Sebelum istilah ngabuburit populer lewat televisi, masyarakat Bojonegoro sudah punya istilah sendiri untuk mendeskripsikan proses nunggu berbuka puasa: Golek Wengi.
Bagi warga Bojonegoro, terutama generasi yang tumbuh remaja pada era 1990 hingga 2010-an, Golek Wengi bukan sekadar aktivitas sore hari. Namun istilah trendy yang menjadi bagian dari suasana Ramadhan itu sendiri — kebiasaan kolektif yang hidup dalam ritme perkampungan, pasar, dan jalanan kota masyarakat urban.
Secara harfiah, Golek berarti mencari; Wengi berarti malam. Namun dalam praktiknya, Golek Wengi bukan berarti sekadar mencari malam secara literal. Istilah Golek Wengi lebih pada ungkapan untuk menggambarkan kegiatan keluyuran menjelang magrib, saat perut mulai terasa lapar dan waktu berbuka masih terasa lama.
Dalam konteks ini, Golek Wengi semacam cara masyarakat Bojonegoro dalam mengisi waktu menuju temaram dengan berjalan, berkumpul, atau sekadar menikmati keramaian sore-jelang-maghrib di Bulan Ramadan. Tentu, sebuah momen yang tak akan ditemukan di bulan-bulan lainnya.
Baca Juga: Mapak Poso, Tradisi Ramadhan Masyarakat Bojonegoro
Dua dekade silam, istilah Golek Wengi masih sangat dikenal di Bojonegoro. Para remaja sampai bapak-bapak muda, mengenal betul istilah yang identik dengan jalan-jalan, naik sepeda, atau nyumet mercon di pinggir jalan sambil menunggu kumandang azan. Istilah ini berangsur hilang pada 2010-an.
”Intinya sederhana, ngenteni magrib bareng-bareng” ungkap Robi Firmansyah, salah seorang warga Bojonegoro, sambil mengenang masa silam.
Robi masih ingat. Pada 2005 silam, dia bersama kawan-kawannya masih membikin undangan buka bersama (bukber) dengan tajuk Golek Wengi. Menurut lelaki yang tinggal di kawasan Padangan Bojonegoro ini, Golek Wengi jadi istilah yang andai dianalogikan pada saat ini, memang mirip ngabuburit.
Sementara Imron Rosyidi, pemuda lainnya, juga punya pengalaman menarik perihal Golek Wengi. Dia ingat beberapa tahun silam, Golek Wengi juga dia lakukan dengan nyumet mercon (adu petasan) untuk sekadar mengisi waktu sore hari. Lelaki tinggal di Tambakrejo Bojonegoro ini mengaku, Golek Wengi menjadi istilah yang hanya muncul pada bulan Ramadhan.
“Golek Wengi identik merconan di pingggir jembatan. Istilah ini hanya muncul saat bulan Ramadhan” kenangnya.
Golek Wengi bukan hanya soal menunggu buka puasa. Namun ruang suasana; jalan-jalan, naik sepeda, nyumet mercon bersama, dan berbagai uborampe yang tak ditemui pada bulan-bulan lainnya. Golek Wengi adalah bentuk kecil tradisi urban-rural Bojonegoro: kota yang tak terlalu besar, tapi cukup banyak menampung lapis kenangan peradaban.

Data Riset Kearifan Lokal dihimpun Jurnaba menyebut, istilah Golek Wengi sudah populer sejak lama. Pada 1980-an, istilah ini identik masyarakat yang duduk-duduk di langgar sembari main catur, pasca darusan (tadarus) bersama. Kegiatan ini dilakukan sembari menunggu maghrib tiba.
Pada medio 1990, Golek Wengi lebih dikenal dengan kegiatan jalan-jalan atau nyumet mercon bersama di sore hari jelang magrib. Baik mercon bumbungan (bambu) atau mercon udara (uncalan busi). Dalam konteks Bojonegoro, war merconan biasa dilakukan di pinggir Bengawan atau di dekat jembatan.
Istilah Golek Wengi perlahan memudar pada era 2010-an. Di antara penyebabnya, dominasi istilah nasional seperti ngabuburit yang masuk lewat televisi. Selain itu, juga disebabkan adanya perubahan gaya hidup. Anak-anak muda saat ini lebih banyak menunggu waktu berbuka dengan bermain gawai.
Golek Wengi identik suasana outdoor. Suasana di luar ruangan. Dari mulai war merconan hingga jalan-jalan, semua dilakukan di luar ruangan. Sementara hari ini, menunggu apapun seolah lebih afdol jika dilakukan di dalam ruangan. Main gawai adalah permainan yang enak dilakukan di dalam ruangan.
Meski kini mulai jarang terdengar, istilah Golek Wengi adalah penanda budaya. Penanda bahwa Bojonegoro selalu punya cara untuk menamai pengalaman batin masyarakatnya. Golek Wengi menyimpan memori kolektif, identitas lokal, dan suasana yang tak bisa sepenuhnya digantikan istilah dari luar. Mengingat Golek Wengi berarti merawat satu fragmen kecil dari sejarah keseharian masyarakat Bojonegoro.
Golek Wengi mungkin tak lagi sepopuler dulu, tapi jejaknya masih hidup dalam ingatan generasi 1990-an—tentang jalan-jalan sore, dan waktu magrib yang terasa lama namun hangat karena dijalani bersama. Karena pada akhirnya, tradisi bukan hanya soal ritual besar, tetapi juga soal istilah-istilah kecil yang menamai kebiasaan sehari-hari.








