Beragam kesenian, tradisi, dan kebudayaan akan tetap lestari apabila kedaulatan tanah dan air masih terjaga.
Indonesia merupakan negara yang kaya akan tradisi, kebudayaan, suku, bahasa, dan sebagainya. Lokasinya luas. Sehingga tradisinya pun amat banyak. Beragam dengan bermacam beda.
Perbedaan di Indonesia sudah biasa, mengingat semboyan negara kita Bhineka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Perlu diketahui bahwa, beberapa tradisi dan kebudayaan masih lestari karena kedaulatan tanah dan air.
Nabs, pernah membayangkan tidak? Misalnya, jika di desamu suatu saat didatangi korporasi, harusnya berpikir panjang terlebih dahulu terkait dampak yang ditimbulkan misalnya pencemaran air, udara, tanah, dan sebagainya.
Tanah yang terhampar luas dan digunakan untuk bercocok tanam itu lebih baik, daripada atas nama pembangunan dan menuruti beberapa kehendak pihak lain, tanah yang subur digantikan dengan perusahaan semen, misalnya. Kemudian mendirikan pabrik dan tidak mengindahkan etika lingkungan.
Tentu kebudayaan dan tradisi masyarakat sekitar akan bergeser, dari masyarakat agraris kemudian meninggalkan jati dirinya. Juga perubahan paradigma, menganggap petani itu kuno dan orang-orang berseragam lebih gagah, misalnya.
Sedakah bumi itu kurang sesuai dengan aturan agama Islam, tradisi wiwitan dalam pertanian itu kuno, dan stigma lain. Apa kita tidak pernah memeras otak tentang indikator kekerenan dan kekunoan suatu tradisi?
Padahal itu hanya sebutan saja dan kurang menggambarkan realitas yang sebenarnya. Di balik anggapan yang kurang benar terhadap tradisi dan kebudayaan di Indonesia, terdapat pelajaran yang bermakna dan bisa meningkatkan rasa syukur pada Tuhan.
Tradisi dan budaya di Indonesia masih lestari meski zaman silih berganti karena ada tanah dan air. Misalnya di dunia pertanian, ada yang namanya tradisi wiwitan sebagai cara lain untuk mengungkapkan rasa syukur pada Tuhan.
Apabila tanah pertanian tergantikan dengan pabrik, perumahan, dan gedung pencakar langit tentu tradisi wiwitan akan hilang.
Dalam buku Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan karya begawan Antropologi Indonesia, Koentjaraningrat menyebutkan bahwa, kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia, yang harus dibiasakan dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu.
Budaya. Kultur. Culture. Istilah itu berasal dari kata Latin: Colere, yang berarti, “mengolah, mengerjakan”, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari arti ini berkembang arti culture sebagai daya dan usaha manusia untuk mengubah alam.
Petani itu pahlawan negeri. Tidak ada petani, kita makan apa? Jika menyandang sebutan sebagai negara agraris namun masih impor beras, kesejahteraan masyarakat tidak membaik, dan air (wilayah laut) digunakan sebagai tempat investasi.
Apa yang salah di negeri ini? Sistem? Budaya Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang masih merajalela? Hmmm…mari bersama-sama merenung.
Padahal setiap senin pagi masih menyanyikan national anthem “Indonesia Raya”. Dalam lagu Indonesia Raya, terdapat lirik “Indonesia Raya Tanah Airku”.
Kedaulatan tanah dan air sangatlah penting, misalnya kalau laut-laut direklamasi tentu adat dan kebudayaan di sekitar masyarakat laut dan sekitarnya perlahan akan bergeser dan hilang.
Beragam kesenian, tradisi, dan kebudayaan akan tetap lestari apabila kedaulatan tanah dan air masih terjaga.
Tradisi, dan kebudayaan di Indonesia, khususnya Bojonegoro, beragam, Nabs. Ada tari thengul, oklik, sedekah bumi, wiwitan, colok-colok malem songo, dan lain-lain.








