Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Asal-usul Syekh Jumadil Kubro Menurut Data Resmi Naqobah Ansab Irak, Mesir, dan Pakistan

Branda Lokamaya by Branda Lokamaya
25/06/2023
in Manuskrip
Asal-usul Syekh Jumadil Kubro Menurut Data Resmi Naqobah Ansab Irak, Mesir, dan Pakistan

Reruntuhan Zawiyah Gunung Jali

Makdum Jumadil Kubro atau Sidi Jamaluddin Husain, merupakan leluhur sejumlah Wali Nusantara. Berikut silsilah dan biografi leluhur Makdum Jumadil Kubro sesuai isbat Naqobah Ansab (lembaga pencatat nasab) di Negara Irak, Mesir, dan Pakistan.

Nama Makdum Jumadil Kubro tercatat secara resmi oleh Naqobah Ansab (lembaga pencatat nasab) internasional sebagai bagian dari keluarga Al Bukhori Al Kazimi Al Husaini. Di antara naqobah yang mencatat nama beliau adalah Naqobah Irak, Mesir, dan Pakistan.

Makdum Jumadil Kubro (Syekh Jumadil Kubro) berasal dari Pakistan. Sementara datuknya berasal dari Uzbekistan. Beliau adalah putra dari Makhdum Mahmudinil Kubro. Namanya tercatat di sejumlah Naqobah Internasional, termasuk Irak, Mesir, hingga India (Pakistan).

Sebelum berdakwah ke Bumi Nusantara, Makdum Jumadil Kubro lahir dan tumbuh di Pakistan (India). Sementara leluhurnya berasal dari Hijaz (Makkah-Madinah) yang bermigrasi ke Irak-Iran, lalu berpindah ke Asia Tengah (Uzbekistan), untuk kemudian berada di India (Pakistan).

Di Pulau Jawa, lokasi dakwah Makdum Jumadil Kubro yang dicatat dalam sejumlah literatur, adalah Zawiyah Gunung Jali Padangan — bukit kapur di pinggir Bengawan, di perbatasan Blora dan Bojonegoro. Sumber literatur yang menyebutkannya: History of Java (1817), Manuskrip Padangan (1820), The Passing Over (1998), hingga Atlas Wali Songo (2012). 

Di kawasan Bojonegoro dan sekitarnya, nama Makdum Jumadil Kubro lebih dikenal dengan Sidi Jamaluddin, seorang figur penyebar Islam yang hidup pada abad 14 M. Dia berada di Gunung Jali Padangan pada periode 1344 M, antara rezim Ratu Tribuwana Tunggadhewi (1328-1350 M) hingga Raja Hayam Wuruk (1350-1389 M).

Di Zawiyah Gunung Jali Padangan, Sidi Jamaluddin tak hanya menyisakan cerita dongeng. Namun juga ajaran-ajaran penting yang menyublim abadi pada corak budaya masyarakat sekitar. Yakni ajaran tentang konsep wasathiyah (sikap toleran) dalam berkehidupan sosial.

Ajaran Sidi Jamaluddin terkait konsep wasathiyah, hidup dalam sejumlah kredo dan kaidah yang terus diingat hingga kini. Yang paling terkenal tentu saja kaidah Klopo Jowo Kurmo Arab, Jowo Temoto Arab Ngetrap (ajaran lama sudah tertata, ajaran baru menyempurnakannya).

Baca Juga: Gunung Jali, Lokasi Dakwah Syekh Jumadil Kubro 

Naqobah Irak, Mesir, dan India (Pakistan) secara resmi mencatat nasab beliau sebagai berikut: Makdum Jumadil Kubro bin Mahmud Nasiruddin (Makhdum Mahmudinil Kubro) bin Jalaluddin Husain  bin Ahmad Kabir bin Husain Jalaluddin al-Bukhori bin Ali bin Jafar bin Muhammad bin Mahmud bin Ahmad bin Abdullah bin Ali Al-Asyqori bin Jafar az-Zaki bin Ali Al-Hadi An-Naqi bin Muhammad At-Taqi Al-Jawad bin Ali Ar-Ridho bin Musa Al-Kazim bin Jafar Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Fatimah Az-Zahra binti Rasulillah SAW.

Pergerakan migrasi leluhur Makdum Jumadil Kubro ini, tercatat dalam sejumlah manuskrip dan data Naqobah Ansab. Tak hanya bersumber dari manuskrip dan data Naqobah, dari penelitian DNA yang diambil dari sampel dzuriyah pun, peta migrasi genetik  menunjukan jalur yang sinkron.

Peta migrasi Leluhur Wali Nusantara

Dari data peta migrasi genetik, secara ilmiah terbukti jika leluhur Makdum Jumadil Kubro berasal dari Hijaz (Makkah-Madinah), lalu bergerak menuju Irak-Iran, bergerak menuju ke Uzbekistan (Asia Tengah), bergerak menuju ke India (Pakistan), lantas kemudian hijrah menuju Nusantara.

Berikut biografi singkat para leluhur Makdum Jumadil Kubro yang semula berasal dari Hijaz, lalu pindah ke Irak-Iran, kemudian hijrah ke Bukhoro (Uzbekistan), untuk selanjutnya berpindah ke India (Pakistan), dan terakhir berjuang ke Tanah Nusantara.

1. Husain Jalaluddin Al Bukhori 

Husain Jalaluddin bin Ali Al Bukhori dilahirkan di Bukhoro (Uzbekistan). Beliau datang ke India bersama dua anaknya yang bernama Ali dan Ja’far. Beliau sosok pertama yang hijrah ke India dari Uzbekistan. Ketika sampai di Bahakkar (Pakistan), ia menikah dengan perempuan setempat yang bernama Zahra. Ketika Zahra meninggal dunia, ia kembali menikah dengan saudari dari istrinya yang bernama Fatimah. Kemudian keluarga ini pindah ke Kota Al Ujj, Pakistan. Dari pernikahan ini, Husain Jalaluddin dikaruniai dua putra bernama Muhammad dan Ahmad.

2. Ahmad bin Husain Jalaluddin

Ahmad bin Husain Jalaluddin dikenal dengan Ahmad Kabir. Ia menikahi perempuan dari Kota Al Ujj yang bernama Huwaid Hatun. Dari pernikahan ini, ia dikaruniai seorang anak bernama Husain. Sepeninggal istrinya, ia menikah lagi dengan perempuan bernama Bibi Hatun. Dari pernikahan kedua ini, ia dikaruniai dua anak bernama Shodruddin Muhammad dan seorang Putri.

3. Husain bin Ahmad Al Ujj

Husain bin Ahmad, juga dikenal dengan nama Makdum Jihaniyan. Beliau memilik 3 istri. Istri pertama adalah putri pamannya yang bernama Muhammad (pernikahan ini dikaruniai anak bernama Nashiruddin Mahmud), istri kedua dari Bangsawan Delhi (pernikahan ini dikaruniai putra bernama Abdullah), istri ketiga perempuan berbangsa Rom (dari pernikahan ini berputra Ali Akbar).

4. Nashiruddin Mahmud

Dalam data Nusantara, nama Nashiruddin Mahmud dikenal dengan Mahmudinil Kubro. Beliau memiliki 3 istri. Dari 3 istri ini, beliau memiliki keturunan sebanyak 25 anak. Di antaranya bernama Jamaluddin. Dalam kitab Bahrul Matholib Fii Ansaabil Abi Tholib, keturunan Mahmudinil Kubro ini disebut secara lengkap sebagai berikut:

Ismail, Alauddin, Syihabuddin, Alamuddin, Abdul Haq, Syarifuddin, Abdul Rozaq, Faizullah, Isa, Sirojuddin, Taifur, Baha’uddin, Makhdum Hamid, Hazrat Burhanuddin, Qutubuddin, Kamaludin, Jalaluddin, Husamuddin, Jamaluddin, Qoyyum, Zainul Abidin, Abdul Wahab, Asadullah, Salahudin, Islam Shah.

5. Jamaluddin Kubro

Makdum Jumadil Kubro atau Sidi Jamaluddin Husain, merupakan ulama yang pernah berdakwah ke berbagai daerah di Nusantara. Ini alasan beliau punya banyak petilasan di berbagai daerah. Namun secara ilmiah, sesuai dawuh Gus Dur, beliau dimakamkan di Tosora, Bugis, Sulawesi Selatan. Jamaluddin alias Jumadil Kubro adalah leluhur para Wali Nusantara (penyebar islam abad 15 M yang kelak menurunkan ulama-ulama Nusantara).

Makdum Jumadil Kubro bergelar Al Bukhori Al Kazhimi Al Husaini. Al Bukhori adalah nisbat leluhurnya, karena berasal dari Bukhoro (Uzbekistan). Al Kazhimi sebagai penanda beliau keturunan Sayyid Musa Al Kazhim. Sementara Al Husaini karena turun dari cucu Nabi Muhammad Saw. yang bernama Sayyid Husain. Makdum Jumadil Kubro adalah ayah dari Maulana Ibrohim Asmaraqandi. Kakek dari Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel). Sekaligus buyut dari Makdum Ibrohim (Sunan Bonang).

Terkait gelar Makdum yang melekat pada Makdum Jumadil Kubro, adalah ciri khas para ulama penyebar islam di Pakistan dan Asia Tengah (Uzbekistan). Sosok pertama bergelar Makdum adalah Sayyid Husain bin Ahmad Al Ujj (Makhdum Jihaniyan), yang tak lain adalah leluhur dari Makdum Jumadil Kubro.

Gelar Makdum juga disandang sejumlah Wali Nusantara. Di antaranya Makdum Asmoroqondi, Makdum Ampel Denta, Maulana Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), Makdum Gunung Jati (Syarif Hidayatullah), dan lainnya. Secara kontekstual, gelar Makdum menunjukan kedekatan ajaran yang dibawa Wali Nusantara dengan tanah asal para leluhurnya (Uzbekistan).

 

**
Sumber Artikel:
1. Hasil Isbat Naqobah Irak, Mesir, dan India (Pakistan)
2. Kitab Nuzhatul Khowatir Wa Bahjatul Masami’ (kitab Al I’lam Biman Fi Tarikhil Hindi Minal A’lam)
3. Kitab Tadzkirotus Saadah Al Bukhoro
4. Kitab Luqotatul ‘Ajlan
5. Kitab Bahrul Matholib Fii Ansaabil Abi Tholib
6. Tulisan R. Tubagus Mugi Nurfadhil (Rabithah Kesultanan Banten)

 

Tags: Makin Tahu IndonesiaNaqobah IndiaNaqobah irakNaqobah MesirSyekh Jumadil Kubro
Previous Post

4 Ulama Bergelar Sunan Gunung Jati yang Wajib Diketahui

Next Post

5 Hal yang Harus Kamu Tahu Sebelum Usia 30 Tahun

BERITA MENARIK LAINNYA

Azimat Rantai Bumi Kasepuhan
Manuskrip

Azimat Rantai Bumi Kasepuhan

21/10/2025
Al-Masalik Wal Mamalik, Catatan Pengembara Arab tentang Negeri Zabaj Al Jawi (3)
Manuskrip

Al-Masalik Wal Mamalik, Catatan Pengembara Arab tentang Negeri Zabaj Al Jawi (3)

24/10/2024
Rihlah Al-Sirafi, Catatan Pengembara Arab tentang Negeri Zabaj Al Jawi (2)
Manuskrip

Rihlah Al-Sirafi, Catatan Pengembara Arab tentang Negeri Zabaj Al Jawi (2)

17/10/2024

Comments 2

  1. amdlucky110 says:
    2 years ago

    Mana ada, di Pakistan gk ada tuh yg lewat Al Bukhori. Jangan bawa2 Naqib2 Pakistan, Iraq, Mesir. Tunjukkan isbatnya, itumah cuma tulisan kamu aja mengatasnamakan Naqobah Pakistan

    Reply
    • Arief says:
      2 years ago

      Kaga ada ilmunya komentar? Belajar bukan komentar, cari tau dengan modal Mu. Dari sumber diatas datangi kantornya.

      Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Pendidikan Indonesia dan Tantangan terhadap Dunia Kerja

Pendidikan Indonesia dan Tantangan terhadap Dunia Kerja

03/05/2026
Hukum atau Senjata?

Hukum atau Senjata?

02/05/2026
May Day 2026: Aliansi Buruh Bojonegoro Desak Negara Hadir Lindungi para Pekerja

May Day 2026: Aliansi Buruh Bojonegoro Desak Negara Hadir Lindungi para Pekerja

01/05/2026
Perubahan Iklim dan Kita Terlambat Lagi

Perubahan Iklim dan Kita Terlambat Lagi

30/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: