Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Ambeng dan Makanan Khas Desa yang Filosofis

Intan Setyani by Intan Setyani
05/12/2019
in Cecurhatan
Ambeng dan Makanan Khas Desa yang Filosofis

Jika kesederhanan sudah mampu membeli kebersamaan tanpa menghilangkan keberagaman, mengapa harus mahal?

Ingatan mendamparkanku pada bayangan makanan favorit. Makanan yang benar-benar khas desa. Makanan itu biasa ada pada hari tertentu. Di tempatku, biasanya Jumat Pahing. Apa itu?

Lama sekali rasanya tak merasakan cita rasa makanan tersebut. Biasanya, makanan itu bisa dijumpai dalam kemasan tradisi Kirim Duwo, begitulah orang Jawa menyebutnya, termasuk nenek saya.

Kirim Duwo, Nabsky, dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai proses kirim doa untuk menghormati keluarga yang sudah meninggal.

Kirim Duwo ini hampir sama dengan Kirim Duwo sebelum menyambut Puasa. Ini semacam Kirim Duwo yang memang rutin dilakukan saat Jumat Pahing di tempat tinggalku.

Selesai membaca doa, tetangga sekitar yang diundang akan diberi berkat “Ambeng” sebagai bentuk syukur atau ucapan terimakasih.

Dengan adanya acara tersebut, tak dipungkiri jika menjelang Jumat Pahing, para pedagang keliling bakal kelarisan dagangannya.

Saya memang lama tak menjumpai Ambeng. Sebab, sudah lama sekali saya belum pulang ke rumah. Begitu kangennya saya pada masakan itu, saya sampai tiba-tiba pengen pulang ke rumah. Apalagi jika yang memasak ibu.

Itu yang membuat saya selalu ingin pulang. Kata orang, masakan terenak adalah masakan Ibu. Bagi saya, masakan terenak tak lagi masakan ibu saja, masakan nenek pun selalu begitu, nagih. Perkara ini yang sering berdampak pada saya, kangen masakan rumah.

Nabs, Ambeng adalah makanan berwadah nampan. Dengan beralaskan daun pisang. Di dalamnya, berisi nasi, yang dipadu dengan kering tempe, bihun mie, dan tumis kacang. Telur sebagai pelengkap dan ditambah dengan ayam panggang utuh.

Tidak selalu harus ada ayam panggang memang, tergantung kemampuan tiap-tiap orang bagaimana mendesain dan menciptakan rasa syukurnya masing-masing.

Ambeng akan dibagikan pada masyarakat sekitar untuk dimakan bersama. Biasanya, satu RT atau satu lingkup perumahan yang ada di sekitar. Dan identik dengan bungkus daun singkong, tentu ini menjadi daya tarik rasa nasi, juga aroma makanan tersebut.

Sebab makanan jika dibungkus dengan daun pisang cita rasanya berbeda. Sama halnya masak nasi di atas pawon tradisional dengan kompor jelas berbeda. Ini alasan saya sangat tertarik dengan makanan yang dikemas dengan cara tradisional.

Yang tak boleh ditinggal dan bisa dikatakan wajib ada dalam Ambeng adalah kue apem.

Kue apem adalah nama yang tradisonal sekali tentu saja. Ini ciri khas dari Ambeng yang tak boleh ditinggalkan. Konon memang kue apem sendiri memiliki makna, apem (dari bahasa arab afuun yang artinya mohon pengampunan).

Dia dibuat dari tepung beras. Kadang, nenek mencampurinya dengan tape yang telah disimpannya selama tiga hari (agar empuk) dengan cetakan yang khas dimasak di atas bara arang.

Yang belum saya tahu, musabab saat membuat Apem ada keunikannya sendiri, gorengan Apem atau cetakan Apem pertama harus dilenyapkan atau dimasukan dalam pawon (di atas bara arang). Sampai dewasa ini, saya belum tahu mengapa nenek melakukannya.

Kadang saya berpikir dalam hati: kata nenek, membuang makanan adalah hal buruk, tapi kenapa Apem cetakan pertama dilenyapkan?

Saya tak berani tanya tentang hal itu. Saya tahu nenek tidak akan menjelaskannya. Itu sebabnya mengapa saya memilih diam, hanya mengamati dari jarak dekat.

Tradisi Kirim Duwo dalam lingkungan sekitar rumah saya masih sering dijumpai. Tapi tidak semuanya. Hanya beberapa saja.

Di era kontemporer seperti saat ini, masyarakat Jawa sudah tak banyak yang melakukannya. Hanya beberapa masih akrab dengan tradisi tersebut.
Namun, keluarga saya masih melestarikannya sampai sekarang.

Dari budaya tersebut saya mengamati, mulai dari bagaimana mengolah sampai siap saji. Dari proses itu, poin yang saya dapat adalah kesederhanaan.

Nilai itu yang dapat selalu saya ingat, bahwa hidup tidak melulu harus mewah. Jika kesederhanan sudah mampu membeli kebersamaan tanpa menghilangkan keberagaman, mengapa harus mahal?

Jika Ambeng dan apem kelak tak ada lagi, setidaknya, melalui tulisan ini, saya telah merekam jejak warisan budaya nenek moyang tersebut. Nabs, ini cara saya mengapresiasi budaya. Kalau kamu gimana?

Tags: Ambengkuliner tradisionalmakanan desa
Previous Post

Pesan Puthut EA tentang Merintis dan Merawat Perusahaan Media

Next Post

Misteri di Balik Maraknya Pohon Tumbang di Bojonegoro

BERITA MENARIK LAINNYA

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)
Cecurhatan

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal
Cecurhatan

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

17/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: