Tinjauan ilmiah situs Santri Songo Jipang.
Pada Kamis Pahing, 9 Mei 2024, kami melakukan survey lokasi Situs Santri Songo dan beberapa situs pendukung yang berada tak jauh dari lokasi utama. Pada pukul 13.00, kami menemui beberapa tokoh desa Jipang, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora. Pak Carik yang sebelumnya ingin menemani survey berhalangan untuk hadir sehingga diwakili oleh Kamituo desa Jipang.
Sebagai gambaran awal, bahwa Situs Santri Songo merupakan situs kuno yang setiap tahun masih dirawat dengan dilakukan ritus Manganan sebanyak tiga kali di area tersebut; awal musim hujan, musim tanam, dan musim panen padi.
Manganan dilakukan sebagaimana acara Slametan, seluruh petani desa berkumpul membawa makanan, yang dipimpin oleh seorang pemuka agama yang memanjatkan doa-doa untuk keselamatan masyarakat, khususnya pada harapan untuk panen yang melimpah.
Situs Santri Songo berada di sebelah Barat Daya situs Gedong Ageng yang lebih terkenal itu, dengan jarak 200m dan berada di atas tanah desa dengan luas sekira 1000 m2. Aksesnya mudah dijangkau dengan jalan sudah dipaving, situs telah dipagari dan memiliki pintu masuk kecil di belah selatan.
Baca Juga: Jejak Ilmiah Bengawan Sore Jipang
Di dalam pagar terdapat sembilan nisan dengan bahan batu candi, dengan motif yang sederhana dan terdapat lingkaran penuh dengan indikasi terdapat inkripsi huruf Arab atau huruf Kawi. Guratan inskripsi sudah sangat aus sehingga sangat sulit untuk dibaca. Oleh warga, nisan ini kemudian ditutup dengan kain putih untuk melindunginya dari kerusakan lebih lanjut.
Walaupun sederhana, beberapa upaya telah dilakukan pihak desa untuk merawat situs ini, termasuk dibuatkan pendopo dan kamar mandi, juga beberapa gazebo, sementara di dalam pagar sudah dipaving, walau menurut kami seharusnya tidak dipaving terlebih dahulu, untuk menjaga kelestarian batu-batu situs di sekitarnya.
Situs Santri Songo pada dasarnya berupa Makam-makam tokoh Islam yang berjumlah Sembilan. Di sana juga terdapat lempeng batu pasujudan. Dari beberapa artefak yang kami temui, mengindikasikan bahwa secara arkeologis-empiris, Makam Santri Songo sezaman dengan Makam Islam Troloyo, Mojokerto, atau berkisar abad ke-14 M.
Sungguh diluar dugaan pada umumnya, ketika mitos yang berkembang di wilayah Blora mengatakan bahwa Santri Songo merupakan tokoh-tokoh Pajang yang terbunuh karena melawan seorang Arya Jipang. Jika Arya Jipang dikatakan sebagai tokoh abad ke-16 M, maka Santri Songo ratusan tahun sudah ada jauh sebelum itu. Selisih 200 tahun periode waktu.

Artefak Santri Songo menjadi pendukung ilmiah keberadaan tokoh Islam abad 14 M yang berada di Jipang, yang dikenal sebagai Syekh Jumadil Kubro dari Gunung Jali. Dapat dikatakan di sini bahwa Santri Songo berada tidak jauh dari Prasasti Maribong (abad ke-13 M), tentang ditasbihkannya desa Merbong, bagian Jipang (watek atagan Jipang) menjadi desa “Sima Swatantra” oleh Raja Wisnuwardhana.
Situs Santri Songo hanya berjarak 30 meter dari bantaran Bengawan Solo, yang pada musim penghujan kemarin mengalami longsor yang cukup parah. Dari bibir sungai kita bisa menyaksikan ke arah Barat adanya lempengan batu padas besar di tengah Bengawan, dan juga desa Payaman (Bojonegoro).
Menurut keterangan dari Kamituo, batu lempeng itu sebenarnya ada dua, kiri dan kanan, tetapi banjir menghanyutkan lempeng yang kiri. Lempengan kiri ini tepat sejajar dengan situs Gedogan Jaran atau disebut sebagai tanah Mbalong, yang berada 100 meter sebelah barat Situs Santri Songo.
Situs Gedogan Jaran sudah tidak lagi terawat dan ditumbuhi pohon bambu yang lebat. Sementara itu di sebelah timur Situs Santri Songo, dengan jarak 300 meter, terdapat lokasi penyeberangan (Tambangan) yang menghubungkan Desa Jipang (Blora) dengan Desa Payaman (Bojonegoro) yang masih bertahan sampai sekarang.
Penyusun : Tim BumiBudaya








