Aku ditanya sekali. Apa itu cinta? Cerita paling khusyuk terungkap pada pekan lalu di Solo. Seorang ibu petani, Sartiyem telah enam bulan ini memegang erat tangan suaminya, Saman.
Dua tangan itu sama-sama hitam, kurus dan berurat. Dua tangan milik sepasang buruh tani yang liat dan keras. Genggam menggenggam, tanpa mengerti bahwa bulan esok adalah momentum para pasangan dunia merayakan mahluk gaib bernama cinta.
Saman juga tidak pernah mengerti mengapa Sartiyem punya penyakit yang sungguh merepotkan itu. Bayangkan, waktu yang seharusnya digunakan Saman untuk bertani, kandas lantaran harus seharian memegangi tangan isterinya yang tidak indah itu. Cuma, Saman hanya pasrah dan berargumen singkat, “Kalau dilepas, badannya mendadak panas,”lirih Saman.
Belum lagi kebutuhan sehari-hari yang harus Saman penuhi. Makan, membuang kotoran, membersihkannya, sampai meninabobokan Sartiyem agar tetap nyaman dan lepas dari takut. Karena konon, penyakit Sartiyem ini adalah penyakit kejiwaan untuk takut terhadap sesuatu. Takut yang sangat dan hanya reda oleh kasar tangan Saman.
Jika ditanya tentang cinta,Saman mungkin hanya bisa tertawa. Puisi dan roman terlalu mewah untuk petani seperti Saman. Buatnya, Sartiyem hanyalah mahluk merepotkan yang kebetulan menjadi isterinya. Sayangnya, sejak mereka menikah, Sartiyem telah menjelma sebagai udara Saman. Begitupula Saman untuk Sartiyem. Hari demi hari.
Saman pun masih ada di sisi Sartiyem. Kini, ia menemani isterinya untuk tetirah di satu Rumah Sakit Solo. Di kamar gratisan, dengan tangan yang masih menggenggam.
Dalam Serpihan Sajak Sapardi Djoko Damono, Saman adalah hujan bulan juni yang terlalu cinta kepada pohon berbunga. Merahasiakan rindu, Membiarkan yang tak terucap dan menghapus jejak kaki yang ragu, untuk diserap akar pohon bunga itu.








