Dari cerita berkembang di desa, colok-colok terpasang di pinggir jalan, sekitar rumah, dan tempat-tempat lain menjadi penerang bagi arwah nenek moyang menuju jalan pulang.
Malam songo atau malam sembilan atau malam 29 ramadhan, selalu identik pernikahan dan perjodohan. Padahal, ada identitas dan kisah lain yang amat harus diketahui. Ia adalah colok-colok malem songo.
Sadar atau tidak, beberapa hari ke depan kahananing ati bakal gawe trenyuh plus netes eluh ketika gema takbir Idul Fitri berkumandang di berbagai penjuru bumi.
Namun sebelum itu, ada salah satu tradisi unik yang seakan-akan membawamu ke sebuah masa yang berbeda: colok-colok malem songo namanya.
Mengingat kita sedang berada di bulan Ramadhan, selain oklik ada tradisi lain yaitu colok-colok malem songo. Setiap derah berbeda-beda dalam hal penyebutannya. Ada juga yang menyebut sebagai festival obor.
Saban orang memiliki kisah tersendiri tentang itu, momen tersebut menandai akan berakhirnya bulan suci Ramadhan.
Foto di atas merupakan gambaran tradisi Colok-colok di kampung saya. Foto tersebut merupakan memorabilia berharga bagi saya, selain nanti untuk cerita anak dan cucu atau digunakan keperluan lain misalnya dokumentasi penelitian.
Foto itu saya ambil menggunakan kamera di gawai pada medio 2015, tepatnya pada bulan Ramadhan 1436 H. Upaya mengabadikan momen di era kecanggihan teknologi menjadi keharusan.
Apalagi di bulan Ramadhan, ada beberapa momen misalnya buka bersama (bukber), ngabuburit, dan oklik yang bagi sebagian orang merupakan keharusan untuk melaksanakan.
Mengingat di Ramadhan 1441 H ada pandemi, momen bulan Ramadhan kemungkinan berisi mengenai kegiatan di rumah. Hal tersebut tidak menghalangi produktivitas, kreatifitas, dan meningkatkan kualitas iman juga taqwa di Ramadhan Pandemi.
Colok-colok malem songo terjadi pada puasa ke-29, selain mendekati perpisahan dengan bulan Ramadhan, juga banyak kisah tentangnya.
Menikmati colok-colok malem songo, suara al-qur’an yang terdengar dari berbagai penjuru, dan balutan kehangatan berkumpul dengan orang-orang tersayang. Apalagi kalau benar-benar berada di malam akhir bulan Ramdhan dimana menjelang hari raya Idul Fitri.
Gema takbir yang berkumandang merasuk ke semua makhluk. Tak jarang ketika mendengar suara takbir trenyuh ati iki plus netes eluh.
Sebelum gema takbir berkumandang juga ada kebahagiaan yang menyelimuti. Apalagi kalau bukan kawan-kawan yang berhasil menemukan belahan jiwanya.
Meresmikan pertemuan di Ramadhan ke-29 atau malem songo. Dari perjumpaan kemudian meresmikan suatau ikatan untuk mengarungi bahtera kehidupan bersama.
Colok-colok yang terbuat dari kayu dan balutan kain kemudian dilumuri minyak tanah juga ikut meramaikan peresmian hubungan sepasang anak Adam dan Hawa. Api yang berkobar dari colok bak semangat hidup baru yang menerangi jalan di kegelapan.
Sebelum adzan maghrib berkumandang dan suara bedug terdengar, lampu-lampu di desa padam namun suasana desa akan terang bersama nyala colok yang terpasang di sekitar jalan pedesaan.
Kamu serasa dibawa ke dimensi lain ketika malam songo, apabila mencoba untuk berfikir tentang apa dan bagaimana sesuatu bisa terjadi.
Selain perjumpaan, tradisi colok-colok malem songo juga memberikan ibrah tentang hakikat pulang.
Dari cerita-cerita yang berkembang di desa, colok-colok yang terpasang di pinggir jalan, sekitar rumah, dan tempat-tempat lain menjadi penerang bagi arwah nenek moyang menuju jalan pulang.
Dari rumah masa depan (kuburan) kemudian berjalan pulang menuju ke rumah di mana arwah itu dulunya menjalani kehidupan yang fana untuk mampir sebentar.
Kemudian setelah nyala api dari colok-colok padam, mereka telah kembali ke alam yang abadi. Hal tersebut memberikan pelajaran tentang hakikat pulang. Pulang yang sesungguhnya, kembali pada sang pencipta.
Tujuan dari kehidupan salah satu dari seribu tujuan yang lain adalah pulang. Maka dari itu, mari bersama-sama menorehkan tinta emas dan mewarnai jalan menuju pulang dengan kebaikan.
Agar amal kebaikan; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak sholeh senantiasa menjadi lentera penerang jalan bak nyala api dari colok yang berkobar di kegelapan.








