Jika orang-orang membuka tahun baru dengan bakar-bakar makanan, civitas Kampus Terbuka membakar ego diri sendiri demi terus berdiskusi.
Geliat Kampus Terbuka terus bergerak dan berkembang dari tahun ke tahun. Dari zaman ke zaman. Dari periode ke periode. Di pertemuan yang entah keberapa ini (1/1/2022), bermacam masalah telah digodok, dimatangkan, dan dicarikan instrumen solusi agar bisa diintervensi menjadi lebih baik.
Hampir tiap seminggu sekali, para muda-moody progresif Bojonegoro ini berkumpul untuk berdiskusi. Menggelar kajian secara bil-ilmi. Dan menghadirkan solusi demi sebuah kemajuan, secara amat sangat militan.
Saking militannya, ada sebuah kredo di Kampus Terbuka yang berbunyi: Tak ada hari Sabtu tanpa menggelar diskusi. Tak ada hari Sabtu tanpa perbincangan bil-ilmi. Meski kita juga wajib curiga, jangan-jangan kejombloan yang jadi alasan. Kalaupun iya, itu pun tak masalah.
Jomblo punya sanad musalsal yang jelas. Dari Nikola Tesla hingga Isaac Newton, dari Imam Nawawi Ad Dimasyqi hingga Al Khawarizmi, jomblo tetap bisa berkontribusi. Plato, bahkan bisa membangun Academi Athena, tapi tak mau membangun rumah tangga.
Itu membuktikan betapa ilmu pengetahuan dan peradaban tak pernah mempermasalahkan kejombloan. Yang penting tetap berjalan pada koridor jomblo rohmatan lil alamin dan jomblo anfaahum linnas.
Nabs, jika orang-orang membuka tahun baru 2022 dengan bakar-bakar makanan, civitas Kampus Terbuka membuka tahun baru dengan membakar ego demi tetap berdiskusi bersama. Inilah hebatnya Kampus Terbuka, mendedar ilmu dimana-mana.
Kampus Terbuka selalu terbuka terhadap pandangan-pandangan ilmiah. Selalu berpihak pada nalar sehat. Dan selalu militan mencari solusi demi peradaban. Anggotanya pun dari bermacam profesi dan kalangan.
Ada pengendali air, pengendali bahan bakar, pengendali kemiskinan, pengendali komunitas, pengendali bencana, pengendali masa lalu, pengendali kebijakan, hingga, tentu saja, pengendali opini publik. Semua bahu membahu menyelamatkan peradaban dari ancaman kegelapan.
Yang terbaru, para civitas Kampus Terbuka juga sedang menyiapkan sebuah buku. Sebuah monumen. Sebuah prasasti. Ini tentu sangat penting. Jangan sampai ilmu yang sudah diperbincangkan hingga berbusa-busa itu hilang begitu saja.
Banyak kaidah yang menggambarkan betapa pentingnya mencatat ilmu. Dari Qoyyidul ilma bilkitabi hingga verba volant scripta manent, semua menunjukan pada kita bahwa: jangan sampai busa-busa ilmu pengetahuan itu hilang diterpa angin amnesia.
Misi Ledreologi Society
Kampus Terbuka selalu berpihak pada ilmu pengetahuan dan kemajuan peradaban. Mereka membawa misi Ledreologi Society. Yakni, masyarakat yang berkemanusiaan, berperadaban, dan berpegang pada ilmu pengetahuan.
Dalam kaidah gramatikal, suffix ology menjadikan sebuah kata memiliki keberpihakan pada ilmu, dan kecenderungan untuk selalu belajar tentang sesuatu. Ledreologi adalah ruh dan spirit dan esensi Kampus Terbuka.
Secara ghaib dan nyata, Kampus Terbuka membawa pesan-pesan besar dan keberpihakan pada konsep Ledre; Liberte Egalite Democratia and Respublica. Kebebasan, kesetaraan, kesamaan hak dan urusan publik.
Kampus Terbuka, dalam urusan pendidikan dan kemajuan peradaban manusia Bojonegoro, selalu bergerak atas nama kebebasan, kesetaraan, kesamaan hak, dan urusan publik. Sebab, pendidikan adalah urusan publik. Bukan pribadi, apalagi dinasti politik.








