kapitalis dalam pergaulan kompetitifnya yang melihat bahwa untuk mencapai keuntungan haruslah dibayarkan upah terendah kepada kelas pekerja dan upah yang dibayarkan itu akan mencapai tahap subsitensi.
Tingkat upah yang dimaksud ialah hanya cukup bagi buruh untuk mempertahankan hidup dan mendapatkan kebutuhan primer mereka semata.Keuntungan-keuntungan yang hanya dikuasai oleh pemilik modal menyebabkan kesengsaraan yang meluas dalam masyarakat.
Nilai lebih dan akumulasi modal adalah jika seseorang pekerja (buruh) terlibat dalam proses pembuatan suatu barang, maka pihak kapitalis lah yang menetapkan jangka waktu kerja.
Di satu pihak buruh di determinasi oleh waktu kerja yang cukup dalam nilai yang dihasilkannya untuk barang yang bersangkutan dan di lain pihak nilai upah yang diterima pekerja ditentukan oleh tingkat kehidupan sehingga nilai yang diciptakannya sama dengan upah substansinya, tetapi ia harus berproduksi sehingga nilai yang diciptakan sudah melebihi upah substansinya.
Pertentangan kelas yakni teori yang menjelaskan perkembangan sejarah selalu memunculkan pertarungan antar kelas dalam masyarakat. Dari sejarah perkembangan masyarakat yang dibaginya ke dalam lima tahap.
Pertama, masyarakat primitive komunal. Kedua, masyarakat perbudakan (slavery). Ketiga, masyarakat feodal. Keempat, masyarakat capital. Kelima, masyarakat sosialis.
Maka jika dirujuk dari pendapat Marx, akan menemui secercah titik terang dari film The New Rulers of The World yakni implikasi globalisasi begitu banyak. Salah satunya ialah keserakahan akibat adanya globalisasi sendiri yakni dengan sangat mudah masuknya praktik imperialisme dari negara maju untuk mengeksploitasi negara berkembang terutama dalam sumber daya alam dan sumber daya manusia.








