Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Pendidikan Kaum Tertindas dan Pemikiran Paulo Freire

Rahmanda Putra by Rahmanda Putra
05/07/2022
in JURNAKULTURA
Pendidikan Kaum Tertindas dan Pemikiran Paulo Freire

Pendidikan hadap masalah diyakini dapat membuat murid lebih berfikir secara luas dan berpendapat sesuai pandangannya.

Ini tentang buku yang dapat mengantarkan kita untuk berfikir kritis. Buku tentang sebuah khasanah baru untuk teori pendidikan kritis di era 1970-an. Yang di pelopori oleh  seorang doktor filsafat pendidikan.

Ia sukses dengan metode  pemberantasan buta huruf, yang juga menguatkan pendidikan politik di kalangan petani Brasil. Membahas masalah sentral manusia yaitu humanisme, sebuah hal yang harus di perjuangakan oleh setiap individu.

Karena sejatinya setiap manusia dapat menciptakan keadilan untuk dirinya sendiri tanpa pergi ke surga Paulo Freire menjelasakan secara  rinci apa itu tertindas secara maknawi dan mindset.

Serta membangkitkan sebuah kesadaran untuk berubah atau bertindak bagi mereka kaum tertindas. Penindasan yang dideskripsikan sebagai usaha dehumanisasi terhadap kaum lemah. Dan berlaku sebaliknya bagi ketertindasan.

Merambat ke sebuah penindasan gaya baru yang sering terjadi dirana Pendidikan. Gaya penindasan ini kurang disadari bagi mereka yang tertindas maupun yang menindas dikarenakan tertutup rapi dengan kebiasaan dan kultur yang sudah mandarah daging.

Bahwasanya guru bersikap seperti penghibah atau pemberi ilmu dan murid malah di ubanya layaknya sebuah bejana bejana kosong untuk didisi oleh guru. Semakin penuh dia mengisi bejana -bejana itu, maka semakin baik pula seorang guru. Semakin terisi penuh bejana-bejana itu maka makin dipandang pandai dan baik pula dia sebagai murid.

Dan gaya Pendidikan tersebut Paulo menyebutnya dengan Pendidikan “gaya bank” yang memiliki beberapa relalitas sebagai berikut: guru mengajar, murid diajar; guru mengetahui segala sesuatu, murid tidak tahu apa-apa; guru berpikir, murid di pikirkan; guru bercerita, murid patuh mendengarkan.

Masih ada lagi: guru menentukan peraturan, murid di atur; guru memilih dan memaksakan pilihanya, murid menyetujui; guru berbuat, murid membayangkan dirinya berbuat melalui perbuatan gurunya; guru memilih bahan dan isi pelajaran, murid (tanpa diminta pendapatnya) menyesuaikan diri dengan pelajaran itu.

Guru adalah subjek dalam proses belajar, murid adalah objek belaka.
Pendidikan gaya bank adalah sebuah penddikan yang di anggapan sebagai Pendidikan yang dapat mematikan kekreatifitasan murid serta membelenggu murid untuk berfikir kritis.

Oleh sebab dari Pendidikan gaya bank ini akan adanya suatu dikotomi antara manusia dengan dunia: manusia semata-mata ada di dalam dunia, bukan bersama dunia atau orang lain; manusia adalah penonton, bukan pencipta.

Paulo Freire menawarkan solusi atas realitas hari ini, yaitu sebuah pendidikan hadap masalah, yang menolak hubungan vertical dalam pendidikan gaya bank, Pendidikan hadap masalah ini diyakini dapat membuat murid lebih berfikir secara luas dan dapat berpendapat sesuai pandangannya.

Dan alhasil guru tidak lagi menjadi orang yang mengajar dan penghibah illmu  tetapi lebih ke orang yang membimbing murid dalam menemukan jawaban dan sebagai penuntun murid untuk mengembangkan potensi dan intelektulnya.

Dalam pendidikan hadap masalah, tidak ada orang mengajar orang lain, atau orang yang mengajar diri sendiri. Manusia saling mengajar diri sendiri.

Manusia bisa saling bertukar pikiran bertukar pendapat dan dari gagasan ini manusia  lebih berfikir kritis karna seringnya mereka berusaha dalam menghadapi sebuah masalahnya sendiri.

Dalam buku ini Paulo juga menjelasakan tentang tingkatan kesadaran yang terdiri dari; Kesadaran magis, Kesadaran naif, dan kesadaran kritis.

Dan dapat disimpulkan bahawa buku Pendidikan kaum tertindas ini mengajarkan kita tentang kebenaran sebuah kependidikan dan menyadarkan kita tentang realitas Pendidikan saat ini yang harus diperbaiki bersama.

Belajar berfikir kritis Bersama buku Pendidikan kaum tertindas
Judul buku : Pendidikan kaum tertindas
Pengarang : Paulo Freire
Halaman : 217
Tahun terbit : 2017

 

Tags: Paulo FreirePendidikanResensi Buku
Previous Post

Rumah dan Catatan Kecil Tentangnya

Next Post

Pemanfaatan Limbah Jadi Pupuk Kompos Ala Mahasiswa Trunojoyo Madura

BERITA MENARIK LAINNYA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman
JURNAKULTURA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

08/04/2026
Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian
JURNAKULTURA

Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian

31/03/2026
Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro
JURNAKULTURA

Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro

15/03/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Batu Bara dan Piring Kosong

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: