Saat tulisan ini dibuat, barangkali ada sebagian kita yang sedang dalam perjalanan untuk pulang ke rumah. Sebagiannya lagi sedang membakar menu bebakaran bersama keluarga, tetangga, teman, sejawat, dan lainnya.
Tidak sedikit pula yang sedang berkerumun di tempat-tempat keramaian. Tentu, bagi sebagian individu, memilih untuk berdiam di kamar sambil menatap layar ataupun telah melabuhkan badan untuk dipeluk lelap. Dan tidak ketinggalan adalah momen refleksi atau muhasabah yang diselenggarakan di tempat-tempat ibadah.
Bilangan tiga-puluh-satu dari bulan Desember menjadi titik akhir dari perjalanan selama setahun. Sekaligus menghantarkan perjalanan-petualangan baru di bentangan 365 hari berikutnya. Akhir tahun adalah titik bagi penggenap memori.
Selain itu juga menjadi koma yang menjembatani ke arah letupan memori-memori baru yang belum terisi. Rentangan tahun yang saling berjalin kelindan adalah titik koma (;) yang saling menyambung sebagai kesatuan dalam rangkaian jumlah bilangan tahun yang majemuk sebagaimana tertulis dalam takdir hidup setiap manusia.
Hidup sebagai Sistem
Kita semua paham dan makrifat bahwa jejaring waktu bertautan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Masa lalu telah selesai menjadi kenangan, masa kini menjadi arena untuk diperjuangkan, sedangkan masa depan adalah arah segala daya, energi, dan momentum digerakkan. Demikian sistem waktu bergerak paralel seiring dengan kehidupan manusia.
Sebagai sebuah sistem, waktu adalah kerangkeng bagi manusia. Jika manusia adalah unsur inti, maka waktu adalah faktor lingkungan yang senantiasa meliputi.
Interaksi dan hubungan timbal balik manusia dengan waktu melahirkan pergeseran dan pergerakan saling mempengaruhi: Waktu mengendalikan manusia atau manusia mengendalikan waktu.
Kedua kondisi ini yang, menurutku, tidak akan ada pemenangnya. Benar, manusia memiliki kehendak bebas melakukan apa pun dan kapan pun, tetapi ujungnya waktu bernama ajal akan memberi batas akhir bagi kebebasan pilihan manusia. Bergantian mengendalikan.
Efektivitas Sistem dan Chaos
Setiap sistem yang ada akan menghasilkan luaran yang optimal jika sistem itu berjalan dengan efektif. Efektivitas sistem bukanlah sekali jadi, namun hasil akumulasi dari mix and match antarvariabel. Efektivitas dalam sistem tidaklah berjalan statis dan monoton. Sebuah sistem akan menghasilkan entropi dan di ujungnya akan muncul anomali dan hilangnya efektivitas. Gotcha, sistemnya failed. Gagal dan rusak.
Kecuali Tuhan, semua sistem di semesta akan mengalami kerusakan dan kegagalan. Berjalannya bisa cepat, tidak terkadang berjakan lambat dan tidak terasa. Sistem kehidupan manusia dengan waktu yang mengikat, juga begitu.
Sistem dibabgun sejak kecil dan remaja, mulai muncul kestabilan saat dewasa awal dan dewasa, kemudian lambat laun mengalami aus saat tua dan renta. Hal semacam ini tidak bisa ditolak.
Meski sistem akan failed, manusia tetap harus mengupayakan kondisi paling efektif agar optimasi kehidupannya tercapai. Manusia selalu memiliki peluang dan tanggung jawab untuk mencari titik ekuilibrium yang pas bagi optimasi kemampuannya.
Baik akal, fisik, dan ruhaninya. Bukan karena pasti akan failed, manusia lantas berpasrah. Penting dicatat, faset manusia mencapai titik optimum/efektif dalam hidupnya itu berbeda-beda. Jangan dibandingkan dan dibuat patokan.
Catatan penting lain dalam sebuah sistem adalah munculnya kondisi acak atau cahos. Kondisi yang tampak tidak berpola dan tidak memiliki keteraturan ini muncul seiring dengan upaya menghadirkan efektivitas dan optimasi. Kehidupan manusia sesungguhnya adalah lahir dari pola-pola yang tampak acak.
Bagiamana keacakan satu sel sperma mampu membuahi sel telur. Bagaimana keacakan pria bertemu dengan wanita dalam pernikahan. Bagaimana keacakan nasib dan misteri kebahagiaan.
Namun, di tengah keacakan itu, manusia bukanlah harus pasrah. Namun sebaliknya, harus bisa mengendalikan. Manusia berpredikat pemenang adalah yang berhasil mengendalikan situasi dan kondisi serba acak atau chaos.
Cara mengebdalikan situasi acak adalah dengan memiliki pengetahuan dan ilmu atas medan ‘perang’. Bukan berpangku tangan, tetapi mengendalikan dengan ilmu dan strategi. Ilmu yang diwujudkan dalam strategi, dua alat pengendali keacakan. Selalu menjadikan ilmu dan ahli ilmu sebagai tempat berkonsultasi.
Perjalanan manusia bersama waktu akan terus berpacu dengan aneka keacakan. Manusia akan bergerak dari satu kondisi acak menuju kondisi acak lainnya.
Satu tahun yang telah terlewat, entah telah berapa banyak kondisi acak yang muncul, baik terselesaikan ataupun tidak. Tahun baru yang akan menjelang, tentu akan senang sekali memberikan trivia berupa keacakan yang serbaacak untuk dikendalikan dan dimenangkan.
Akhir tahun adalah titik, yang memaksa berhenti. Namun juga memberi jeda, koma, untuk melaju kembali dengan percepatan yang lebih terkendali.








