Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Betapa Sesungguhnya, Hidup itu Seperti Maem Ikan Bandeng

Branda Lokamaya by Branda Lokamaya
13/12/2021
in Cecurhatan
Betapa Sesungguhnya, Hidup itu Seperti Maem Ikan Bandeng

Courtesy: istockphoto

Duri dan daging dalam hidup itu wajib ada. Sebab tanpa duri, ikan bandeng tidak bisa berbentuk ikan. Sedang tanpa daging, ikan bandeng hanya tulang belulang. Keberadaan duri dan daging adalah keniscayaan.

Hidup bukan permintaan, tapi pemberian. Kita tidak pernah meminta dihidupkan. Tapi Tuhan, dengan berbaik hati, mempercayakan pada kita sebuah nyawa. Sekaligus memperkenalkan kita pada berbagai macam keunikan dunia.

Masa kecil tentu masa paling menyenangkan. Tidak ada yang penting selain bermain dan bermain. Sesekali meminta dan meminta. Di masa kecil, frekuensi kekecewaan sangat kecil karena memang tidak ada pengharapan yang teramat besar.

Dan dewasa merebut segalanya. Di tahap inilah, banyak perihal yang tidak sesuai dengan apa yang kita canangkan. Masa dewasa membikin kita mengenal rasa sedih. Mengalami perasaan perih. Hingga sesekali memicu putus asa.

Semua itu, tentu saja, niscaya. Sebab kita sudah memiliki “rencana”. Dan sialnya, tidak semua rencana harus terealisasikan. Pada titik inilah, untuk pertama kalinya, kita mengenal yang namanya kecewa.

Memang, yang membikin masa kecil selalu lebih menyenangkan– sekaligus jadi pembeda utama– dibanding masa dewasa, adalah keberadaan rencana. Sejak mengenal rencana, kita mulai mengenal kegagalan dan kesedihan.

Rencana tidak pernah ada di masa kecil. Setidaknya, tidak ada pengharapan membabi-buta layaknya saat kita sudah dewasa. Kondisi itulah yang kerap membikin hati kita tenteram nan legawa.

Yang menjadikan masa kecil lebih spesial lagi adalah kemampuan melupakan rasa sakit. Sakit hanya dimaknai sebagai fenomena fisik. Tidak ada sedih dan sakit hati yang berlarut-larut. Hari ini sedih, besok bisa langsung berbahagia. Hari ini bertengkar, besoknya sudah bisa saling baikan.

Sayang, sisi buruk kedewasaan merebut kemampuan itu. Merasa sudah dewasa, kita merasa punya kemampuan berlebih dalam mempertahankan kemauan. Sehingga, segala yang tidak sesuai kemauan, wajib direspon sebagai kecewa dan sakit hati.

Padahal, hidup itu seperti saat kita maem ikan bandeng goreng. Saat kita memperhatikan durinya, hampir sekujur ikan itu bakal berisi duri yang menyulitkan dan menjengkelkan dan mengancam tenggorokan.

Tapi saat kita memperhatikan dagingnya, toh duri-duri itu mampu terabaikan begitu saja. Dan kita tetap bisa lahap dengan apa yang seharusnya kita masukkan ke dalam perut.

Nabs, kita memang tidak pernah tahu seberapa jelas perbandingan komposisi duri dan daging pada ikan bandeng. Yang harus kita tahu adalah: selalu ada daging di tiap ikan bandeng goreng. Itu saja.

Begitupun hidup. Jika kita terlalu fokus pada sesuatu yang tidak menyenangkan, kita bakal mendapati banyak perasaan kecewa, sakit hati, hingga perihal pemicu putus asa.

Tapi ketika fokus pada sesuatu yang melegakan, toh banyak hal-hal kecil yang justru memicu rasa bahagia. Masih diberi kesempatan hidup adalah satu-satunya alasan kenapa kita wajib merasa bahagia.

Duri dan daging dalam hidup itu wajib ada. Sebab tanpa duri, ikan bandeng tidak bisa berbentuk ikan. Sedang tanpa daging, ikan bandeng hanya tulang belulang. Keberadaan duri dan daging adalah keniscayaan. Yang harus kita lakukan hanya lebih banyak mengurusi daging daripada mengurusi durinya.

Jika hari ini kita merasa sedih dan sakit hati dan kecewa sekaligus teramat putus asa, coba perhatikan hal-hal kecil. Perhatikan hijaunya rerumputan dan rasakan semilir angin.

Nikmati perjalananmu ke kantor. Perhatikan, seberapa banyak pohon yang menyapamu ketika kamu berangkat dari rumah. Kau tahu, pohon-pohon itu mendoakanmu — mendoakan segala keresahan dan keinginanmu.

Tags: CecurhatanIkan Bandeng
Previous Post

UMKM Bojonegoro-Tuban Bersama-sama Merancang Situs Penjualan Digital

Next Post

PSPK dan EMCL Luncurkan Padipadi Sebagai Platform Pemasaran Digital

BERITA MENARIK LAINNYA

Batu Bara dan Piring Kosong
Cecurhatan

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 
Cecurhatan

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)
Cecurhatan

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Batu Bara dan Piring Kosong

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: