Secara literatur dan arkeologis, Jipangulu berjasa besar bagi peradaban Bojonegoro. Ia menjadi hulu (pangkal) dari peradaban yang mengalir hingga hilir.
Bojonegoro yang dulu bernama Jipang, wilayahnya membentang dari Jipang Hulu (Margomulyo) hingga Jipang Hilir (Baureno). Serumpun teritorial yang dilintasi aliran peradaban berupa Bengawan. Dari semua wilayah di Bojonegoro, Jipangulu tercatat sebagai lokasi paling banyak dipenuhi bukti peradaban kuno.
Sejauh ini, belum ada satupun wilayah di Bojonegoro, yang jumlah temuan artefaknya melebihi jumlah penemuan di daerah Jipangulu. Meski, temuan-temuan itu juga banyak yang diganti dan bahkan dihilangkan oleh oknum. Ini tentu empiris dan ilmiah. Berbagai literatur mencatat Jipangulu sebagai pusat artefak kuno. Sejumlah arkeolog kerap mengunjungi Jipangulu untuk melakukan penelitian.
Museum 13 Bojonegoro dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur cukup sering melakukan riset arkeologis di wilayah Jipangulu. Riset dilakukan pada 2023, misalnya, para peneliti masih mengamankan dan mendata sejumlah bukti peradaban kuno.

Kepala sekaligus pendiri Museum 13 Bojonegoro, Heri Nugroho mengatakan, Jipangulu merupakan aset utama bagi mereka yang menghargai nilai-nilai penting kepurbakalaan. Sampai saat ini, menurut Hari, Jipangulu terbukti sebagai wilayah paling banyak terdapat artefak.
“Dibanding semua wilayah di Bojonegoro, Jipangulu ini paling banyak bukti artefaknya” kata Hari (28/5/2024).
Menurut Hari, ratusan benda purbakala itu sudah didata Museum 13 Bojonegoro dan BPCB Jatim. Di antaranya berupa tembikar, logam, guci, hingga keramik Cina. Benda-benda itu ada yang diamankan di museum, ada pula diamankan warga sekitar. Namun, yang paling istimewa tentu reruntuhan bangunan kuno Jipangulu.
Jipangulu dalam Literatur
Seorang Ahli Geologi Belanda, Rogier Verbeek (1845-1926) mencatat, reruntuhan bangunan kuno Jipangulu merupakan struktur khas abad 13 dan 14 M. Reruntuhan bangunan kuno itu spesial karena tak terbuat dari batu andesit layaknya candi. Tapi Batu Putih berpasir Kendeng. Batu lokal khas Jipang yang banyak ditemui di wilayah Sentono, Jipangulu, dan Gunung Jali Tebon.

Pada 1862 M, seorang peneliti Belanda bernama J. F. G. Brumund pernah mengunjungi Jipangulu. Ia melaporkan bahwa di tempat itu ditemui cukup banyak batu bata berukuran besar yang tergeletak di sana. Brumund berasumsi bahwa pada masa lalu, Jipangulu merupakan bagian penting sekaligus pernah jadi lokasi pusat peradaban Jipang.
Sekitar 30 tahun pasca kunjungan Brugmund, tepat pada 1895 M, struktur batu yang pernah dilihat Brumund itu ternyata masih ada. Hal itu menarik perhatian para insinyur Belanda yang melakukan Pengerjaan Bengawan Solo. Para insinyur Belanda ini melaporkan, di hutan jati Jipangulu, tepat di tepi Bengawan, ditemukan sisa bangunan kuno berserakan di permukaan tanah.
Laporan para insinyur itu tercatat dalam surat dari Direktur Departemen Kepegawaian (21 Mei 1895) yang dikutip dalam Notulen Bataviaasch Genootschap 33 (1895) р. 61. Bekas bangunan kuno Jipangulu ini, sebagian digunakan keperluan bangunan proyek sungai yang kala itu sedang dikerjakan.
Sementara Noorduyn (1968), dalam Further Topographical Notes on the Ferry Charter of 1358, mempertegas posisi Jipang dalam Prasasti Canggu (1358), sebagai Jipangulu. Sesuai urutan daftar nomor Piagam Canggu: Marebo (32), Turan (33), Jipang (34), Ngawi (35). Noorduyn menyebut lokasi Jipangulu berada di tengah-tengah antara Turan (Medalem Ngraho) dan Ngawi.

Jipangulu sebagai pusat peradaban, tentu fakta yang sulit terbantahkan. Sebab, tercatat literatur dan dibuktikan secara arkeologis. Keberadaan artefak di Jipangulu, bahkan masih mudah ditemui hingga kini. Maka bukan kebetulan jika Jipangulu disebut sebagai titik hulu (pangkal) peradaban Bojonegoro masa silam.
Secara geografis, posisi Jipangulu menjadi pusat mandala. Jipangulu (Bojonegoro) menyimpul peradaban Goa Sentana (Blora), peradaban Menden (Blora), hingga peradaban Kuwung (Blora). Peradaban Islam di wilayah Goa Sentana, Menden, dan Kuwung, berpusat di Jipangulu.
Kedigdayaan Jipangulu sebagai pusat peradaban islam abad 15 M, bukan sekadar dongeng. Tapi terbukti secara literatur. Ada banyak literatur menyebut dan mencatat Jipangulu sebagai pusat peradaban Islam abad 15 M. Jipangulu menjadi suksesor dakwah Gunung Jali Tebon yang telah dimulai pada abad 14 M.
Mbah Wali Jipangulu
Jipangulu memang jarang dibahas. Terutama peradaban islamnya. Padahal, diakui atau tidak, peradaban Islam Jipangulu banyak disebut literatur. Hikayat Banjar (sumber rujukan penyebaran Islam), secara tegas menulis Jipang sebagai gerbang awal masuknya islam di Pedalaman Jawa (lokasi yang jauh dari pesisir).
Menurut Hikayat Banjar, wilayah Jawa yang pertamakali masuk islam secara komunal adalah Ampel Gading, Jipang, Gresik, Surabaya, Demak, dan Kudus. Baru setelah itu, disusul tempat-tempat di Pedalaman Jawa lainnya. Ini tentu data penting.
Secara literatur, dakwah Islam di wilayah Jipang memang dimulai sejak periode dakwah Syekh Jimatdil Kubro Tebon pada 1334 M (abad 14 M). Setelah era Mbah Jimat Tebon, pusat peradaban Islam di Jipang sempat bergeser sekitar 13 km ke arah selatan, tepatnya di Jipangulu.
Hikayat Banjar secara jelas dan runtut mencatat, di wilayah Jipangulu terdapat figur Panghulu Jipang (Patinggi Jipangulu), tokoh besar penyebar Islam di wilayah Jipang. Mbah Wali Jipangulu ini berdakwah pada abad 15 M, tepat setelah era dakwah Mbah Jimatdil Kubro dari Gunung Jali Tebon.
Secara genealogi keluarga, Patinggi Jipangulu adalah mertua Sunan Ampel. Sebab, dia menikahkan putrinya dengan Sunan Ampel. Namun secara keilmuan, Patinggi Jipangulu adalah santri dari Sunan Ampel. Sebab, ia masuk islam di bawah bimbingan Sunan Ampel. Begitu Hikayat Banjar menceritakan figur bernama Patinggi Jipangulu.
Sesuai literatur Hikayat Banjar, Patinggi Jipangulu menjadi “Wali” nikah dari Sunan Ampel. Sekaligus jadi “Santri” dari Sunan Ampel. Ini alasan kelak, lokasi maqom dakwah Patinggi Jipangulu yang berada di Ngelo Margomulyo, juga dikenal sebagai Makam Wali Santri Jipangulu.

Babad Cirebon (sumber rujukan cerita Penyebaran Islam) juga menyebut figur Patinggi Jipangulu. Menurut Babad Cirebon, putri dari Patinggi Jipangulu yang menikah dengan Sunan Ampel, bernama Nyai Gede Pancuran, yang kelak memiliki dua orang anak. Seorang anak laki-laki (Sunan Bonang) dan seorang anak perempuan (istri Sunan Ngudung).
Sesuai literatur dari Hikayat Banjar dan Babad Cirebon, Sunan Bonang adalah cucu dari Patinggi Jipangulu. Sebab, ibunya merupakan putri dari Patinggi Jipangulu yang menikah dengan Sunan Ampel. Ini alasan utama, kenapa Sunan Bonang berdakwah di Goa Sentono (yang lokasinya berdekatan dengan Jipangulu). Sebab, Sunan Bonang bertabaruk pada sang kakek: Mbah Wali Jipangulu.
Literatur Babad Cirebon juga mencatat bahwa saudara perempuan Sunan Bonang menikah dengan Sunan Ngudung. Sampai pada titik ini, kita semua tahu bahwa Kitab Tarikhul Aulia telah mengabarkan bahwa Raden Utsman Haji (Sunan Ngudung), adalah figur yang berdakwah di wilayah Loram dan Jipang, dengan gelar khidmah Sunan Jipang Panolan.
Jipang (dari Jipang Hulu sampai Jipang Hilir) adalah pusat peradaban islam yang tercatat di berbagai literatur. Menyebut kata “Jipang”, sudah sepantasnya membuat kita mengingat dakwah Mbah Jimatdil Tebon, Mbah Wali Jipangulu, Mbah Kramat Songo, Mbah Kramat Santri, dan tentu saja Mbah Sunan Jipang Panolan (Sunan Ngudung). Itu semua terjadi pada abad 14 M dan 15 M.
Seperti dicatat Babad Cirebon dan Hikayat Banjar, lalu diperkuat History of Java, Tarikhul Aulia, dan Manuskrip Padangan, wilayah Jipang identik sebagai pusat islam. Jipang secara literatur disebut sebagai lokasi Keluarga Wali. Waliyul Amri dan Waliyul Ilmi. Dari Mbah Jimat Tebon, Mbah Wali Jipangulu, hingga Mbah Sunan Ngudung (Sunan Jipang).
Jipang adalah Tanah Brahmana. Sejak era Raja Dyah Baletung, Raja Airlangga hingga Raja Wisnuwardhana, ia hanya bisa dikendalikan Para Brahmana. Dan Para Wali adalah kaum Brahmana Islam. Maka bukan kebetulan jika Gus Dur menegaskan: transisi keyakinan di wilayah Jipang (dari Hindu-Budha ke Islam) terjadi secara damai tanpa perang. Sebab, dilakukan sesama Para Brahmana.
Wallahu A’lam Bishawab.








