Lagu Satru (Denny Caknan dan Happy Asmara) konon kerap bikin “maktratap” perasaan pendengar dan menyentuh titik baper masing-masing. Berikut ini tafsir lirik Lagu Satru.
Lagu Satru memang asyik. Baik secara melodi ataupun lirik. Meski bergenre Campursari Kontemporer yang notebene dominan bahasa lokal, setidaknya sudah bisa membuat orang bersedih tanpa harus paham artinya. Istilahnya: crying without feeling sad atau sad without knowing the reason.
Seorang kawan, saking sukanya sama lagu Satru, meminta saya menulis tafsir lirik lagu Satru. Saat saya tanya, “memang apa yang kamu rasakan saat mendengar lagu itu?” Jawabnya: ingat Tuhan.
Katanya, ini jenis lagu religi yang elegan. Yaiyalah ingat Tuhan, lha wong video klipnya aja pakai rukuh dan orang sedang sakit. Masak ingat makan-makan? Ada-ada saja.
Sebelumnya, seorang kawan juga pernah meminta saya untuk mbalagh lirik lagu Sugeng Dalu dan satunya lagi, Kartonyono Medot Janji untuk didedah tafsirannya.
Sebagai mufassir lirik yang baik hati, tentu saya akan mendedah lirik lagu Satru ini dari sudut pandang psikolinguistik dan realitas sosial wqwq.
Lagu ini, konon selalu bikin baper pendengar. Apalagi kalau pendengar yang baperan, pasti langsung maktratap dalam hati. Ini tentu bukan tanpa alasan.
Lagu Satru tergolong lagu yang berpotensi besar mewakili perasaan banyak orang. Bahkan, jomblo pun akan patah hati dengan mendengar lagu ini. Istilahnya, belum jatuh cinta sudah patah hati duluan.
Ini terjadi karena karakter bawaan lelaki yang suka minta maaf tanpa alasan dan perempuan yang suka drama saat dimintai maaf, benar-benar tergambar dalam lagu.
Sehingga siapapun yang mendengar, baik lelaki atau perempuan, akan merasa berperan sebagai tokoh dalam video klip lagu.
Lagu Satru memang cukup unik. Sebab dinyanyikan secara selang-seling. Ada part lelaki dan part perempuannya. Ini alasan utama kenapa sosok Sadbloy macam Yudi Kiswanto bakal kesulitan menyanyikan. Lha wong dia jombloy.
Berikut tafsir sederhana lirik lagu Satru yang dinyanyikan Denny Caknan dan Happy Asmara.
Unine batin dungoku/
Ra luput ko jenengmu. Bunyi doaku dalam hati/ tak lepas dari namamu. Bait ini dinyanyikan vokal perempuan. Dalam hal ini, Happy Asmara. Ya, Happy Asmara memang sudah absurd sejak dalam nama. Lha wong happy kok lagunya sedih terus. Wqwq
Aku ngedem – ngedem atimu/
Bakoh mempertahankanmu. Saya mendamaikan hatimu/keukeuh mempertahankanmu. — bagian ini dinyanyikan vokal lelaki. Ini karakter khas lelaki. Cenderung bertahan. Seorang gentle pasti menjawab demikian, meski kenyataannya nggak se-dramatis itu juga.
Gusti kulo pun manut dalane/
Mung jenengan sing ngatur critane
Tuhan saya sudah nurut pada jalanmu/Engkaulah yang mengatur ceritanya (segalanya) —- ini kepasrahan yang melankolis. Kalimat yang harusnya memang sering diucap lelaki akibat sering menghadapi perempuan yang sulit dipahami.
Sing jelas aku mikir kedepane/
Opo bakal hubungan satru seteruse
Yang jelas aku mikir kedepannya/ apa kita akan diem-dieman selamanya —- Ini jelas kecenderungan karakter seorang perempuan. Visioner tapi juga peragu dalam waktu yang bersamaan. Sifat semacam ini yang membuat lelaki kerap bodoh mendadak.
Tulung percaya aku sayang awakmu
Tolong percaya aku/aku sayang kamu— gak usah ditafsiri juga pasti tahu. Ini sejenis senjata yang sudah dimiliki lelaki sejak baligh, entah itu gimik entah itu beneran.
Buktine sampean nglirik liane
Buktinya kamu melirik yang lain.— gak usah dikasih tahu juga pasti tahu. Tiap perempuan punya insecuritas dalam menjalin hubungan, entah itu drama entah itu nyata.
Sumpah ra koyo sing mbok pikir selama iki. Sumpah tak seperti yang kamu pikirkan selama ini —- selain bisa dandan kompor dan genteng bocor, tiap lelaki juga punya bakat menepis kecurigaan perempuan. Sejenis keahlian yang tak dominan. Mirip kucing yang bisa berenang.
Mas isoku meneng, ngajeni awakmu. Mas bisaku diam menghargai dirimu— yang paling misterius dalam hidup, selain kenapa saat membuat mie goreng harus tetap digodok, adalah diamnya perempuan.
Sepurane yen pancen salah. Maaf jika memang aku salah. — selain bisa dandan kompor dan memperbaiki genteng bocor, keahlian alami seorang lelaki adalah suka minta maaf.
Sepurane yen aku neng uripmu mung masalah. Maaf jika di hidupmu aku hanya bikin masalah —- selain suka memasak, perempuan kadang juga suka playing victim di saat si lelaki sudah minta maaf. Ini sejenis variasi dramatisasi kondisi. Hmm
Rangkulen aku, iki gur mung salah pahamku. Peluklah aku, ini hanya salah paham saya saja — ya, seperti apapun di dunia ini, kadang tak ada yang salah. Yang salah adalah pemahaman masing-masing terhadap sebuah objek tertentu.
Satru hubungan mung salah pahammu. Diem-dieman ini hanya salah paham saja —- ya, memang tak ada yang perlu disalahkan, kecuali kesalahpahaman itu sendiri.
Sampean kudu ngerteni, aku cemburu. Kamu harusnya tahu, aku itu cemburu —- nah, masalahnya cuma ini. Mau bilang cemburu saja nunggu muter-muter lewat jalan tol Cipularang. Hmmm
Nabs, terlepas dari itu semua, dalam konsep relasi antar lelaki dan perempuan, ada semacam kecenderungan bahwa lelaki memang suka minta maaf dan perempuan suka ragu memaafkan. Meski sesungguhnya, dua-duanya tak ada yang bersalah.








