Gunung Jali merupakan Perbukitan Kapur di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang secara literatur, menyimpan jejak Islam damai sebelum bergulirnya era Wali Songo.
Sebelum era Wali Songo, Islam sudah berkembang secara komunal di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, yang dulu dikenal dengan nama Jipang (Bojonegoro). Sudah sejak lama kawasan sungai ini masyhur sebagai lintasan kosmopolit, penghubung pesisir dan pedalaman Jawa.
Hikayat Banjar, literatur Melayu abad 17 M, menyebut Jipang sebagai pintu gerbang masuknya Islam dari pesisir menuju pedalaman Jawa. Nama Jipang tentu tak bisa dipisah dari Gunung Jali, perbukitan kapur di pinggir sungai yang pada abad 14 M silam, menjadi lokasi dakwah Sidi Jamaluddin Husain.
Thomas Raffles dalam History of Java (1817), mempertegas posisi Gunung Jali dengan menyebut keberadaan Syekh Jumadil Kubro di kawasan itu. Raffles menulis sebuah kalimat: “… a devotee who had established himself on Gunung Jali” — seorang Wali yang menetap di Gunung Jali. Raffles juga menyebut, sebelum mendirikan Majelis Wali Songo, Raden Rahmat (Sunan Ampel) bahkan pernah berziarah di bekas lokasi dakwah leluhurnya tersebut.
Syekh Abdurrohman Alfadangi dalam Manuskrip Padangan (1820 M), mencatat kawasan sungai dan perbukitan kapur yang dikenal dengan Tebon ini menggunakan istilah At-Tawwabun, tempat yang sejak lama dihuni masyarakat muslim. Diceritakan bahwa sungai bukan sekadar sumber alam untuk mencukupi kehidupan manusia, namun juga ruang untuk memperkenalkan ajaran Islam.
Pada literatur yang lebih modern, Abdurrohman Wahid (Gus Dur) dalam The Passing Over (1998) menyebut, Islam diperkenalkan di tempat ini oleh figur Sidi Jamaluddin (Syekh Jumadil Kubro). Gus Dur menyebut keberadaan Sidi Jamaluddin di kawasan ini pada paruh pertama abad 14 M —- masa transisi pemerintahan Ratu Tribuana Tungga Dewi (1328 – 1350) menuju Raja Hayam Wuruk (1350-1389).
Baca Juga: Asal-usul Mbah Jumadil Kubro Menurut Catatan Irak, Mesir, dan Pakistan
Gus Dur menceritakan, pada paruh pertama abad 14 M, Sidi Jamaluddin berada di kawasan tersebut untuk membangun inkubasi Islam toleran, dengan mengakomodir ajaran lama (Hindu-Budha Jawa) kedalam ajaran baru (Islam) secara harmonis. Sebab, waktu itu, kawasan Gunung Jali dikenal sebagai pusat peradaban Hindu Budha Jawa, tempat yang dipenuhi para Brahmana Kasaiwan dan Kasogatan.

Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo (2012) menyebut, dalam konteks sejarah Islam, kawasan Gunung Jali memang tak begitu diakomodir narasi kolonial. Kawasan bukit kapur di pinggir sungai purba itu, lebih dibahas dalam konteks mitos. Namun begitu, Agus Sunyoto menyatakan, Gunung Jali merupakan jejak lokasi dakwah Syekh Jumadil Kubro yang tercatat secara literatur.
Bukti Prasasti
Cerita dan tulisan Gus Dur mengenai wilayah Gunung Jali yang kala itu dipenuhi para Brahmana Kasaiwan dan Kasogatan, faktanya terbukti melalui teks prasasti. Gunung Jali merupakan bagian penting dari Naditira Pradeca (pelabuhan sungai). Wilayah ini dicatat Prasasti Naditira Canggu (1358 M) yang dirilis Raja Hayam Wuruk sebagai salah satu pelabuhan utama sungai Majapahit.
Jauh sebelum zaman Majapahit, Gunung Jali juga dibahas dalam Prasasti lebih tua. Yaitu Prasasti Maribong yang dirilis Penguasa Singhasari, Raja Wisnu Wardhana, pada 1246 M. Prasasti Maribong menyebut, kawasan ini dipenuhi para Brahmana yang berjasa besar bagi Jawadwipa. Terutama peran penting mereka dalam menyatukan Jawa Selatan (Panjalu) dan Jawa Utara (Jenggala). Gunung Jali adalah titik penting dalam wilayah Maribong.
Dan jauh sebelum zaman Singashari, kawasan Gunung Jali juga sudah dibahas dalam prasasti jauh lebih tua lagi. Yakni Prasasti Pucangan yang dirilis Penguasa Medang Kahuripan, Raja Airlangga pada 1041 M. Dalam prasasti itu disebutkan bahwa Lwaram, telah menjadi titik pemberhentian sekaligus peredam mahapralaya Jawa. Lwaram merupakan titik yang bersebelahan dengan Maribong, yang artinya, masih berada di kawasan Gunung Jali.
Banyaknya prasasti yang membahas wilayah ini, tentu menunjukan betapa banyak lapisan peradaban yang pernah berada di lintasan sungai dan perbukitan kapur ini. Bahkan jika ditarik pada masa yang jauh lebih awal, lintasan sungai dan bukit kapur ini sudah dikenal sebagai kawasan Telang, pusat perekonomian sungai Jawa pada abad 10 M.
Bukti Arkeologi
Di kawasan Gunung Jali, tak hanya menyimpan ratusan fosil purba dari zaman pra-sejarah. Namun juga banyak menyimpan artefak-artefak peninggalan manusia dari zaman sejarah. Serpihan karupadhani, reruntuhan pemukiman, hingga bermacam keramik cina juga masih banyak ditemui. Bermacam artefak itu kini disimpan di museum.
Pada 2011 silam, sejumlah arkeolog dari Museum 13 Bojonegoro bersama para peneliti dari UGM Jogjakarta menemukan reruntuhan pemukiman di Desa Ngeper Padangan. Berada di tengah hutan KPH Padangan. Dari penelitian itu, para arkeolog menemukan puluhan batu bata dengan panjang 30 cm, lebar 20 cm, dan tebal 10 cm. Selain itu juga kalung dan asesoris era Jawa Kuno. Benda dan asesoris yang ditemukan itu, mengindikasikan era sebelum Islam.
Selain itu, para arkeolog juga menemukan bekas reruntuhan pemukiman kuno beserta guci, kendi, makam kuno, hingga struktur susunan batu bata di Desa Ngelo Margomulyo (di wilayah hutan KPH Padangan). Mereka memastikan temuan itu sebagai bekas pemukiman Islam. Ini didasarkan pada keberadaan asesoris berupa guci persia dan inkripsi tulisan arab.
Penemuan arkeologis di Gunung Jali dan Desa Ngeper Padangan merupakan pemukiman era Hindu-Budha Jawa sebelum kedatangan Islam. Sementara penemuan reruntuhan di Desa Ngelo Margomulyo adalah pemukiman kuno di era Islam. Ini bukti penting bahwa sejak era Majapahit, di kawasan ini sudah ada transformasi peradaban. Baik Ngeper Padangan maupun Ngelo Margomulyo, secara demografi geografis, tak jauh dari lokasi Gunung Jali.
Data di atas menunjukan bahwa ketika Gus Dur menyebut Gunung Jali sebagai pusat para brahmana Kasaiwan dan Kasogatan, tentu bukan dongeng belaka. Namun data empiris yang kebenarannya tercatat pada prasasti dan diperkuat adanya bukti-bukti arkeologi. Hal ini berpengaruh pada metode syiar Sidi Jamaluddin. Sehingga yang dia lakukan bukan sekadar memperkenalkan cara baru, namun membangun inkubasi Sufisme Jawi, dengan lintasan kesabaran waktu yang cukup lama.
Sufisme Jawi
Dakwah Sidi Jamaluddin di kawasan Gunung Jali tentu bukan perkara mudah. Sebab, kawasan ini sudah menjadi wilayah penting secara urut sejak era Medang, Kahuripan, Singhasari, hingga Majapahit. Sehingga, pada abad 14 M, saat Sidi Jamaluddin berada di sana, ia berhadapan langsung dengan para Hajaran Rata (pejabat yang menangani wilayah inti keagamaan) yang tak mudah menerima orang asing.
Diceritakan dalam Hikayat Padangan, di tempat ini Sidi Jamaluddin bertani bersama masyarakat Gunung Jali selama bertahun-tahun. Dari kebersamaan sosial yang cukup lama itu, ia dipercaya membuka kebun dan sawah pertanian yang kelak, secara perlahan-lahan, berkembang menjadi pemukiman muslim.
Kisah Sidi Jamaluddin membuka perkebunan ini sangat masyhur dan kerap diceritakan Gus Dur. Di sinilah tarbiyah yang diajarkan Sidi Jamaluddin melalui keberadaannya di Gunung Jali. Ia berdakwah dengan lelaku (tindakan). Sebab secara logika, para Hajaran Rata tak mungkin menerima bahasa (syariat komunikasi) yang baru, terlebih dibawa orang asing yang dulu status orang asing adalah budak (Mleca).
Sidi Jamaluddin menyadari statusnya sebagai orang asing (Mleca). Karena itu berdakwah dengan laku dan kesopanan. Tak menjauhi budaya lama, tapi mengakomodir dan memeluk untuk membangun keselarasan melalui sinkretisme budaya. Dengan cara itu, ia mampu diterima komunitas yang sebelumnya sudah memegang keyakinan kuat pada ajaran lama.
Klopo Jowo Kurmo Arab — Jowo Temoto Arab Ngetrap (Jawa sudah tertata, dan Arab menyesuaikannya). Klopo Jowo Kurmo Arab merupakan kaidah dan pepatah yang menjadi simbol ajaran-ajaran Sidi Jamaluddin di wilayah Gunung Jali. Pepatah yang terus hidup di dalam dimensi hikayat ini, menunjukan etika sosial-kosmologis yang selalu dipegang teguh para penerus Sidi Jamaluddin kelak di kemudian hari.
Keberadaan ajaran islam sebelum era Wali Songo di Gunung Jali Padangan, bukan sekadar dongeng berbasis dramaturgi pewayangan. Melainkan kronik sejarah yang didukung berbagai data literatur seperti dokumen kolonial, manuskrip, teks prasasti, hingga tentu saja data ilmiah kontemporer berupa hasil penelitian arkeologi.
Majunya Ekonomi
Jauh sebelum kedatangan Sidi Jamaluddin, Gunung Jali sudah masyhur sebagai pusat perputaran ekonomi. Selain dicatat pada tiga dokumen prasasti, hal ini juga dibuktikan dari banyaknya penemuan arkeologi berupa mangkuk Dinasti Tang (618 – 907 M) dan Dinasti Song (960-1279 M), yang secara empiris menggambarkan pesatnya transaksi ekonomi.

Melalui Gunung Jali, Sidi Jamaluddin menanamkan bahwa Islam dibangun bukan hanya dari sisi agama, tapi juga ekonomi. Majunya peradaban harus diikuti kuatnya ekonomi. Sidi Jamaluddin menanamkan visi besar bahwa Islam selalu datang membawa rahmat dan kebermanfaatan, melalui perdagangan dan sumber daya alam. Bale Kambang (pasar perahu) dan pasar tradisional cukup identik dengan Gunung Jali.
Setelah era Sidi Jamaluddin, kawasan Gunung Jali dirawat para penerusnya seperti Patinggi Jipangulu (Wali Jipangulu), Mbah Ngudung (Sunan Jipang), hingga Syekh Nursalim Tegiri. Ketiganya dikenal dengan sebutan Mbah Jimat — istilah semiotik yang identik sebuah proses penjagaan dan perawatan kosmologis. Ketiganya tokoh penerus di atas tak hanya mengajarkan ilmu keagamaan, tapi juga membangun peradaban ekonomi melalui pasar perahu sungai (Pasar Bale Kambang).
Kawah Candradimuka
Kawasan Gunung Jali Tebon, sejauh ini lebih masyhur dari sudut pandang folktale (cerita rakyat). Meski, sesungguhnya, kisah-kisah itu juga dikonfirmasi data literatur. Sumber lokal menyebut, kawasan ini sebagai lokasi tarbiyah (pendidikan) para pemimpin Jawa dari zaman ke zaman.
Kisah-kisah ini jadi semen perekat atas fakta sejarah di kawasan Gunung Jali Padangan. Diceritakan bahwa sejumlah pemimpin Jawa, secara urut, dan berkesinambungan, mulai dari zaman Perjuangan Giyanti (1755 M), Perjuangan Hutan Jati (1810 M), hingga Perang Jawa(1825 M), pernah datang ke Gunung Jali untuk ngalap inspirasi dalam menjaga perdamaian Jawa.
Kiai Wirosentiko (Raden Ronggo I) — Bupati Madiun (1760 – 1784 M) — dan Kiai Tjarangsoko (Raden Malangnegoro I) — Bupati Padangan (1746 – 1752 M) — merupakan para tokoh besar dari Kesultanan Jogjakarta. Keduanya dikisahkan bertabaruk di Gunung Jali Padangan dalam rangka membangun ketenteraman kosmik pada masa Perjuangan Giyanti (1755 M).
Raden Ronggo Madiun (cucu Raden Wirosentiko), Raden Sumonegoro Padangan (cucu Raden Malangnegoro), dan Raden Notowijoyo Panolan, adalah para pejuang Kesultanan Jogjakarta pada masa Perjuangan Hutan Jati (1810 M). Ketiganya juga dikisahkan pernah bertabaruk di Gunung Jali Padangan pada masa Perang Hutan Jati, yang merupakan sumbu ledak dari Perang Jawa di kemudian hari.
Raden Ronggo Madiun adalah ayah dari Sentot Ali Basya, Raden Sumonegoro Padangan adalah mertua dari Kiai Modjo, dan Raden Notowijoyo Panolan adalah mertua dari Pangeran Diponegoro. Maka sebuah keniscayaan ketika pada masa berikutnya, yakni masa Perang Jawa (1825 M), Sentot Ali Basya, Kiai Modjo, hingga Pangeran Diponegoro juga bertabaruk di kawasan Gunung Jali Padangan, melanjutkan tradisi para pendahulu mereka.
Pada masa yang lebih belakangan, Raden Dorojatun (Sultan Hamengku Buwana IX) dan Presiden Pertama Indonesia, Bung Karno, juga dikisahkan bertabaruk di kawasan Gunung Jali pada masa penjajahan Jepang. Dan pada masa yang lebih belakangan, Gus Dur kerap bertabaruk di kawasan Gunung Jali tersebut untuk melanjutkan tradisi para pendahulunya








