Menulis seperti bertarung secara fisik dan mental. Serupa pertarungan, harus punya jurus untuk menulis.
Menulis memang butuh pembiasaan. Butuh latihan. Dan butuh banyak hal yang kadang harus dipaksa terlebih dahulu. Oke, berikut 7 jurus mahir nulis ala Jurnaba yang harus kamu tahu.
1. Prioritas Membaca
Membaca ibarat mendengar, menulis ibarat berbicara. Untuk bisa fasih berbicara, pertama-tama harus bisa dan mau mendengar. Begitupun, untuk bisa lihai menulis, harus bisa dan mau membaca terlebih dahulu.
Banyak penulis dunia yang membangun keahlian menulis dengan tradisi membaca. Jose Luis Borges dan Mario Vargas Llosa, tentu nama-nama penulis besar yang menjadikan tradisi membaca sebagai pilar utama menulis.
2. Menulis dari Dekat
Untuk membangkitkan keinginan menulis, harus diawali sesuatu yang sangat dekat dengan kita. Hal-hal yang semula sepele, asal dekat dengan kita, pasti bisa jadi tulisan bagus. Sebab, kita mengalami, merasakan, dan memperhatikannya secara langsung.
Hal-hal yang sangat dekat seperti hobi dan pekerjaan, adalah bahan baku tulisan yang sangat bagus bagi penulis pemula. Jangan menulis sesuatu yang jauh-jauh dulu. Sebab, jika tidak sampai, malah memicu trauma dan malas menulis lagi. Tapi, tulislah sesuatu yang dekat. Sehingga membawa kebanggaan psikologis dan membuat terus menulis.
3. Bukan 5W1H tapi 5W1Hmm~
Konsep what, where, why, who, when, dan how (5W1H) merupakan paradigma dasar menulis. Jika sudah memahami, segera belajar tentang konsep berikutnya, yakni: memahami dan merenung (MM). Jadi, tak lagi 5W1HaHaHa tapi 5W1Hmm
Haha dan Hmm tentu punya semiotika berbeda. Mereka yang sering hahaha biasanya kurang mendalam dalam memikirkan sesuatu. Sementara mereka yang terbiasa hmmm sangat lihai merenung dan berpikir mendalam.
Memahami dan merenung jadi hal penting bagi seorang penulis. Untuk mendapat inspirasi, seorang penulis harus sering-sering memahami keadaan sebuah objek melalui berbagai sudut pandang. Setelah itu, direnungkan.
4. Menyemai Ide
Jika tulisan ibarat tubuh, ide adalah ruh. Ide harus ada sebelum tulisan lahir ke dunia. Ide harus dilahirkan. Ide didapat, dari apa yang didengar dan dilihat. Mencari ide memang sulit. Sebab butuh proses pencarian.
Biar cepat, ide harus dibikin. Dibuat. Dan diproduksi sendiri. Memproduksi ide butuh kepekaan indera. Karena itu, indera (baik pendengaran, pengelihatan, atau perasaan) harus terus dilatih agar kian tajam menghimpun embrio tulisan.
5. Memahami Berbagai Sisi
Seorang calon penulis harus membiasakan diri untuk mendekonstruksi kondisi. Membaca dan memahami informasi dari berbagai sudut posisi. Ini penting agar penulis tahu, celah mana yang harus dimasuki.
Tak ada jalan tunggal untuk menemui ide. Ide selalu bisa didapat melalui berbagai pintu jalan. Ada yang landai dan ada yang meliuk-liuk. Misalnya, 10 tak harus didapat dari 5+5, bisa juga didapat dari 7+3 atau atau 8+2.
6. Membaca dan Meresensi Buku
Untuk bisa lihai menulis, memang harus sering membaca sekaligus meresensinya. Meresensi jadi penting karena kita bisa membaca p(em)ikiran orang lain, sekaligus mengkonfirmasinya dengan cara berpikir kita sendiri.
Ingat, meresensi tak sekadar membaca lalu selesai. Meresensi berarti menyimpan informasi (dari buku yang dibaca), untuk kemudian diolah lagi dengan perspektif kita sendiri. Tentu saja, ini latihan mengkonfirmasi informasi dari orang lain.
7. Menulis Orang Lain
Dengan menulis karakter teman atau orang lain, kita telah membaca, mengamati, sekaligus memberikan definisi pada sebuah objek. Ini proses belajar yang sangat penting bagi calon penulis. Jangan sering-sering menulis diri sendiri. Selain lebay dan bikin ilfil pembaca, menulis diri sendiri memperlambat perkembangan imajinasi kita.
Menulis karakter lucu teman dekat — orang-orang terdekat, atau siapapun asal tidak diri sendiri— membuat kita jadi sosok yang lihai membaca dan memahami karakter orang lain. Kelihaian memahami karakter ini juga modal utama seorang penulis.








