Di balik keramaian selalu ada sisi kesunyian. Bersenang-senanglah. Unjuk kopinem.
“Aku masih di sudut kota…., dimanakah engkau berada?” Cuplikan lirik lagu dangdut, menyambut pengunjung warkop Giras Patimura yang baru datang.
“Teh anget, tiga ribu”, keluar dari mulut penjaga warkop giras yang berada di Jalan Patimura.
“Ayo…golek warung”, ujar seorang bocah setelah ngopi dari warkop Giras Patimura.
Dalam khasanah perkopian di Bojonegoro saban warkop memiliki ciri khas. Tak terkecuali dengan warkop Giras Patimura.
Jalan Patimura, Nabs. Apa yang terngiang dalam pikiran ketika mendengar kata “Patimura”? Ahmad Matulessi atau Thomas Matulessi? Wqwq.
Patimura merupakan pahlawan dari daerah timur Indonesia. Gambaran figur Patimura tampak di uang seribu rupiah. Dengan membawa sebilah pedang, membuat Patimura sebagai pejuang gigih yang menumpas imperialisme Belanda.
Apakah Nabsky ketika menginjakkan kaki di warkop Giras Patimura terbayang seorang Patimura? Atau uang seribu? Apapun yang Nabsky rasakan, pengalaman menikmati makanan dan minuman di warkop Giras Patimura, suatu hal yang berkesan.
Buka 24 jam. Empat meja kayu berbentuk persegi panjang jadi pengisi ruang. Berbagai jenis “laku” tersaji di hadapan sesama pegiat warung kopi wabilkhusus warkop pinggir jalan.
Suara lalu lalang kendaraan menjadi suara hiburan yang akan menemani ketika ngopi di warkop giras Patimura. Selain itu, alunan musik dangdut, akan menghibur saban pengunjung.
Bagi pegiat warung kopi yang suka membaca, jangan khawatir, selain ada fenomena alam dan sosial yang tersaji di warkop dan sekitarnya yang bisa dibaca, juga ada koran.
Pagi, siang, sore, malam, dini hari, hingga matahari terbit lagi, rolling door warkop Giras Patimura akan tetap buka. Kecuali, di hari-hari tertentu rolling door warkop giras akan menurunkan dirinya.
Jam dinding berwarna putih dengan garis tepi merah. Menjadi penanda garis waktu. Empat buah kipas angin, akan menambah semilir angin.
Juga tersedia stop kontak, untuk mengisi daya pada gawai supaya senantiasa dapat memantau perkembangan si dia. Juga ada toilet. Pas banget, bagi pejalan kaki maupun pengendara motor yang kehabisan baterai gawai dan ingin buang hajat.
Ditambah lagi dengan sambungan wifi. Bagi Nabsky yang ingin memaknai kesunyian dengan menulis di warkop, lanjut publikasi ke blog, bisa banget. Atau sekadar cari berbagai jenis informasi, wifi warkop bisa diandalkan.
Untuk membuat karya kreatif, misal puisi. Tidak selalu harus di warkop indi. Dimanapun tempat, bisa jadi tempat untuk mencari ide, merenung, dan menuliskan ide-ide ke dalam karya kreatif, misal puisi.
Namun perlu laku khusus untuk melakukan hal itu. Tetapi, bagi yang ingin sekadar healing, warkop wabilkhusus warkop Giras Patimura bisa jadi pilihan.
Ihwal parkiran, tenang. Ada sedikit ruang di jalan untuk sepeda motor, sepeda, maupun mobil. Namun kalau Nabsky ngopinya dikawal barracuda, ya…, tidak bisa, Nabs.
Karena akan mengganggu pengguna Jalan Patimura yang lain. Karena gedung sekolah, bangunan tua, toko, kantor instansi, warung kopi, menghiasi Jalan Patimura.
Kalau Nabsky ingin merasakan nuansa tersendiri menikmati secangkir kopi, sila berkunjung ke warkop Giras Patimura yang berada di dekat Gang Wisma Indah Barat.
Sesekali, cari hiburan, membuat tulisan, atau menulis cecurhatan dalam bentuk puisi, sila ke warkop Giras Patimura, jangan ke pohon-pohon besar, bukan kebahagiaan dan ide yang Nabsky dapat, melainkan “hal lain”. Jangan sampai perbuatan seperti itu, membuat Nabsky, “Sudah jatuh, tertimpa mesin kombi”.
Lagu dj menggema di warkop giras patimura. Jam menunjukkan pukul 01.30 WIB. Dinginnya angin dini hari menusuk ke pori-pori.
Sepeda motor yang awalnya berjajar memanjang, memendek. Daun-daun kering dari pohon tua di depan warkop berguguran. “Srek..srek..srek…”, suara sapu kerik yang digunakan pekerja warkop giras untuk menghapus jejak-jejak dan membersihkan tepi jalan.
“Enek seng ready, Mas?”, ucap seorang pegiat warung kopi yang mengenakan jaket biru dan topi cokelat.
“Si Man, jane ready, tapi mbatang, wqwq”. Ucap seorang pegiat warkop yang melihat pegit warkop lain memejamkan mata dan merebahkan badan di bangku warung kopi.
Berbagai jenis bahasa, logat, dan aktivitas tersaji di warkop Giras Patimura. Jam menunjukkan pukul 02.00 WIB, kemudian saya membayar jasa untuk mengganti secangkir kopi, dan menghidupkan motor kembali.
Untuk melihat sekitaran kabupaten yang konon sebagai lumbung pangan dan energi, Bojonegoro. Karena ada Si Sapi dan Si Kambing yang akan mengakhiri kisah hidupnya.








