Situs atau makam Kramat Santri di Dusun Judan, Desa Jipang Kecamatan Cepu, jadi pelengkap situs Santri Songo. Keduanya merupakan jejak empiris peradaban islam abad 14 M di wilayah Jipang.
Matahari belum benar-benar tenggelam ketika langkah kaki kami sampai di Dusun Judan, Desa Jipang, Kecamatan Cepu (Kamis, 9 Mei 2024). Di lokasi dekat sungapan Bengawan Sore ini, kami mendapati situs cagar budaya nan masyhur bernama Kramat Santri.
Sumber lokal secara konsensus menyebut, makam yang dikenal dengan nama Kramat Santri ini adalah murid dari Mbah Jimat Tebon. Lokasi Judan dan Tebon memang hanya dipisah aliran Bengawan. Data ini jadi petunjuk kuat betapa pengaruh dakwah Mbah Jimat memang cukup besar di wilayah Jipang.
Mbah Jimat Tebon adalah figur yang disebut Gus Dur dan Raffles sebagai Syekh Jimatdil Kubro dari Gunung Jali Tebon. Data ini sesuai literatur didapat dari The Passing Over yang ditulis Gus Dur (1998), dan diperkuat literatur ilmiah History of Java yang ditulis Thomas Raffles (1817).
Dari data itu, tampak jelas hubungan antara Mbah Jimatdil Kubro (Gunung Jali) dengan Kramat Santri. Terlebih, posisi makam Kramat Santri ada di sisi barat Bengawan. Tepat di seberang makam dan situs Mbah Jimatdil Kubro yang berada di puncak Gunung Jali Tebon.
Kramat Santri melengkapi bukti dakwah Mbah Jimatdil Kubro di wilayah Jipang. Posisi Kramat Santri yang berada di sebelah timur laut situs Santri Songo, juga jadi petunjuk kuat betapa arus genealogi keilmuan islam sudah mengalir kuat di Jipang, sejak abad 14 M.
Nama Dusun Judan, lokasi Kramat Santri, juga memberi informasi. Sumber lokal menyebut, secara toponim, kata Judan berasal dari Sujudan. Tempat bersujud. Dulu, lokasi Kramat Santri ini terdapat lempeng batu pasujudan, sama seperti di lokasi Santri Songo. Sayangnya, batu sujudan itu kini sudah raib ditelan entah.
Baca Juga: Santri Songo Jipang
Di lokasi Kramat Santri juga pernah terdapat Waringin (pohon beringin) besar. Sebuah simbol pusat pertemuan warga. Artinya, di lokasi Kramat Santri banyak artefak terpendam dalam tanah. Bahkan, sumber lokal juga menyebut di lokasi itu pernah terdapat bedug (kentongan) kuno.
Kramat Santri jadi pelengkap Santri Songo. Secara empiris, Kramat Santri dan Santri Songo memiliki satu simpul yang sama. Keduanya bagian dari jejak dakwah Mbah Jimatdil Kubro di wilayah Jipang pada 14 M. Situs Santri Songo dan Kramat Santri memiliki garis koordinat yang berafiliasi dengan Gunung Jali Tebon.
Dalam konteks kebahasaan, istilah Santri Songo dan Kramat Santri, juga membawa informasi penting bahwa mereka tetap menggenggam kaidah Mazilta Tholiban yang artinya selamanya santri. Sebentuk ketakdhiman murid pada Sang Guru.
Secara arkeologis-empiris, terdapat kesamaan struktur situs yang berada di Gunung Jali Tebon, Mesigit Jipang, Santri Songo Jipang, dan Kramat Santri Jipang. Terutama dalam hal jenis dan tekstur batuan yang ada di lokasi. Semua mengindikasikan era abad 14 M.
Data-data ini tentu memperkuat hipotesa Gus Dur tentang dakwah Mbah Jimatdil Kubro di wilayah Jipang. Bahwa secara arkeologis, Mesigit Jipang, Santri Songo Jipang, dan Kramat Santri Jipang memiliki afiliasi ke Gunung Jali Tebon, lokasi dakwah Mbah Jimatdil Kubro.
Jauh sebelum Kesultanan Demak didirikan, islam sudah kuat di Jipang. Ratusan tahun sebelum Arya Penangsang dilahirkan, islam sudah kuat di wilayah Jipang. Titik-titik peradaban islam itulah, yang kelak dilanjutkan Raden Usman Ngudung (Sunan Jipang Panolan) pada periode 1400 M. Data ini sesuai kitab Tarikh Aulia.
Himpunan data di atas menunjukan betapa analisa Gus Dur benar-benar ilmiah. Sebab, dalam bukunya (bahkan dalam pidato-pidatonya), Gus Dur secara tegas menyatakan, peradaban islam di Jipang sudah kuat sejak era Keemasan Majapahit (abad 14 M).
Mesigit Jipang, Santri Songo Jipang, dan Kramat Santri Jipang, adalah bukti dakwah Mbah Jimatdil Kubro di puncak Gunung Jali Tebon. Titik-titik peradaban itu punya satu simpul yang sama. Terbukti secara literatur, arkeologi, dan disinggung sejumlah prasasti (Prasasti Maribong dan Prasasti Canggu).








