Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Riwayat Noto Soeroto dan Politik Asosiasi

Intan Setyani by Intan Setyani
26/11/2019
in Figur
Riwayat Noto Soeroto dan Politik Asosiasi

Barat punya akal dan Timur punya hati. Dua hal itu yang diyakini Noto Soeroto sebagai modal terciptanya Politik Asosiasi. 

Pada 25 November 68 tahun silam, seorang jurnalis, aktivis, penulis, politikus sekaligus pemikir besar telah mangkat. Ya, pemikir yang identik dengan ide politik asosiasi itu adalah Noto Soeroto.

Nabs, Noto Soeroto dikenal sebagai Bangsawan Jawa yang dekat dan berkarib dengan bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara.

Noto Soeroto, lahir di Keraton Pakualaman 5 Juni 1888 dan wafat 25 November 68 tahun silam tersebut, merupakan putra dari Pangeran Ario Notodirodjo.

Soeroto memiliki ekspektasi sekaligus upaya politik asosiasi: menggabungkan kebaikan orang Belanda dan Indonesia. Ide itu dirasa merupakan langkah untuk mencapai kemerdekan dengan tanpa adanya kekerasan.

Dengan sentuhan pemikiran Mahatma Gandhi dan Rabindranath Tagore, dalam melihat persemakmuran Indonesia-Belanda, Noto Soeroto berpijak pada cinta. Noto Soeroto percaya kemerdekaan Indonesia bisa dicapai tanpa harus mengorbankan rakyat ke tempat penjagalan.

Noto Soeroto selesai mengenyam pendidikan di Hoogere Burger School (HBS). Dia berangkat ke Den Haag untuk meneruskan sekolah menengahnya. Setelah lulus, dia melanjutkan pendidikan di Universitas Leiden mengambil ilmu hukum.

Noto merupakan anak Pangeran Ario yang tak berhasil tuntas kuliah jika dibanding sudaranya yang lain. Sebab, dia hanya meraih kandidaatsexamen (kira-kira setingkat sarjana muda) pada 1911.

Meski masih mengikuti perkuliahan, ia tidak berhasil meraih gelar
doktorandus karena terlalu banyak disibukkan oleh hal-hal lain di luar studinya.

Noto Soeroto tinggal di Den Haag dan mengombinasikan studinya dengan kerja jurnalistik, di mana ia dapat menuangkan ide-idenya tentang hubungan Belanda dengan koloninya.

Singkatnya, Noto Soeroto berasumsi bahwa Belanda mempunyai peranan penting yang harus dijalani di Hindia Belanda. Terutama pengetahuan Barat di bidang pertanian, teknik, perdagangan, pelayaran dan industri, Hindia Belanda dapat mengambil keuntungan.

Menurutnya, “Barat memiliki akal
sementara Timur memiliki hati”. Menurutnya, itu kombinasi yang ideal. Pemikiran itu membentuk basis konsep yang kemudian ia sebut sebagai pemikiran asosiasi.

Di Belanda, dia berkesempatan gabung dalam pendirian Indische Vereeniging pada 1908 dan menjadi ketuanya pada 1911-1914. Indische Vereeniging merupakan perkumpulan mahasiswa Indonesia pertama di Belanda yang kemudian berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).

Selama menetap di negara Kincir Angin, ia bertahan hidup dengan cara menulis di berbagai media dan seringkali menuangkan pemikiran-pemikirannya melalui surat kabar dan majalah.

Pada 1923, Noto Soeroto menerbitkan majalah sendiri yang bernama Oedaya yang terbit pertama pada April 1923. Dalam majalahnya itu, Noto Soeroto kembali menegaskan pendirian politiknya.

Selang waktu berikutnya, Noto
menulis peristiwa meninggalnya Van Huetsz. Dalam tulisan tersebut, dia banyak mengkritik sikap orang Indonesia yang dinilai kurang cakap berorganisasi, sekaligus banyak memuji Van Huetsz.

Sebab, kebijakan kolonialnya terhadap Indonesia berdampak pada bersatunya berbagai suku bangsa di Indonesia. Dia bahkan menganggap Van Huetsz sebagai Bima dalam perwayangan.

Pada 14 Desember 1924, Noto Soeroto yang dikenal sebagai tokoh moderat dan paling berwibawa dalam PI dipecat melalui suatu rapat anggota. Pemecatan ini menjadi pukulan kencang bagi semangat asosiasi dan pihak Belanda.

Menyikapi rasa kekecewaanya, Noto meluapkanya dalam sebuah karya dengan mendendangkan Wayang Leideren. Dan dari situlah, dia mengungkapkan semua pemikirannya.

Pasca Noto Soeroto kembali ke Indonesia, sebelum akhirnya ditangkap Jepang. Noto dianggap bekerjasama dengan pihak Belanda, sehingga disiksa. Diakhir hidupnya, kemiskinan sangat membuatnya menderita. Hingga dia jatuh sakit dan meninggal pada 25 November 1951.

Melalui tulisan ini, penulis mencoba tidak meninggalkan sejarah, Nabs. Dengan maksud lain, melalui tulisan inilah patut kiranya, sebuah sejarah akan tetap abadi dan akan tersampaikan dari generasi ke generasi.

Tags: Noto SoerotoPolitik Asosiasi
Previous Post

Askab PSSI Bojonegoro Siap Geber Kompetisi Internal Kelas Dua

Next Post

Atlet Catur Bojonegoro Juarai Ajang Internasional di Malaysia

BERITA MENARIK LAINNYA

Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia
Figur

Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia

26/03/2026
Fazlur Rahman Khan, Sosok di Balik Lahirnya Terminal Haji Jeddah
Figur

Fazlur Rahman Khan, Sosok di Balik Lahirnya Terminal Haji Jeddah

20/03/2026
Bruno Guiderdoni: Keseimbangan Sains, Quran, dan Iman
Figur

Bruno Guiderdoni: Keseimbangan Sains, Quran, dan Iman

18/03/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

17/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: