Jika ada yang bertanya pada Anda, mengapa rajin mambaca? Jawab saja, “Masih banyak pengetahuan yang belum saya pelajari, dan masih minim pengetahuan yang saya miliki”.
Inilah jawaban filosofis kalau boleh penulis katakan. Apa sebabnya? Kita sudah bisa mendeskripsikan hal tersebut secara mendalam tentang hakikat (Ontologi), kenapa rajin membaca tetap dilakukan seiring dengan minimnya budaya tersebut maujud di sekitar kita.
Mudahnya, telah ditemukan alasan yang tepat bila orang lain mempertanyakan hal itu, bahwa hasil bacaan digunakan sebagai pandangan hidup (philosophy of life) meminjam terminologi Prof. Dr. Ahmad Tafsir, (2013:90) dalam buku Filsafat Ilmu.
Alasan filosofis di atas, bisa lahir dari perenungan mendalam. Ibaratnya, berbagai alasan yang telah kita dapatkan dari proses membaca, sudah bisa kita tuturkan. Oh inilah alasan yang tepat bin mujarab yang mendasari why reading is my habit.
Filosofi tersebut bila disampaikan kepada orang lain kala ada yang menanyakan, atau disampaikan dalam paparan tulisan yang kita tuangkan, hingga notes berbentuk flayer update medsos, sesungguhnya bisa memotivasi mereka berperilaku sama dengan apa yang kita lakukan.
Paparan alasan yang kita temukan “terkait membaca” seakan menghipnotis orang untuk beranjak dari kenyamanan “tidak baca” segera membuka buku walau sebentar untuk beranjak membaca. Adapun waktunya, disesuaikan dengan kelonggar situasi dan kondisi diri.
Terwujudnya perilaku membaca menunjukkan, bila kita semangat belajar. Sementara dalam konteks Agama, perilaku itu juga bagian dari tafsir pengamalan perintah Rasul Saw, untuk senantiasa semangat belajar dari lahir hingga meninggal apapun bentuk profesi.
Gambarannya, bagi yang berprofesi sebagai petani, tentu akan cakap bercocok tanam bila informasi kekinian bertani digali dari hasil bacaan. Memiliki bengkel sebagai misal, akan update utak-atik permesinan dan hal ihwal seputar spare part bila kita kaya literatur bacaan.
Profesi guru, ustaz, dosen juga menuntut hal yang sama. Yakni, membaca kudu menjadi makanan keseharian. Sebab, perbendaharaan pengetahuan yang didapatkan dari membaca, akan mampu memberi warna beda saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung, baik dijalankan secara offline atau online. Alhasil, tentu akan ada kesan professional, cool, perfect, dan aneka bentuk feedback lainnya yang terlontar dari siswa hingga mahasiswa.
Ragam profesi yang penulis sebutkan di atas adalah sampel, bila membaca ternyata menambah input pengetahuan yang smooth dan konkrit hasilnya. Pengetahuan yang didapatkan tidak sekadar bertahan lama, melainkan bisa dijadikan sumber kepenulisan bagi yang berprofesi tambahan sebagai kolumnis atau dalam KBBI disebut sebagai orang yang tetap menulis artikel dalam surat kabar atau majalah, serta melalui public speaking bagi yang demen ceramah, pidato, khutbah, training, dan lainnya.
Fungsi yang lainnya -terhadap membaca- diri ini menjadi terbuka dengan keadaan dan lajunya zaman. Pengetahuan sebagai hasil membaca, tidak menjadikan kita terkungkung pada hadirnya informasi parsial.
Tetapi, menumbuhkan kecakap diri trampil mempersiapkan skill dan kreatifitas diri untuk dijadikan sebagai sarana menjawab tantangan yang dihadapi dan menjadi kebutuhan jangka panjang.
Akhirnya, kenapa membaca penting, agar jangan ada kesan membaca hanya milik pelajar di tingkat dasar maha pelajar di tingkat PT. Jangan pula terkesan, membaca menjadi dikotomis sebatas mereka-mereka yang lagi menempuh jenjang Pendidikan formal.
Adapun selepas itu, membaca say good bye dari kehidupan kita. Bila kita pikir secara masak-masak, membaca tidak kenal usia, zaman, dan tempat. Karena, ia akan menjadi lentera bagi siapa saja yang melaksanakannya.
Penulis adalah Pegiat Literasi, Dosen PAI UNUGIRI, Alumnus At-Tanwir Talun, dan Pengurus PAC ISNU Balen.








