Dusun Malangbong rupanya memiliki pesona desa yang luar biasa karena memiliki ciri khas letaknya di tengah hutan terpencil seperti suasana di Kalimantan.
Suasana di daerah ini sangat terjaga. Hutan yang lebat serta masih ditemui monyet jika beruntung menemukannnya.
Jaman sekarang sangat susah sekali menemukan gerombolan monyet di dalam hutan.
Dusun Malangbong terletak di Desa Panjang, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro.
Dusun ini viral dikira di daerah Kalimantan ternyata lokasinya di daerah Jawa Timur.
Kota Bojonegoro dijuluki Kota Minyak karena di Kota inilah adanya penambangan besar Migas di daerah Gayam.
Bojonegoro terkenal dengan sebutan Kota Ledre. Hal ini karena salah satu makanan khas yang terkenal adalah ledre. Daerah Bojonegoro memiliki dataran tinggi yang cukup luas sehingga sangat memungkinkan banyak daerah yang terpencil jauh dari kota.
Orang daerah setempat Malangbong sangat ramah dan baik. Mereka sangat terbuka menerima warga pendatang baru. Bahasa yang mereka gunakan sehari- hari Bahasa Jawa.
Lokasi ini viral karena ada berita bahwasanya sedikit adanya laki-laki dari pada perempuan, tetapi pernyataan ini salah karena didusun ini masih cukup banyak laki-laki dan perempuan.
Namun, kebanyakan masyarakat asli daerah Malangblong yang masih muda memilih untuk merantau bekerja sehingga kebanyakan dominan ketika berkunjung di Malangblong Masyarakat yang tinggal sudah berumur.
Orang asli desa Malangblong kebanyakan merantau sehingga tak jarang ada beberapa rumah sepi.
Keunikan di desa ini rumah warga dominan terbuat berasal dari kayu jati dan model Joglo.
Disana terdapat rumah yang menyimpan kendi tradisional didepan rumah. Kendi yang disimpan digunakan untuk menyimpan air sehingga memudahkan untuk berwudhu dan mencuci tangan kaki.
Lokasi Desa Malangblong jika dilihat dari jauh dari atas diapit oleh 2 bukit dan Lembah. Hal ini membuat desa ini belum terpenuhi akses internet dengan mudah karena disini mengalami susah untuk mendapat jaringan internet.
Warga menerangkan biasanya untuk mendapatkan akses internet yang baik harus menuju puncak karena disana terdapat sebuah gubug yang didirikan sengaja untuk mencari sinyal.
Selain susah sinyal, di daerah Malangblong agak kesusahan terkait air bersih. Warga disana harus turun untuk mengambil mata air. Jarak yang harus ditempuh untuk mengambil air, sekitar ratusan meter hingga 1 km, menambahkan beban warga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Penggunaan kayu sebagai sumber pendapatan utama semakin sulit karena hutan pohon jati yang biasa ditebang dan “dicuri” oleh warga sudah mulai habis. Bahan pangan warga mengandalkan hasil berkebun.
Telur dan daging menjadi barang mewah, dengan sebagian warga hanya mampu mengonsumsinya sekali atau dua kali seminggu.
Beberapa keluarga bahkan harus menahan diri selama sebulan lebih tanpa makan telur.
Kerukunan di desa ini sangat terjaga. Mereka menghadapi keterbatasan dengan sikap penuh keuletan dan keberanian, menjadikan dusun ini sebagai contoh untuk menerapkan hidup sederhana meskipun lokasinya.
Penggunaan kayu sebagai bahan bakar memasak masih menjadi kebiasaan, bahkan dengan tungku kompor berada dalam satu ruangan dengan kandang ternak dan ranjang tidur.
Mata pencarian warga disini mayoritas ialah petani dan peternak. Mereka mayoritas menanam jagung. Petani disini kebanyakan menanam padi, jagung, kacang tanah dan lain sebagainya, sedangkan peternak rata-rata memiliki ayam, kambing, dan sapi.
Sapi merupakan bentuk investasi yang dapat sebagai hewan mahal.
Daerah yang terkenal terpencil tentunya membuat akses menuju desa ini harus dibilang ekstra sabar. Akses jalan menuju ke desa Malangblong cukup terjal.
Jalanan banyak terdapat tikungan.Jalanannya sudah ada yang beton cor permanen dan ada yang telah dipaving, tetapi juga masih ada yang tanah berbatu.
Tentunya tidak akan menghalangi kita sebagai jiwa traveling untuk menjelajah. Semua yang diberikan Tuhan kepada hambanya merupakan sebuah anugerah dan kunci hidup tenang, yakni bersyukur.








