Gunung Pandan merupakan gunung purba pensuplai oksigen dan penyerap karbon. Keberadaannya cukup penting sebagai entitas ekologis penyeimbang ekosistem hidup. Kampanye lingkungan dan riset etnografis dilakukan Pandan Foundation, berupaya membangun kesadaran akan pentingnya ekosistem Pandan bagi masyarakat.
Jarak Kota Bojonegoro hingga Desa Klino — pemukiman terdekat dari lereng Gunung Pandan — sekitar 50 km. Menembus jalanan hutan berkelok naik-turun. Praktis, butuh waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam dari pusat Kota Bojonegoro menuju kawasan ekosistem Gunung Pandan. Kami berangkat dari Kota Bojonegoro cukup pagi sekali (27/12). Sekira pukul 07.30 WIB.
Tak seperti pendakian-pendakian sebelumnya. Pada rihlah-ekologis kali ini, tak banyak yang kami bawa. Kami sengaja membawa bekal seadanya; air mineral, baju flanel, catatan hasil riset, dan satu hal penting: tekad kuat untuk belajar lebih banyak di lapangan. Kami memang tak berniat ngecamp, tapi melakukan pengumpulan data riset etnografis di lapangan.
Pandemi Covid 19 memaksa kami lebih dekat pada alam. Sejak awal 2020, sekitar 5 tahun lalu, kami aktif melakukan riset pustaka terkait ekosistem Gunung Pandan. Sejak itu pula, kami mengumpulkan literatur dan melakukan kajian diskusi yang berporos pada 3 pilar konservasi; biodiversity, geoheritage, serta cultural diversity dalam ekosistem Gunung Pandan.
Pandan Foundation didirikan para dinamisator sosial, pegiat literasi, aktivis lingkungan, dan periset partikelir dalam Lingkar Studi Ngaostik — TELISIK, MAGLIPRO, Front Pembela Alam Semesta (FPAS) — yang sejak 5 tahun terakhir melakukan kajian literatur ekosistem Gunung Pandan. Dari pengumpulan data dan kajian selama sekitar 5 tahun itulah, kami melakukan penelitian etnografis di lapangan.

Pada ekspedisi kali ini, kami fokus mengamati biodiversitas di wilayah Gunung Pandan. Banyaknya tanaman endemik, magma purba, serta bermacam hewan yang hidup di Gunung Pandan, membuat kami kian takjub pada titipan Tuhan berukuran raksasa ini. Sebab, ia masih mau menjadi ruang teduh bagi banyak organisme, meski nasibnya kerab tergadai kepentingan manusia.
Pembina dan Pembimbing Pandan Foundation, Noer Fauzi Rachman PhD, kerap berpesan pada kami agar menjadi etnografer yang lebih peka di lapangan. Sebab, dimensi lapangan selalu memberi lebih banyak data dibanding ruang pustaka. Om Oji — begitu ia biasa kami sapa — juga berpesan pada kami untuk selalu bisa “panen pengetahuan” dari para Mpu di lapangan.
Selain mencatat dan melakukan pengamatan mendalam pada sejumlah objek ekosistem Gunung Pandan, kami juga menemui para Mpu pengetahuan tradisional. Menurut Om Oji, merekalah para profesor sejati yang ditugaskan Tuhan untuk menjaga ekosistem alam, tanpa lewat birokrasi akademik buatan kaum penjajah kolonial.
“Pengamatan kalian harus membawa semangat dekolonisasi pengetahuan” Begitu pesan Dosen Psikologi Lingkungan Universitas Padjadjaran itu kepada kami.
Om Oji menyebut, selama ini ilmu pengetahuan telah dibangun secara kolonialitatif —berbasis penaklukan aset penduduk lokal oleh kaum pendatang— dengan memberi keseragaman istilah latin pada objek, metode, atau konsep hidup masyarakat lokal. Padahal bisa jadi, terdapat istilah asli yang secara nilai, memiliki keluhuran identitas.
Kolonialisasi pengetahuan yang pernah dilakukan para penjajah, kata Om Oji, berdampak pada berkurangnya esensi nilai luhur bangsa Indonesia. Karena itu, harus ada semangat dekolonialisasi pengetahuan, dalam rangka melihat dan menauladani keluhuran tradisi bangsa. Dan semangat dekolonisasi pengetahuan, bisa didapat dengan cara memberi penghargaan pada para Mpu penjaga pengetahuan lokal.

Pandan Foundation berprinsip: mempelajari dan menguasai konsep pemikiran Barat itu penting, sebagai landasan pacu untuk menerbangkan identitas pemikiran tradisional masyarakat Nusantara. Artinya, mempelajari literatur Barat harus dilakukan dalam rangka memuliakan, menghargai, dan menempatkan tradisi keilmuan luhur Nusantara, pada tempat yang semestinya. Think globally act locally!
Kami melihat kebesaran Tuhan melalui ekosistem Gunung Pandan. Banyaknya pohon alami berukuran raksasa, mengingatkan kami pada suasana Kebun Raya Bogor. Bedanya, di Kebun Raya Bogor, pohon-pohon itu diberi tempelan nama latin agar terlihat keren. Sementara pepohonan raksasa di Gunung Pandan, alih-alih diberi nama, mereka bahkan tak dikenali.

Secara ukuran, pepohonan alam di Gunung Pandan lebih besar dibanding pohon di Kebun Raya Bogor. Kami mendata, mencatat, dan memotret pohon-pohon raksasa di Gunung Pandan itu dengan penuh rasa takjub. Sebab, masih mau memberi oksigen pada kami yang kerap lalai akan keberadaan mereka. Karena itu, sebagai penghargaan dan rasa terimakasih, kami ingin memberi label nama dan perkiraan usia pada pepohonan itu, memakai bahasa lokal-tradisional.
Gunung Pandan merupakan puncak Pegunungan Kendeng di Pulau Jawa. Satu-satunya gunung berapi (istirahat) yang berada di baris Pegunungan Kendeng. Secara geologis, Gunung Pandan tergolong Gunung Purba. Bukan kebetulan jika di sepanjang jalur pendakiannya, tersusun rapi batu raksasa, sisa letusan magma purba.
Sebagai Gunung Purba, Pandan menyimpan banyak biodiversitas. Di antara paling khas dari Gunung Pandan adalah Pandan Berduri, setumbuh hayati asli (genuine entity) yang ada di Gunung Pandan. Pandan Berduri berbeda dengan Pandan Wangi. Meski keduanya terdapat di Gunung Pandan, tumbuhan Pandan Berduri lebih identik Gunung Pandan.

Dalam konteks biologi dan klasifikasi taksonomi tumbuhan, Pandan Berduri merupakan genus dari famili Pandanaceae, yang merupakan bagian dari ordo Pandanales. Istilah-istilah buatan sarjana Eropa itu, mengingatkan kami pada figur Bhre Pandansalas, penguasa Gunung Pandan pada periode Majapahit (abad 15 M).
Secara arkeologis-filologis, ekosistem Gunung Pandan membentang sejak abad 10 M. Disinggung Prasasti Pucangan (1041 M), dan diperkuat artefak Pu Sindok (929 – 947 M) yang berada di sekujur lerengnya. Namun, keberadaan jejak sarkofagus, jadi petunjuk khusus bahwa ekosistem Gunung Pandan sudah menjadi pusat peradaban manusia, bahkan sejak Sebelum Masehi.
Rihlah ekologis yang kami lakukan beberapa hari lalu, menjadi gerbang pembuka bagi sejumlah riset etnografis beserta giat-giat advokasi yang akan dilakukan berikutnya. Khususnya dalam membangun atmosfer konservasi di tengah krisis emisi karbon, perubahan iklim, hingga potensi deforestasi.

Bagi kami, Gunung Pandan bukan sekadar lokasi. Tapi spirit mengayomi dan mewadahi. Sebuah semangat memberi tempat bermacam organisme untuk terus memproduksi manfaat bagi manusia. Spirit Pandan tak terbatas di Bojonegoro. Tapi di manapun tempat terdapat oksigennya, spirit Pandan bisa diterapkan.
Karena itu, berbekal konsep Plant, Develop, dan Enhancement; Pandan Foundation berupaya menanam, membangun, dan meningkatkan sebuah nilai, akan kesadaran kolektif pada pentingnya fungsi lingkungan bagi manusia. Khususnya ekosistem lingkungan Gunung Pandan.
Proses penanaman, pembangunan, dan peningkatan sebuah nilai pada kesadaran kolektif ini, telah dan masih sedang kami lakukan melalui bermacam kampanye ekologi, giat advokasi, dan penulisan riset di sejumlah bidang disiplin meliputi biodiversity, geoheritage, serta cultural diversity dalam bimbingan dan lisensi periset senior dari Jogja dan Bogor.








