Haul Klotok 2024 dilaksanakan di halaman makbaroh Klotok Padangan, diiringi teduh langit yang penuh kesejukan. Matahari seperti tak benar-benar mengeluarkan sengatannya, sementara hujan juga tak benar-benar menurunkan tetesnya.
Suasana sejuk menjadi ciri khas agenda tahunan Haul Klotok. Suasana semacam ini, membentuk ingatan kolektif sebagai Suasana Haul Klotok. Peringatan Haul Syekh Abdurrohman Fiddarinur (Mbah Abdurrohman Klotok) itu, memang menjadi agenda tahunan masyarakat Padangan Bojonegoro.
Tiap tahun, Haul Klotok diperingati pada Jumat terakhir Bulan Besar (Dzulhijjah). Haul Klotok 2024 ini, jatuh pada 4 Juli 2024. Tiap tahunnya, agenda Haul dilaksanakan di Dusun Klotok, Desa Banjarejo Padangan itu, dihadiri peziarah dari berbagai daerah. Khususnya Bojonegoro, Tuban, dan Blora.
Syekh Abdurrohman FiddariNur memiliki nama lengkap Wan Khaji Abdurrohman bin Syahiddin bin Sidi Mrayun (w.1877). Beliau merupakan pendiri Pesantren Klotok, sekaligus ulama peletak dasar jejaring dakwah Islam abad 19 M di wilayah Padangan Bojonegoro.
Jejak dakwah Mbah Abdurrohman Klotok tergurat abadi dalam berbagai karya tulisnya. Mbah Abdurrohman Klotok merupakan ulama yang produktif menulis. Beliau menulis sejumlah judul kitab di berbagai fan keilmuan Islam.

Kitab-kitab itu, beliau tulis antara tahun 1820 M hingga 1870-an M. Mulai kitab fiqih, hadits, tasawuf, aqidah, hingga mushaf Quran. Ini belum termasuk risalah tarikh. Banyak kitab karya beliau yang masih bisa dibaca hingga saat ini.
Karya Mbah Klotok
Di antara karya karangan beliau adalah Kitab At-Tafriq (falaq), Kitab Arbain Padangan (hadits), Kitab Kalimati Syahadah (akidah), Kitab Fadhilatus Shiyam (fiqih), Kitab Fathul Mubin Syarah Ummul Barohin (Akidah), Kitab Fathul Mannan (tasawuf), Kitab Hadits Al Barzanji (hadits), Kitab Fiqih Haji (fiqih), Kitab Hadits Nisfu Syaban (hadits), Kitab Al Muharor, Kamus Amtsilah, hingga Kitab Sanad Thoriqoh.
Mbah Abdurrohman Klotok juga menulis Catatan Perjalanan Haji dan Jaringan ulama Padangan mulai abad 17 M hingga 19 M. Itu belum termasuk risalah-risalah tipis tentang Fiqih dan Suwuk Mujarobat.
Selain itu, Mbah Abdurrohman Klotok juga menulis ulang kitab-kitab karya ulama lain seperti Kitab Maulid Barzanji, Kitab Thulbatu Thullab, Kitab Sanusi, Kitab Fathul Muin, Kitab Umul Barahin Tilmisani, hingga Kitab Safinah an-Najah.
Guru-guru Mbah Klotok
Di antara guru-guru Mbah Abdurrohman Klotok adalah Kiai Syahiddin (ayahnya sendiri). Beliau juga bersanad ilmu pada Syekh Muhammad Jan Al Makki (Makkah), dan Syekh Abdulllah Dahlawi (India). Mbah Abdurrohman Klotok belajar di Makkah di era keulamaan Syekh Dawud Al Fatani dan Syekh Abdushomad Al Palimbani.
Keluarga Mbah Klotok
Mbah Abdurrohman Klotok menikah dengan Nyai Bayyinah Abdurrohman. Beliau tidak memiliki keturunan. Tapi, merawat ketujuh keponakannya. Yaitu, tujuh putra-putri dari saudaranya yang bernama Nyai Syibti Betet (Nyai Syihabuddin).
Nasab Mbah Klotok
Abdurrohman bin Syahiddin bin Sidi Mrayun bin Kiai Anom bin Abdul Jabbar bin Pangeran Abdullah Silarung bin Abdul Halim Tsani bin Abdul Halim Awal (Pangeran Benawa) bin Abdurrohman Hadiwijaya (Joko Tingkir) bin Abdul Aziz (Kebo Kenongo) bin Abdul Fattah (Handayaningrat) bin Ishak Pandoyo (Pangeran Bajul Petak) bin Muhammad Kebungsuwan (Puyang Sutabaris) bin Syekh Jumadil Kubro.
Berkat dakwah Mbah Abdurrohman Klotok, Padangan pada abad 19 M dikenal sebagai FiddariNur atau BiladiNur. Wilayah pencerahan keilmuan islam. Ini terbukti dari banyaknya catatan kitab literatur islam. Di saat yang sama, banyak pula para ulama yang berada di Padangan.








